Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd
(Praktisi Pendidikan)
Ungkapan “Berakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian” nampaknya bisa dikaitkan dengan sosok Fadjroel Rachman saat ini. Dahulu Ia bersakit-sakit di penjara dan didiskriminasi tiada henti zaman Soeharto. Dari penjara ke penjara Ia alami. Diskriminasi dan asasinasi adalah masa lalunya yang kelam.
Penjara Nusakambangan adalah diantara saksi dimana Ia menderita karena memperjuangkan sebuah nilai-nilai kebenaran. Kini Ia menjadi Duta Besar RI untuk Kazakhstan merangkap Republik Tajikistan. Ia juga Komisaris PT Waskita Karya (Persero) Tbk.
Bagai pepatah di atas, sakit-sakit dahulu, senang kemudian. Walau pun menjadi Duta Besar bukanlah sebuah kesenangan dan bersantai ria. Melainkan membawa amanah kehormatan negara Republik Indonesia di negera lain. Bagian dari tugas negara yang tidak ringan.
Namun saat berada di Nusakambangan dengan saat kini berada di Kazakhstan adalah dua hal yang sangat berbeda. Dulu dihinakan secara politik oleh rejim Soeharto. Kini dimuliakan secara karir oleh rejim Jokowi. Dahulu hampir tidak ada yang berani melawan politik Suharto. Bisa “diamankan” dan hilang entah kemana.
Sosok Fadjroel Rachman adalah pribadi berkarakter dan “nekat” melakukan perlawan politik pada rejim yang tanpa batas berkuasa. Bila saat ini ada sejumlah orang pemberani melakukan perlawanan politik pada Jokowi beda dengan saat zaman Soeharto. Hanya beberapa orang yang berani saat itu.
Allah maha mengatur perjalanan hidup seseorang. Fadjroel Rachman dari Nusakambangan ke Kazakhstan, bukanlah kisah sederhana. Sebuah kisah hidup seseorang yang awalnya penuh luka, duka dan nestapa saat berjuang menegakan sebuah idealisme.
Dahulu Fadjroel Rachman pernah mencalonkan diri sebagai Presiden. Sebuah modus “perlawan politik”. Ia bukan benar-benar mencalonkan diri ingin menjadi Presiden RI melainkan ingin memberi “pembelajaran” pada publik bahwa Suharto harus dilawan! Kini Ia malah menjadi “Presiden RI” di Kazakhstan.
Menjadi Duta Besar adalah menjadi “Presiden” mewakili negara Republik Indonesia. Tidak sedikit orang yang nyinyir pada Fadjroel Rachman. Banyak yang mengatakan “Dulu kritis, kini duduk manis”. Sebuah pernyataan yang wajar dari publik yang mengaguminya. Namun publik lupa bahwa kini Fadjroel Rachman adalah bagian dari pemerintah.
Masa menderita diintimidasi dan dipenjarakan oleh rejim adalah kisah masa lalu Fadjroel Rachman. Apakah kini Ia harus seperti doeloe melawan pemerintah? Tentu tidak! Keberanian Fadjroel Rachman sangat teruji “melawan” Suharto. Seorang pemimpin otoriter yang sangat kuat pada zamannya.
Kini, menyerang Jokowi sekaliber Rocky Gerung, Nenek Warisman tentu tak seseram dahulu. Kini era politik lebih demokratis, bahkan dunia medsos begitu terbuka menyalurkan kritik. Orang lebih bebas mengkritik. Kisah Fadjroel Rachman dari Nusakambangan ke Kazakhstan adalah sebuah perjalanan hidup yang tak mudah.
Kadang orang hanya melihat enaknya saja. Termasuk seolah Fadjroel Rachman enak-enakan saja saat ini dengan karir cemerlang. Lupa bahwa Ia dahulu dari penjara ke penjara. Untung masih hidup dan bisa bertahan sampai lepasnya era orde baru.
Saya sepintas bertemu sosok Fadjoel Rachman saat di Rumah Perubahan Prof. Rhenald Kasali. Ia sosok yang sangat sederhana dan jauh dari sombong. Deritanya di penjara dan didiskriminasi saat rejim Suharto mungkin membuatnya lebih merefleksi pentinya menjadi orang yang humanis. Selamat berjuang Bung Fadjroel!











