Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)
Mudik bisa kita artikan pulang kampung di momen hari raya Idul Fitri. Merayakan hari raya di kampung halaman, bertemu kedua orangtua, saudara, tetangga bahkan mantan pacar adalah sesuatu bangetz. Tidaklah heran pulang kampung untuk mudik adalah godaan yang luar biasa. Macet, jauh, biaya dan keterbatasan lainnya kadang diabaikan demi mudik.
Nah yang Saya gambarkan di atas adalah mudik mainstream. Ada satu mudik yang terlupakan, khusus bagi entitas ASN di negeri ini. Mudik etika, apa itu mudik etika? Mudik kembali ke kampung dedikasi sebagai ASN yang pro pemerintah dan membantu pemerintah dalam memberikan layanan publik. Bukan malah “menggigit” pemerintah dan nyinyir pada pemerintah.
Para ASN menurut Caca Danuwijaya seorang mahasiswa kandidat doktor pendidikan sangat harus bersyukur dan punya etika ASN. Ia mengatakan ASN saat mau pulang dapat THR dari pemerintah dan saat balik lagi dapat gaji ke 13. THR dan gaji utuh tanpa potongan bank dan potongan lainnya. Bagi Caca Danuwijaya, sepakat dengan Rhoma Irama menyatakan “terlalu” bila ASN tetap nyinyir dan tidak terlontar terimakasih.
Khusus pada Presiden Jokowi, Caca Danuwijaya mengatakan terimakasih. Mengapa? Karena hanya di jaman Presiden Jokowi ada THR bagi keluarga ASN dan pensiunan. Caca Danuwijaya sebagai calon doktor tentu punya sudut pandang tersendiri dalam melihat realitas ASN di negeri ini. Bagi Caca Danuwijaya saatnya ASN “Mudik” seirama dengan pemerintah, lebih menguatkan dedikasi, prestasi dan menebarkan informasi positif versi pemerintah.
Entitas ASN bagi Caca Danuwijaya harus “mudik”, plus harus menguatkan nilai-nilai keagamaan atau keislaman diri. Nilai-nilai keagamaan atau keislaman itu selalu khusnudon dan mudah mengucap syukur bukan melontarkan nyinyir. KH Buya Syakur mengatakan ajaran agama punya misi persatuan, penghormatan pada pemimpin dan kontributif solutif. Bukan kontributif polutif yang selalu nyinyir anyir pada pemerintah.
Kritik tajam, nyinyir, menebar hoaxs dan tak menghormati pemimpin adalah bagian politisi, oposisi dan barisan sakit hati. Bagi ASN tidak demikian, melainkan seirama melayani masyarakat sebagai bagian dari beban berat pemerintah. Aparatur Sipil Negara adalah bagian dari struktur pemerintah dan hakikatnya adalah wajah negara terdekat di masyarakat. Jangan sampai THR diterima tapi peran ASN yang merupakan bagian dari negera dan pemerintah zero atau minus.
Ada ungkapan “Sejauh mana pun Anda tersesat segera putar haluan (mudik) kembali ke jalan yang benar, yang diridhai Allah, Tuhan yang maha Esa”. Tidak ada sukses dalam kesesatan tentunya. Menjadi ASN dan menjadi seorang muslim atau agama apa pun yang kita anut hati syukur, apresiatif dan mendukung pemerintah adalah baik. Tetap kritis etis sebagai ASN yang berpihak pada rakyat melalui dedikasi sebagai ASN.
Jangan sampai ASN menjadi kepanjangan yang diplesetkan Aparatur Sipil Nyinyiran. Tulisan ini Saya dedikasikan untuk sahabat-sahabat ASN yang “belum mudik” pada kampung negara kesatuan Republik Indonesia. Ayo kita menjadi bagian aparatur sipil negara yang tidak ditengah atau malah condong kea rah yang berlawanan. Mari kita lebih condong ke program pemerintah dalam melayani masyarakat.
Semangat ASN harus identik dengan semangat mendapatkan THR dan gaji ke 13. Menjadi ASN sejatinya perbanyak “menuntun” publik pada hal positif sesuai program pemerintah bukan menuntut dan menyuarakan aspirasi yang mirip dengan aspirasi Ormas terlarang atau kaum radikalis. Kita adalah ASN jadilah ASN yang terbaik, bagian dari tubuh pemerintah sebagai pelayan masyarakat bukan pelayan entitas tertentu yang provokatif














