Pewarta : Jeky EPSA
Koran Sinar Pagi, Sumedang – Makom yang terletak di Gunung Kancana Keling, Desa Serang, Kecamatan Cimalaka, Kab. Sumedang, Jawa Barat, dipercaya mempunyai sejarah yang erat dengan Raja Pajajaran di akhir tahun 1567 – 1579 Masehi. Bahkan menurut Kuncen makam, Adang Sutisna, yang menjadi kuncen sejak tahun 2010 menyatakan bila makam ini merupakan makam asli Eyang Sakawayana dengan nama lain Prabu Harismaung, bukan petilasan seperti yang ada di daerah lain di Banten atau Sukabumi
” Pernah ada peziarah dari Banten, Jampang, dan juga Sukabumi yang mencari makam asli Sukawayana. Mereka datang kesini untuk melakukan tawasulan dan mereka meyakini bila makam asli Eyang Sakawayana ada disini’, ujar nya, saat ditemui di rumah nya dilingkungan makam, Jumat, ( 6/1/23).
Bahkan dikatakanya, banyak peziarah dari luar Sumedang, seperti dari Madura, Kalimantan, Bali, Jakarta, juga daerah lain.
” Saya juga merasa heran kok mereka pada datang kesini, mungkin tahu dari mulut ke mulut seperti orang Sumedang yang berusaha di Kalimantan dia bercerita dan orang itu tertarik untuk datang”, jelas nya.
Sejak saya menjadi kuncen, ucap dia, sudah ratusan bahkan mungkin ribuan yang datang tamu untuk berziarah.
” Banyak peziarah dari jauh yang sukses dari tawasulan disini, ada pengusaha, ada yang menjadi anggota dewan, Polisi, Tentara atau juga kepala desa”, terang nya.
Namun semua itu berkat rido Allah Subhanahu Wata’ala semata, kalau datang kesini cuma upaya saja, untuk berdoa di tempat ini demi memuluskan niat para peziarah.
Dari silsilah keturunan seperti yang terpampang di dinding rumah nya, Sakawayana merupakan Raja Pajajaran Akhir dimasa tahun 1567 – 1579 Masehi.
” Prabu Harismaung ( Sakawayana) beristrikan Nyai Mas Ratna Gumilang. Dan nama lain dari Prabu Harismaung juga dikenal dengan nama Raden Aji Mantri ( Raden Keling Sakawayana) dan nama lain dari isterinya dikenal dengan nama Nyai Mas Angkonglarangan”, jelas Abah Adang.
Dari keteranagan dia, Makam Sakawayana berada di luas lahan 2 hektar dan sudah dijaga turun temurun,
” Sebelum saya, kuncen nya dipegang oleh Aki Iang, Aki Sa’ad, Wa Ambas, Ma Omah.dan saya sendiri Adang Sutisna. Saya sebenar nya tidak menginginkan menjadj kuncen disini tapi itu sudah menjadi tuntunan batin yang harus saya jalani”, ucap nya.
Terkait keberadaan Makam Eyang Sakawayana pihak Pemerintah Desa Serang pun meyakini bila makam tersebut mempunyai sejarah yang berhubungan dengan Kerajaan Pajajaran. Dan pihak desa menginginkan adanta penetapan status menjadi Cagar Budaya dari pihak Pemerinrah Kab. Sumedang, melalui Dinas Pariwisata, Kebudayaan Dan Pariwisata ( Disparbudpora).
” Pernah datang ke makam, para ahli dari arkeolog, sejarawan dan dari Disparbudpora untuk melakukan observasi”, ujar Wahyu biasa dipanggil Joker, Kasi Pemerintahan Desa Serang yang tahu sejarah makam tersebut, saat ditemui di kantor desa pada hari yang sama.
Dan saat itu para ahli sempat menyanyangkan karena bentuk makam sudah ada yang merubah dan ada prasasti buatan yang bertuliskan 2014.
” Prasasti buatan itu dibuat oleh pihak ke tiga tanpa sepengetahuan pihak desa. Dan itu sangat disayangkan sekali oleh para ahli, padahal keberadaan makam itu sudah ada ratusan tahun silam”, tandas nya.













