Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Ketua DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia)
Ungkapan lama mengatakan, “Ingin kuasai Indonesia kuasai pulau Jawa”. Ungkapan lainnya, “Ingin kuasai Indonesia kuasai TNI dan Polisinya”. Ungkapan ini akan mulai ujur dan tidak kontekstual lagi.
Era disrupsi, era teknologi dan era post truth, tuntutannya berbeda. Ungkapan di atas sudah ujur. Ungkapan yang lebih kebaruan adalah kuasai pelajarnya, maka sebuah negara akan bertekuk lutut.
Efisentrum kehidupan tidak di geografis lagi, bukan pula di demografis, melainkan di geodiknya, pendidikannya. Ungkapan “Apa yang terjadi di ruang kelas, apa yang akan terjadi di masa depan dan masa kini”, jauh lebih tepat.
Perang fisik sudah hampir tiada. Perang non fisik berupa perang budaya, ekonomi dan teknologi menjadi perang kekinian. Sebuah bangsa datang menguasai daerah lain sudah masa lalu.
Saat ini bentuknya adalah sebuah bangsa dan korporasi datang dalam bentuk produk teknologi. Bahkan agama dan ideologi pun sudah mulai tergoyang. Teknologi dan ekonomi jauh lebih utama bagi manusia.
Melihat realitas demikian di atas maka benteng pertahanan bangsa dan masa depan bangsa harus lebih utama. Ada di mana? Ada di SDM lah kekuatan bangsa dan sukses masa depan sebuah bangsa. SDM terkait dengan bahan, sumber daya dan bahan sumber daya itu adalah di manusia.
Manusia mana? Manusia yang akan menjadi manusia masa depan, yakni anak didik. Anak didik adalah pertahanan bangsa yang sebenarnya. Bagaimana anak didik saat ini, bagaimana realitas masa depan.
Ditangan siapa anak didik saat ini? Ditangan para guru dan kepala sekolah. Sebagaimana tema Workernas AKSI di Bali mengusung tema “Mengawal Generasi Emas 2045”. Sungguh sebuah ajakan yang strategis futuristik.
Indonesia merdeka lepas dari penjajahan tahun 1945. Indonesia pun akan kembali merdeka dalam jilid 2 yakni kemerdekaan lepas dari kemiskinan. Masuk pada zaman usia produktif dominan. Masa keemasan Indonesia.
Bisa kah di raih? Tentu bisa. Caranya? Mulai dari kemarin, saat ini dan esok terus perbaiki layanan pendidikan. Terutama peningkatan kapasitas dan profesionalitas guru dan kepala sekolah. Guru dan kepala sekolah baik, maka masa depan anak didik dan bangsa ini akan baik.
Kuasa anak didik hari ini maka kuasai masa depan. Era disrupsi cara menguasai sebuah bangsa, lemahkan anak didiknya. Jadikan mereka konsumen teknologi, adiktif dan konsumtif agar tidak berpikir menjadi leader dan selamanya menjadi follower.
Bangsa follower adalah bangsa yang akan sangat menguntungkan bangsa lain. Mungkin bagi bangsa China dan sejumlah negara maju, bangsa Indonesia adalah bangsa yang potensial jadi bangsa follower.
Para guru, kepala sekolah dan masyarakat kita sebaiknya sadar sejak dari kemarin dan lebih sadar lagi hari ini dan esok. Mimpi meraih sukses masa depan dengan hadirnya penduduk produktif 2045. Produktif atau follower? Waspadalah.













