Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Ketua DPP Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia)
Ada pepatah mengatakan “Pujian buang ke tempat sampah, kritik masukan ke pundi emas”. Ungkapan ini disampaikan pula Dr. Oding Sunardi dosen UNPAK Bogor, di sebuah acara. Ia hendak mengajak pada kita semua bahwa saat kita dipuji jangan terbang, kaki tetap di bumi.
Sebaliknya saat kita dikritik jangan emosi dan marah, namun reflektif, perbaiki diri. Kritik orang adalah pesan perbaikan sekalipun tak nyaman ditelinga dan hati. Pujian enak di telinga dan hati tapi tak positif untuk kontrol diri dan perbaikan diri.
Nah dalam sebuah organisasi moderen yang hidup, kritik lebih penting dari puja puji. Saling mengapresiasi itu baik, namun puja puji lebay pada pimpinan sebuah organisasi tentu tak positif. Lebih tak baik lagi adalah pimpinan organisasi maniak puja puji.
Misal Saya Ketua DPP AKSI, Saya hanya menerima pujian dan memarahi entitas kepala sekolah yang mengkritik Saya. Atau Saya emosi dan sewot saat ada kepala sekolah mendeklarasikan diri ingin jadi Ketua DPP AKSI.
Bila sifat dan sikap Saya demikian maka ini masalah serius. Mengapa serius ? Seorang ketua organisasi maunya dipuja puji dan marah bila dikritik atau ada yang deklarasi adalah pribadi bermasalah. Pribadi yang sakit bila hanya senang puja puji anti dikritik.
Bila ada anggota organisasi mengkritik katakan terimakasih. Bila ada yang memuji katakan terimakasih pula. Pujian dan kritikan esensinya sama yakni kita sedang diperhatikan.
Pemimpin organisasi yang baik akan senang bila ada kader organisasi berani deklarasi dan mengkritik. Artinya dinamika organisasi hidup. Jangan matikan dinamika organisasi. Kecuali organisasi dianggap miliki pribadi dan ada sesuatu.
Bahaya bila mental seorang pemimpin yang anti kritik dan maunya dipuji doang. Bahaya seorang pemimpin bila lebih sayang kucingnya tapi mengadu domba anggota organisasi. Anti kritik, halu pujian. Apalagi bila lama berkuasa.











