Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Kepala SMAN1 Parungpanjang Dan Ketua PB PGRI)
Sungguh luar biasa Disdik Provinsi Jawa Barat dalam melakukan seleksi BCKS tahun 2020. Disdik Provinsi Jawa Barat melaksanakan “spirit” Juara, Jabar Juara Lahir Batin. Dedi Supandi sebagai Kadisdik Jawa Barat cerdas dan cerdik melakukan inovasi kreatif. Dahoeloe kala rekrutmen BCKS itu terutama jenjang SMA banyak opini negatif publik.
Publik menganggap bahkan dikalangan guru sendiri seleksi BCKS SMA/SMK identik dengan “amplop” sangat tebal. Sebagian menganggap dahoeloe ada seleksi “relasi” yang tertutup. Ada KS ujug-ujug. Ujug-ujug jadi KS. Aneh bin ajaib, abra kadabra. Karena dekat dengan kepala daerah atau orang kuat maka menjadi KS “mendadak dangdut”.
Sekarang Disdik Provinsi Jawa Barat sangat terbuka memperlihatkan para BCKS. Semua BCKS terlihat performanya. Bagaimana BCKS berkata, auranya, pakaiannya dan gaya Ia berbicara terlihat. Nampak sekali video BCKS menunjukan sekilas info akan kualitas dirinya. Auara KS dan kepemimpinannya sekilas dapat terlihat.
Ada ungkapan klasik China yang mengatakan, “Gambar mewakili seribu kata-kata”. Nah kalau video ungkapannya berubah menjadi, “Video mewakili sepuluh ribu kata-kata”. Artinya video BCKS jauh lebih menggambarkan karakter BCKS dibanding hanya foto saja. Apalagi bila dilihat oleh pakar gestur dan misteri masa depan seorang calon pemimpin.
Memang video BCKS tidak jaminan dan tidak menjadi nilai utama. Namun di mata publik video BCKS ini menjadi hal yang disukai dan disetujuinya. Saya akan coba dalami apa manfaat video BCKS sebagai kebaruan di seleksi kepala sekolah Jawa Barat. Ini harus kita refleksi dan dijadikan bahan diskusi yang bermanfaat.
Diantara manfaat video BCKS. Pertama Sang BCKS terlihat ada pengagum dan tidak. Ada yang menyukai dan tidak. Ini bagian dari sisi lain sifat kepemimpinan yang harus banyak disukai para bawahannya, relasi atau publik pada umumnya. Sosok tanpa kharisma dan daya tarik tentu tidak baik bagi kepemimpinan. Kepemimpinan yang garing, kaku dan formalistik tentu tidak efektif.
Kedua Sang BCKS terlihat mampu membangun trust singkat, sekilas dari video yang Ia tayangkan. Apalagi bila Ia diberi waktu cukup untuk berkomunikasi langsung dengan hangat, semangat dan “menyengat” terkait tata kelola satuan pendidikan. Sekarang era komunikasi, IT dan transparansi. Seorang pemimpin harus cerdik dan efektif berkomunikasi. Durasi satu menit benar-benar harus efektif menjelasakan siapa BCKS pada publik.
Ketiga video BCKS pun memperlihatkan tuntutan 4M yakni sebuah prinsip kepemimpinan yang harus dimiliki para kepala sekolah. 4M adalah 1) mempengaruhi, 2) menggerakan, 3) mengembangkan, dan 4) memberdayakan. Tuntutan empat kepemimpinan kepala sekolah ini dalam video singkat sedikit terjelaskan. Bukankah yang like, subscribe adalah diantara orang yang terimbas dari pengaruh, tergerakan, pengembangan dan terberdayakan ?
Sang pemimpin adalah Sang Influencer juga. Influencer adalah cerminan dari seseorang yang dianggap memiliki potensi mempengaruhi orang lain. Jumlah penonton, like, subscribe bahkan dislike adalah hasil pengaruh tayangan satu menit yang menentukan. Sosok pemimpin terkait influencer. Ia harus menjadi seseorang yang efektif mempengaruhi orang lain.
Ajakan, informasi dan sosialisasi pendidikan jauh akan lebih efektif oleh orang-orang yang influenis. Apalagi era dunia maya, dibutuhkan orang-orang yang punya daya sosialisasi sesuatu dengan efektif. Informasi jauh akan lebih efektif disampaikan oleh orang yang memesona, beken dan punya aura kepemimpinan. Proklamasi kemerdekaan Indonesia bila tidak dibacakan Bung Karno tidak akan efektif dan diragukan.
Selamat untuk para BCKS dan sukses selalu untuk Disdik Jawa Barat yang memperlihatkan makin juara. Proses rekrutmen yang juara dan diketahui publik adalah wow. Potensi, prestasi manajerial calon, serta hal positif penambah nilai kepemimpinan lainnya dapat menjadi pertimbangan.
Sebagai masukan, setidaknya ada dua nilai yang masih belum “terkemot” dalam buku panduan BCK. Pertama calon aktivis organisasi profesi guru (PGRI) dari jenjang kecamatan sampai PGRI pusat harus diberi nilai tambah. Kedua kepengurusan MGMP tidak harus jenjang MGMP provinsi karena MGMP jauh lebih hidup di tingkat kokab. Pada dasarnya MGMP provinsi itu hanya koordinasi, bahkan tidak ada MGMP nasional.
Selamat berjuangan para BCKS, selamat memilih yang terbaik bagi Disdik Provinsi Jawa Barat. Ikhtiar dan proses yang baik tidak menipu. Begitu pun dunia kepala sekolah akan lebih baik dari waktu ke waktu. BCKS tahun 2020 ini adalah gelombang ke dua BCKS era Ridwan Kamil yang kompetitif dan transparan.
Sebelumnya pun tahun 2019 sangat kompetitif. Tahun 2019 dari 997 BCK hanya diterim 69 orang. Tahun ini ada 280an yang bakal diterima dari sekitar 1100an pendaftar. Tahun ini seleksi lebih “sulit” tapi formasi jauh lebih longgar dan mudah. Jabar Juara dari proses juara !













