Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidiikan)
Tulisan berikut adalah tulisan afirmatif dan optimis. Bila sebuah tulisan membawa pesan nyinyir, pesimis dan suudhon tentu tak positif dalam dunia literasi. Apalagi selalu suudhon pada pemerintah yang sah. Tulisan berikut akan mengapresiasi Program Sekolah Penggerak (PSP), Ibu Kota Negara (IKN) dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Indonesia adalah sebuah negara “terbesar” di dunia dalam ukuran keragaman bahasa, adat istiadat, jumlah nusa (kepulauan), jumlah agama dan jumlah penganut agama Islam. Ini sebuah potensi luar biasa bila terkelola dengan baik. Bila tidak terkelola tentu akan jadi soalan serius kebangsaan sampai ke masa depan atau masa akhir kebangsaan.
Pertama terkait PSP. PSP adalah sebuah program cerdas pemerintah melalui Kementrian Pendidikan Kebudayaan Ristek untuk mempersiapakan masyarakat masa depan yang memiliki mental Pancasilais. Bukan mental Arabik, Baratik atau pun Chinatik. Mental Pancasilais adalah modal mental masa depan bangsa Indonesia yang sesuai kepribadian kebangsaan kita.
Pribadi ke Arab-Araban, ke Barat Baratan atau ke China Chinaan tentu tak cocok. Maka PSP adalah program jenius yang mencoba memberikan solusi pada masa depan kebangsaan kita yang rawan pertengkaran dan disintegrasi kebangsaan. Terutama entitas lugu masyarakat kita dengan sumbu yang pendek mudah menghakimi pihak lain dan merasa paling benar.
“Ajaran PSP” membawa spirit akhlak mulia berketuhanan dengan baik dan berkebangsaan dengan harmoni. Program PSP berupaya menghadirkan masyarakat masa depan yang unggul berkarakter Pancasila. Ini sangat cocok dengan masa depan kebangsaan Indonesia. Para pendiri bangsa adalah “orangtua kita” yang tahu persis bagaimana bangsa Indonesia lahir dan dibesarkan.
PSP mengupayakan lahirnya karakter genuine bangsa kita yang unggul, berkarakter Pancasilais. Masa depan bangsa itu bukan di kekuatan tentara, luasnya negara, jumlah penduduk atau alamnya yang kaya. Melainkan ada di kekuatan SDM. SDM itu adanya di kemampuan saat ini dunia sekolahan “mengengginer” anak didik dengan mental Pancasilais. Soft skill dan hard skill terbaik buah layanan pelaksanaan PSP adalah utama.
Kedua terkait IKN (Ibu Kota Negara) Nusantara yang sa’at ini sangat kontroversial. Terutama disuarakan oleh kelompok kritis atau kelompok oposisi. Ini sah-sah saja sebagai kritik dan kode keras pada pemerintah agar hati-hati dan lakukan setiap keputusan dengan baik dan benar sesuai aspirasi dominan publik. Sebagai penulis, sekali lagi Saya tidak akan pesimis dan menghakimi tetapi mengapresiasi.
Luar biasa Pak Jokowi dengan gagasan pindah Ibu Kota Negara (IKN) menjadi IKN Nusantara. Ini satu lompatan berani dan tak bisa dilakukan sejumlah Presiden RI sebelumnya. Jokowi memang layak disebut “Joko Wow” bukan “Jokodok” sebagaimana diteriak-teriaki Sang Penceramah Kondang yang enerjik. Walau saat ini enerjikisnya tidak terlihat lagi.
Memindahkan Ibu Kota Negara adalah sebuah gagasan visioner dan bisa membuat sejumlah orang lain klenger. Mengapa ? Pemindahan Ibu Kota Negara adalah sebuah eksekusi “gila” apalagi di era pandemi. Ini sudah masuk tataran eksekusi, bukan gagasan lagi seperti gagasan Presiden sebelumnya, ngendap di gagasan.
Lebaynya, kelak Presiden RI yang paling dikenal dalam sejarah Indonesia hanya dua. Pertama Presiden Bung Karno dengan Ibu Kota Negara di Jakarta. Kedua Presiden Jokowi dengan Ibu Kota Negara di Penajam. Bedanya satu Presiden penyuka perempuan cantik dan satu lagi penyuka kesederhanaan. Ini karakter “Bapak Kita” tercatat dalam sejarah.
DKI Jakarta yang kondisinya sudah jenuh, jelimet, tak sehat lagi dan tak pantas lagi jadi Ibu Kota Negara. Ibu Kota Negara dengan nama Nusantara di “Benua” Kalimantan sangat cocok, sebagai sebuah gerakan “membangun dari pinggiran”. Saatnya DKI Jakarta ditinggalkan karena sudah tidak kondusif untuk suksesnya pemerintahan.
Ketiga NKRI. Sangat familier di telinga kita “NKRI harga Mati!”. Ungkapan ini tentu tidak sembarangan, menjelaskan NKRI tidak boleh diganggu gugat, digugat ganggu dengan alternatif lain. Indonesia bukan Arab, Barat atau China tapi orang Arab, Barat, China bisa hidup di negeri ini dengan baik dalam rumah NKRI. Simbol-simbol non NKRI atau alternatif tatanegara lainnya tak cocok.
NKRI substansinya adalah kesatuan. Nabi Muhammad saja mengutamakan kesatuan, persatuan dan persaudaraan. KH Buya Syakur menjelaskan “ibadah” istimewa seorang muslim adalah menjung jung tinggi kesatuan dan persatuan sebuah kebangsaan. Apalagi di sebuah bangsa yang ragam kompleksitas dan budayanya luar biasa kaya. NKRI harga sukses. PSP, IKN dan NKRI adalah wow untuk masa depan.











