TNI, Polri Dan Guru

0

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Sahabat pembaca ada satu yang kita lupakan dalam pertahanan negara. Kita hanya konsen pada kekuatan TNI dan Polri. Faktanya kekuatan negara terbaik bukan di TNI dan Polri melainkan ada di para pendidik. Ternyata para pendidik yang memiliki nama profesi guru adalah serdadu yang sebenar-benarnya serdadu.

Pantas Kaisar Jepang saat kalah perang yang pertama ditanyakan bukan tentara. Padahal tentara Jepang adalah tentara paling berani di dunia. Mereka berani mati semua. Terhormat kalau mati, aib kalau hidup tapi kalah. Mengapa Kaisar malah yang ditanyakan kuantitas guru ? Nah ini substansinya!

Ketua PGRI Kota Tasik, Bangbang Hermana mengatakan, “Guru sebaiknya menjadi alat negara bukan alat pemerintah karena pekerjaan guru sesungguhnya mengurusi masalah pertahanan suatu bangsa”. Ini sangat rasional dan sakral. Rasional karena pertahanan negara terbaik adalah generasi bangsa. Sakral karena sangat penting menentukan kekuatan pertahanan negara.

Sahabat pembaca TNI dan Polri identik dengan pekerjaan berbau fisik. Kedaulatan dan ketertiban negara dan masyarakat identik dengan mengamankan fisik negara. Nah potensi non fisik siapa yang harus tangani? Hujat, hoaxs, fitnah, iri, dengki, mentalitas banal. Siapa yang harus “mengamankan”? Tiada lain diantaranya adalah para pendidik. Guru lah yang memiliki pertahanan terhadap serangan non fisik.

Jenderal Moeldoko menyadari betapa potensi guru di negara ini belum dipahami secara utuh. Ia mengatakan hanya guru yang mampu membangun kekuatan bangsa. TNI dan Polri cenderung berfungsi mempertahankan kedaulatan negara dan ketertiban bangsa. Siapa yang menginjeksikan mentalitas kedaulatkan dan ketertibkan bangsa? Faktanya yang paling memungkinkan dan bisa dilakukan adalah oleh guru,

Guru akan mampu secara masif, terstruktur, radikal dan sistematis membentuk pertahanan negara melalui SDM bangsa. SDM bangsa hanya bisa direkayasa mentalitasnya mulai sejak dini. Disinilah pendidikan dasar menjadi paling prioritas membangun mental karakter bangsa. Selanjutnya pendidikan menengah dan tinggi mesti dijadikan injeksi intelektualitas dan vokasionalitas.

Hal radikal apa yang bisa dilakukan? Samakan guru, TNI dan Polri dalam rekrutmen yang ketat. Bila perlu sekolah atau LPTK adalah ikatan dinas. Dibiayai oleh negara dan dijamin masa depannya. Bila perlu pendidikan terbaik untuk generasi terbaik adalah LPTK Ikatan Dinas. Guru diproduksi secara terbatas bukan bebas lepas tanpa batas. Guru adalah pendidik, pengajar dan penjaga ketahanan negara.

Bila hal di atas sulit dan masih tak mungkin, maka lakukan perhatian lebih dan istimewa saat ini kepada para guru. Plus kepada organisasi profesi guru. Mengapa mesti menganakemaskan organisasi profesi guru? Karena organisasi profesi guru lebih tahu apa yang terjadi dalam dunia guru. Dalam dunia organisasi guru beragam dinamika terkait guru dan pendidikan kental terasa. Saatnya organisasi profesi guru lebih diperhatikan. Jadikan atau anggap sebagai organiasi pertahanan negara.

Misal PGRI oleh pemerintah dapat dijadikan “alat negara.” Selain memiliki kekuatan moral intelektual, PGRI pun memiliki kekuatan distrik yang luar biasa. Jumlahnya di setiap daerah lebih banyak dari TNI dan Polri.

Idealnya PGRI “dicaplok” oleh negara sebagai mitra terdepan dalam pertahanan negara. Pemberdayaan PGRI dengan mindset baru. Harus ada kebaruan yang dilakukan pemerintah terhadap PGRI. Manfaatkan PGRI yang awalnya sebagai mitra kementerian pendidikan plus kementerian pertahanan.

Faktanya tidak ada satu pun TNI atau polisi yang saat ini gagah dan cakep tanpa jasa para guru. Semua prajurit, semua jenderal adalah anak didik para guru saat mentalitas dasar mereka dididik di lembaga sekolahan. Guru adalah kontributor pertahanan negara. Negara akan bertahan, kuat, berdaulat bila TNI, Polri dan masyarakat kuat dan berdaulat. Siapa tokoh engginernya ? Tiada lain adalah para guru. Ada dimana para guru? Ada di PGRI.

TNI, Polri dan PGRI satu irama mengusung ke-Indonesiaan dalam pertahanan negara. TNI bukan sivil. Polri adalah sivil. PGRI adalah pencetak sivil non sivil. Keduanya mesti menjadi penanggung jawab pertahanan negara. TNI identik dengan menjaga kedaulatan negara dari gangguan eksternal. Polri penjaga ketertiban dari gangguan internal. PGRI penjaga kedaulatan negara secara moral intelektual dari eksternal dan internal.

Ungkapan “The Man Behind The Gun” adalah sebuah pesan cerdas yang mengatakan bahwa senjata terbaik bukan pistol. Melainkan siapa pemegang pistol. Artinya manusialah senjata terbaik di dunia ini bukan senjatanya. Pertanyaannya, siapa yang mengolah kekuatan manusia sejak anak dan dewasa? Tiada lain adalah para pendidik yakni para guru. Dahsyatkan fungsi guru! Guru menentukan SDM bangsa, apakah sebuah senjata dapat berguna menembak lawan atau malah menembak diri sendiri?

Simpulannya! Guru tidak hanya identik dengan mendidik dan mengajari anak didik. Guru ternyata mampu menjadi “mesin pembunuh” dan penakluk masa depan. Guru mampu menjadi alat pertahanan negara. Wajar bila guru dapat maslahat dan gaji berlipat. Sebagai aparatur pendidik dan sebagai “aparatur” pertahanann negara.

Idealnya ada program terpadu kolaborasi PGRI, TNI dan Polri. Kalau Saya jadi Presiden akan Saya gabungkan kekuatan ini. Hanya kalau. Hanya kalau saja. Setidaknya narasi kalau ini menjadi imajinasi terkait peran dan fungsi guru.

Sejumlah menteri banyak terlahir dari tentara. Sejumlah menteri banyak yang lahir dari Polri. Saatnya di kabinet zaken ada menteri dari PGRI. Ini demi “pertahanan” negara agar lebih mertit dan proporsional. TNI diurus oleh jenderal TNI. Polri diurus oleh jenderal Polri dan guru diurus oleh menteri dari PGRI.