Oleh : Dr.Dudung Nurullah Koswara,M.Pd
(Kepala SMAN Penggerak Angkatan 1)
Saya ucapkan terimakasih Mas Menteri, Nadiem Makrim. Berkat Merdeka Belajar lahir ANBK yang “melenyapkan” UN sebuah kisah buram asesmen pendidikan nasional kita. Masa UN dahoeloe anak didik kita masuk dalam sisi gelap ketidakjujuran yang sangat sistemik. Kementerian pendidikan saat itu “bertanggung jawab” atas Gerandongisasi anak didik.
Mengapa Saya sebut Gerandongisasi anak didik ? Karena saat itu lulusan UN mayoritas terkena mental ketidakjujuran yang “menghitamkan” wajah mental anak didik kita. Hadirnya IIUN adalah sebuah penegasan bahwa UN kita saat itu sangat bermasalah, dilihat dari indeks integritasnya. Padahal integritas lebih utama dari intelektualitas.
Saat ini ANBK menggantikan UN yang dulu menggerandongisasi anak. Kini hadir ANBK memberi sisi lain yang disambut anak lebih baik. Sejumlah anak Saya wawancara, mereka menjawab asyik dan bermanfaat mengikuti ANBK walau ada sejumlah soal yang membuat mereka harus berpikir serius untuk menjawab.
Sejumlah anak didik merasa dilibatkan dalam belajar naratif, numerik dan afektif. Terutama sisi afeksi mereka banyak ditanya bagaimana sikap mereka saat menemukan sejumlah realitas yang membutuhkan sikap bijak, toleran dan adil. Asesmen survei karakter telah memberikan pembelajaran yang bermanfaat bagi mereka.
Nilai-nilai Pancasila di setiap satuan pendidikan akan terpotret dalam hasil jawaban setiap anak didik dalam survei karakter. Tentu setiap satuan pendidikan, daerah dan wilayah tertentu tidak akan sama persis nilai-nilai Pancasila yang berkembang di setiap satuan pendidikan. Guru dan anak didik akan memberi jawaban variatif dalam survei karakter dan survei lingkungan belajar.
Adakah guru yang intoleran? Adakah anak didik yang suka membuli ? Adakah kepala sekolah yang anti Pancasila ? Riak dan bayang-bayangnya akan ternarasikan dalam jawaban yang telah diberikan para guru, kepala sekolah dan anak didik.
Tidak menutup kemungkinan masih ada guru, kepala sekolah dan anak didik yang menganggap tidak penting ideologi negara, bendera merah putih dan kepercayaan agama lain. Perspektif dan cara hidup keseharian yang anti Pancasila akan terlihat dalam berbagai bentuk.
Nadiem Makarim adalah Menteri milenial yang hadir dari zamannya. Tentu Ia pun memiliki kekurangan namun tentu Ia pun memiliki kielebihan berdasarkan jiwa zamannya. Kehadiran Nadiem Makarin disejumlah pihak dianggap tidak lahir dari dunia pendidikan.
Nadiem Makarim diragukan mampu membawa perubahan lebih baik pada dunia pendidikan kita. Namun disisi lain Nadiem pun menjelaskan bahwa dunia pendidikan kita puluhan tahun belum ada kemajuan signifikan. Terutama dalam dimensi literasi, numerasi dan karakter.
Kemampuan kognitif dan non kognitif era Nadiem Makarim terlihat dipacu. Terutama hadirnya target profile pelajar Pancasila. Pelajar Pancasila kelak akan menjadi warga bangsa yang Pancasilais. Minus intoleransi, anti keragaman dan menguatkan karakter berbasis kebangsaan. Pelajar berakhlak mulia, kritis, gotong royong, kreatif, memahami keragaman dan mandiri menjadi target.
Terima kasih Mas Menteri. Semoga generasi UN yang dulu membawa nilai-nilai Gerandongis berubah menjadi generasi Pancasilais. Indonesia akan jaya bila dibangun sesuai kepribadiannya.
Indonesia bukan Amerika, China, Arab atau Afrika. Indonesia adalah Indonesia. Sebuah negara bangsa yang nilai-nilai kenusantaraannya kental. Pancasila adalah dasar negara yang cocok dari keragaman bangsa Nusantara yang unik.











