Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)
Ajaran agama memerintahkan umatnya husnudhon. Ajaran agama memerintahkan umatnya menutupi aib sesamanya. Ajaran agama memerintahkan tebarkan kata-kata yang baik.
Disis lain bawaan “ajaran politik” memerintahkan oposisi, provokasi, suudhon dan menghalalkan segala cara. Dalam realitas politik malah “dibolehkan” berbohong dan tak boleh salah.
Dalam dunia pendidikan dan agama terlarang seseorang berbohong tapi boleh salah. Dalam dunia politik orang boleh bohong, tapi dilarang salah. Agama mema’afkan kesalahan dan kebodohan tapi melarang bohong.
Padahal tujuan politik itu baik, seirama dengan tujuan agama yakni menciptakan kesejahteraan bersama walau realitas latar belakang tak sama. Penyimpangan dan anomali bisa terjadi karena emosi dan kepentingan subjektif.
Beberapa tokoh nasional awalnya rasional dan memesona. Kini karena Ia terjerat kepentingan politik menjadi emosional dan “berbohong”. Perspektifnya menjadi tak objektif, malah provokatif.
Benar kata pepatah, “Tak ada lawan yang benar dan tak ada kawan yang salah”. Malah ada satu lagi istilah, “Siapa yang memodali dan membayar akan diikuti sekali pun berbohong”.
Masih ingat pendapat bijak Jenderal Dudung saat diwawancara Deddy Corbuzier. Ia mengatakan, “Orang besar hampir tidak pernah membicarakan dan berpikir negatif tentang orang lain”.
Selanjutnya Ia pun mengatakan bahwa, “Orang besar kalau pun membicarakan orang lain, hanya hal-hal positif dan inspiratif”. Pikirannya positif dan edukatif.
Ada pula seorang tokoh mengatakan “Teko yang berisi air putih bila dituangkan airnya ke dalam gelas akan keluar air putih”. Tentu saja bila ada teko berisi air comberan akan keluar air comberan pula.
Kita, dalam pikiran kita, dalam kata-kata kita apakah positif atau negatif ? Emosinal provokatif atau rasional edukatif? Disayangkan beberapa tokoh nasional yang awalnya memesona menjadi emosional dan merendahkan kualitas dirinya.
Idealnya tokoh-tokoh nasional tetap menjadi inspirator, motivator dan pencerah bagi semua rakyat. Bukan sponsoran dan partisan demi kelompok dan pemodal, bukan idealitas demi masa depan kebangsaan kita.
Sejarah akan merekam dan tak bisa hilang sejumlah tokoh dan penceramah yang kata-katanya kotor dan tak patut di dengar di ruang publik.
Kata-kata kodok, fir’aun dan bebek lumpuh kepada seorang Presiden, adalah tak patut. Di akhirat kelak semua yang kita lontarkan ke ruang publik akan dihisab. Niat baik, kata baik, tindak baik dalam mengkritik adalah penting.











