Liputan Khusus

Sekolah Swasta Tidak Menikmati Kemajuan Dunia Pendidikan Karena Kebijakan Yayasan & Pemerintah

adminsigiku.com
×

Sekolah Swasta Tidak Menikmati Kemajuan Dunia Pendidikan Karena Kebijakan Yayasan & Pemerintah

Sebarkan artikel ini

Pewarta: Dwi Arifin

Koran SINAR PAGI (Kota Bandung)-, Kebijakan pemerintah pusat atau daerah dan Yayasan yang mendirikan lembaga pendidikan, seharusnya berpihak dengan memberikan dukungan yang lebih maksimal kepada SMA/K Swsata untuk kemajuannya. Karena banyak sekolah swasta yang saat ini kekurangan murid disebabkan kedua hal teresebut.

Kepala Sekolah SMA Bina Dharma, Drs. Sukadi menjelaskan “Sekolah ini dahulunya sempat memiliki murid yang mencapai 800 siswa, sekitar tahun 1996 an, lalu menurun sampai ke 250 siswa pada sekitar tahun 2013. Sedangkan saat ini berdasarkan data rekap tanggal 26 September 2022, hanya sekitar 84 siswanya. Semua penurunan itu dikarenakan kurang maksimalnya dukungan dari pihak Yayasan dan adanya kebijakan pemerintah pusat atau daerah yang lebih berpihak kepada sekolah negeri,” jelasnya saat wawancara khusus bersama media cetak dan online Koran SINAR PAGI di ruang kerjanya (26/9/2022)

Awal kemajuannya sejak saya menjalankan tugas sebagai Kepala Sekolah pada usia 24 tahun di tahun 1993 an. Siswanya hanya 30 siswa, pada waktu itu pihak Yayan memberikan kewenangan yang lebih banyak atau utuh kepada kepala sekolahnya. Namun setelah sekolahnya maju, pihak Yayasan memberikan kewenangan yang lebih sedikit untuk pengelolaan sekolahnya. Seharusnya Yayasan itu menghidupi sekolahnya, bukan sebaliknya justru Yayasan mencari hidup dari sekolah. Sehingga perihal dana investasi lembaga pendidikan, tidak menjadi skala prioritas, padahal itu menjadi modal persaingan antar sekolah untuk menarik minat masyarakat menyekolahkan ke Swasta dari pada sekolah negeri.

Selanjutnya Drs. Sukadi menceritakan adanya Politisasi ke lembaga pendidikan, sejak masa pemilu langsung juga menambah tekanan ke dunia pendidikan yang menghambat kemajuan sekolah swasta. Belum lagi desakan oknum legislatif dan eksekutif yang memaksakan siswa untuk diterima di sekolah negeri saat penerimaan siswa baru. Dan pendirian sekolah negeri di wilayah yang sudah banyak sekolah swastanya.

Ditambah lagi sosialisasi perihal sekolah gratis yang ditawarkan oleh pemerintah ke masyarakat begitu masif di media massa. Hal itu membuat orang tua siswa memilih sekolah negeri dan mengira bahwa sekolah di Swasta atau Negeri itu gratis. Sehingga mereka tidak ikut berpartisipasi menyumbang dana pendidikan untuk kemajuan sekolahnya.

Seharusnya pihak pemerintah pusat atau daerah lebih memperhatikan sekolah yang lebih sedikit siswanya. Seperti petani yang merawat tanamannya, jika ada yang terlihat kurang pupuk dan partumbuhannya kurang subur segera diberikan perawatan yang lebih agar sama-sama maju seperti sekolah negeri. Sebab selama ini sekolah swasta sering dianggap anak angkat, sedangkan sekolah negeri diperlakukan sebagai anak kandung pemerintah.

Buktinya bantuan untuk siswa di sekolah swasta lebih sedikit, jika dibandingkan dengan dana yang diterima oleh sekolah negeri. Belum lagi kesejahteraan guru sekolah swasta masih lebih rendah dari pada guru di sekolah negeri, tapi mereka memiliki beban yang sama. Kalau bukan karena cinta dunia pendidikan dan ingin mengabdi kepada negaranya, mungkin sudah banyak guru yang berhenti mengajar di sekolah swasta.

Drs. Sukadi mengungkapkan apalagi kalau dilihat dari catatan prestasi sekolah swasta lebih banyak dan unggul dari pada sekolah negeri. “Sekolah negeri rata-rata ada dikisaran menengah, sedangkan sekolah swasta ada di atas atau level bawah. Maka yang perlu lebih dibantu ialah sekolah yang ada di tingkat bawah dari segi sarana dan jumlah siswanya” ungkapnya

Selaian itu ada tantangan perkembangan jaman dan kondisi masyarakat yang kurang berpihak kepada guru di sekolah. Misalnya fenomena orang tua siswa, jika anaknya diberi sanksi kedisiplinan di sekolahnya, mereka justru melaporkan gurunya kepada pihak berwajib atau komnas HAM. Kalau jaman dahulu orang tua sangat mendukung seutuhnya kepada guru untuk kebaikan masa depan muridnya. Peran orang tua juga seharusnya sama seperti guru di sekolahnya, bukan ketika siswa di rumah dibiarkan begitu saja. Seolah-olah tanggung jawab mendidikan cukup dibebankan kepada guru di sekolahnya.

Selanjutnya perihal perkembangan jaman atau teknologi informasi sangat mempengaruhi kondisi siswanya. Bisa saja oleh sekolahnya diberikan contoh dan diarahkan kepada yang baik-baik. Namun karena pengaruh HP yang sering dipakainya mereka lebih terpengaruhi oleh yang negatifnya.

Walaupun kondisinya seperti itu. Saya bersama para guru berupaya menguatkan motivasi yang sama untuk tetap mengajarkan ilmu bagi siswanya dan memperjuangkan sekolah swasta ini tetap ada di masa depan. Sebab menurut Hadits yang bersumber dari Abu Hurairah R.A dalam hadits riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do’a anak sholeh yang berdoa baginya.”

http://www.koransinarpagijuara.com/2022/03/13/30-menit-weekend-bersama-kadisdik-jabar-prediksi-lahan-untuk-sekolah-negeri/

http://www.koransinarpagijuara.com/2022/08/29/ferdy-sambo-farel-prayoga-masa-kejayaan-kehancuran-dipergilirkan-antara-manusia/

http://www.koransinarpagijuara.com/2022/08/04/wanita-ulama-gemar-berorganisasi-berkarya-tulis-raih-beasiswa-doktoral-kemenag-ri/

http://www.koransinarpagijuara.com/2022/06/26/media-cetak-diprediksi-lebih-menyehatkan-akal-pikiran-dibandingkan-media-sosial/