OPINI/Artikel

Sanitasi Lebih Penting Dari Kantin Sekolah

adminsigiku.com
×

Sanitasi Lebih Penting Dari Kantin Sekolah

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Kepala SMAN1 Parungpanjang)

Saat Saya mendapat beasiswa CPD di Australia nampak sekali kantin sekolah tidak seramai kantin di sekolah kita. Terlihat sepi dan kurang diminati. Mengapa? Karena anak didik membawa makanan dan minuman yang disediakan orangtua dari rumahnya.

Kantin sekolah memang bermanfaat namun tak sepenting dan seutama sanitasi sekolah. Semisal toilet dan wastafel di sekolahan. ini sangat penting. Direktorat SMA telah memberikan bantuan pada 381 sekolahan di Indonesia. Ini sangat kontributif dan sesuai kebutuhan sekolah.

Ratusan sekolah merasa mendapatkan “berkah” dan “pertolongan” dari Direktorat SMA. Sungguh sanitasi bagi sekolahan lebih penting dari kantin sekolah. Bila anak didik mau “berkepentingan” tanpa fasilitas sanitasi yang baik bisa bermasalah. Makanan setiap anak bisa bawa, namun terkait sanitasi tak bisa dibawa dari rumah.

Kepentingan sanitasi sekolah sangat utama dan strategis. Bahkan bila kita ingin melihat wajah sekolah dan karakter warga sekolah bisa dilihat dari sanitasinya. Sanitasi sehat menunjukan sekolah sehat dan ada pendidikan karakter yang sehat di dalamnya.

Anak didik terbiasa membawa makanan dan minuman ke sekolah adalah baik. Walau tentu ini akan mjenjadi “musuh” entitas kantiner sekolah. Kantin menjadi sepi karena anak lebih sehat dengan membawa makanan sendiri.

Bahkan makanan yang dibawa anak didik ke sekolah itu adalah makanan dan minuman “sakral”. Mengapa? Karena makanan dan minuman itu biasanya disiapkan oleh orangtua (Sang Ibu). Makanan dan minuman yang diberikan dan disiapkan oleh Sang Ibu tentu dengan doanya. Ada energi do’a dalam makanan dan minuman yang disediakan Sang Ibu.

Kembali pada sanitasi sekolah betapa pentingnya dan betapa dibutuhkannya oleh warga sekolah. Melebihi kebutuhan kantin sekolah dan fasilitas lainnya. Direktorat SMA yang sudah menebarkan bantuannya pada ratusan sekolah sungguh mulia. Semoga Direktorat SMA terus memberikan bantuan terkait sanitasi sekolah, bahkan fasilitas infarstruktur lainnya.

Fasilitas atau infrastruktur pendidikan yang menyentuh langsung kepentingan anak didik adalah utama. Terutama di sekolah pinggiran dan sekolah perbatasan harus lebih didahulukan. Mengapa? Karena biasanya kurang terpantau dan kurang mendapat perhatian asbab jauh dari jangkauan pemerintah.

Sekolah pinggiran, sekolah pedesaan, sekolah perbatasan dan sejumlah sekolah yang terisolir karena berbagai kendala harus diutamakan pembangunannya. Wajah sekolah pedesaan dan pinggiran harus lebih baik atau setidaknya sejajar dengan sekolah kota. Bila tidak maka “jomblangisasi” fasilitas sekolah akan makin mengangnga.

Plus sekolah negeri, terutama yang belum punya bangunan wajib segera dibangun. Jangan sampai sekolah kota favorit terus diperhatikan dan mendapatkan kunjungan dari sejumlah pejabat tapi sekolah pinggiran dan sekolah negeri yang belum punya bangunan seolah terlupakan.

Konsep Presiden Jokowi “bergerak dari pinggiran, membangun dari desa ke kota” harus menjadi dasar gerakan pembangunan kita. Ibarat “teori” makan bubur, mulai dari pinggir lalu ke tengah (kota). Selama membangun infrastruktur itu selalu “mengkota” tidak “meminggir” atau “mendesa” maka selama itu pula akan ada masalah dengan aksesibilitas pendidikan.

Bisa jadi lambatnya upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional diantaranya karena pembangunan fasilitas pendidikan selalu dengan gaya lama yakni mengutamakan sekolah kota. Sekolah kota utamakan layanan karakter dan sekolah pinggiran utamakan layanan fasilitas dahulu.

Kehadiran “pertolongan” Direktorat SMA terkait sanitasi di sejumlah sekolah pinggiran telah menjadi upaya yang sangat positif. Dengan adanya bantuan dari Direktorat SMA seolah “negara hadir” pada kepentingan anak didik dan sejumlah sekolah pinggiran. Faktanya makin pinggiran makin butuh “pertolongan” dari negara.

Di tahun 2013 dalam Koran Pikiran Rakyat Saya menulis terkait sukses Kurikulum 2013 dapat dilihat dari dimensi sanitasi yakni terkait toilet sekolah. Bila toiletnya sehat, bersih, rapih dan cukup, maka anak didik akan terbawa lebih sehat dan berkarakter. Tidak ada sekolah berprestasi dan sehat dengan sanitasi yang buruk.