Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)
Baru dalam kepemimpinan PB PGRI era Unifah Rosyidi ada guru aktivis PGRI dipecat dari kepengurusan BPLP PB PGRI. Ini jelas penghinaan pada profesi guru. Tanpa pertemuan, tanpa komunikasi, seorang guru dihinakan martabatnya dengan dipecat.
Pemecatan inilah diantaranya yang menyebabkan dua aktivis PB PGRI ikut mengundurkan diri. Merasa Ketua Umum PB PGRI sudah menyimpang dari “khitah” perjuangan martabat guru. Dua aktivis PB PGRI yang mengundurkan hanya terjadi era Unifah Rosyidi.
Setelah pemecatan satu aktivis PGRI tanpa etika. Disusul dua aktivis PB PGRI mengundurkan diri. Alasannya jelas, Unifah Rosyidi bukan pembela martabat guru. Ketiga guru aktif, aktivis PGRI ini keluar dari struktur tapi tidak dari kultur.
Guru adalah pemilik PGRI. Guru yang rutin membayar iuran dan mengalir ke atas. Satu guru yang dipecat dan dua yang mengundurkan diri adalah “pemilik PGRI” pembayar iuran setia. Kok bisa dipecat dan mengundurkan diri ? Itulah era Unifah Rosyidi. Penuh konflik di internal dan eksteranl.
Caca Danuwijaya mengatakan, “PGRI Yes, Unifah No! PGRI Yes, Perubahan Yes!. Ayo para pengurus PGRI kokabprov, bersatu, pilih yang terbaik dari para ketua kokabprov untuk menggantikan Unifah Rosyidi yang konfrontatif.
Bahkan kata Caca Danuwijaya, hanya di jaman Unifah Rosyidi ada nuansa “Adu Domba” antar guru, yakni guru menyerang guru. Caca Danuwijaya menyebutnya penulis bulldog berlendir. Lidah lendir tulisannya berspirit pesanan adu domba. PGRI milik guru, guru butuh pemimpin baru yang lebih kolaboratif, humanis dan berkebatinan guru.











