OPINI/Artikel

Martabat Kasatdik

1
×

Martabat Kasatdik

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Dewan Pembina PGRI)

Saat masih menjadi Ketua PGRI Kota Sukabumi sering Saya katakan, “Kedaulatan sekolah adalah harga mati”. Sekolah harus benar-benar berdaulat dan mampu menerapkan sistem Manajemen Berbasis Sekolah. Ekspansi, intervensi, politisasi dan premanisasi sekolah harus sangat dihindari.

Terutama terkait PPDB setiap tahun sekolah selalu “dikoyak” oleh pihak eksternal yang bablas. Inilah yang menyebabkan Saya dahulu Saat menjadi Ketua PGRI Kota Sukabumi konvoi bermotor keliling sekolah memantau jalannya PPDB. Jangan sampai ada guru dan kepala sekolah terancam oleh oknum tertentu.

Jelas dalam UURI No 14 Tahun 2005 diantara pasalnya adalah “Organisasi profesi harus melakukan perlindungan dan jaminan keamanan guru”. Biasanya saat PPDB selalu ada oknum “main drama” dengan menggertak dan main ontrog. Padahal sistem sudah dibuat sebaik baiknya, walau tentu tidak akan sempurna.

Terutama Kepala Satuan Pendidikan (Kasatdik) musim PPDB di sekolah tertentu mendapatkan tekanan luar biasa. Oknum LSM, Ormas, Politikus dan oknum lainnya menyemut di sekolah ingin bertemu Kasatdik. Dilayani tidak dilayani serba salah. Mengapa ? Karena logika normatif apa pun yang dijelaskan Kasatdik tidak diterima.

Mengapa tidak diterima segala penjelasan normatif ? Karena mereka (oknum) hanya bisa menerima nalar dan penjelasan kalau titipannya diterima. Ancaman dan sejumlah drama modus dimainkan oleh Sang Oknum. Sungguh martabat Kasatdik menjadi bermasalah. Mengapa ? Karena mereka dianggap non kooperatif.

Bila oknum dan premanisme masuk satuan pendidikan sangat bahaya. Bahkan ada seorang guru Sebut saja namanya Bapak Oemar Bakri mengatakan bahwa anak-anak titipan preman dan oknum tertentu di sekolah bisa mendatangkan masalah baru. Mengapa ? Karena mereka masuk dengan cara salah dan mereka kelak berperilaku masalah.

Kehormatan Kasatdik, guru, kedaulatan sekolah harus terjaga dengan baik. Dalam tulisan sebelumnya Saya katakan, “Siapa saja orang yang pernah sekolah kemudian menjadi oknum yang “langganan” intervensi urusan sekolah adalah Sang Malin Kundang”.

Mengapa Saya sebut Malin Kundang ? Karena mereka dulunya adalah anak, anak didik dari sekolahan sebagai Ibu Kandungnya. Sekolahan bagi siapa saja yang pernah sekolah adalah almamater dan Ibu Kandung yang harus dihormati. Kasatdik, guru dan sekolahan adalah area sakral, sejatinya demikian.

Sebagai ajakan pada entitas Kasatdik mari kita menjadi Kasatdik yang terus belajar dan lebih baik dari hari ke hari. Martabat Kasatdik terutama ditentukan oleh diri sendiri. Diri sendiri yang berprestasi dan terus belajar, serta berani karena benar dan waras menghadapi tantangan internal eksternal.

Pepatah bijak mengatakan, “Domba yang terpisah akan dimangsa harimau”. Bersatulah para Kasatdik dalam menghadapi tuntutan dan tantangan jelimet persoalan. Faktanya “Orang bodoh yang bersatu lebih kuat dari satu orang pintar yang terpisah”. Lebih ideal, “Orang pintar bersatu kalahkan tantangan yang membodohi”

Ada lagi pepatah yang jleb, mengatakan, “Musuh yang paling bahaya adalah orang terdekat di internal”. Bung Karno menyatakan musuh paling bahaya dan jahat adalah saudara sendiri. Kekompakan, persatuan sangatlah penting, termasuk di sekolahan.

Diinternal sekolahan persatuan dewan guru sangatlah penting. Dewan guru harus kompak menjadi benteng sekolahan. Di tataran meso/daerah persatuan dewan kepala sekolah sangatlah penting pula. Plus dukungan organisasi profesi guru, sesuai UURI No 14 Tahun 2005.