OPINI/Artikel

Petuah Sesepuh PGRI

adminsigiku.com
×

Petuah Sesepuh PGRI

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Entitas Dewan Pembina PGRI)

Perlu diketahui oleh semua jama’ah PGRI se Indonesia. Terutama menjelang Kongres PGRI tahun 2024. Ada beberapa saran sesepuh PGRI yang menjelaskan rasa cinta dan pedulinya pada PGRI. Walau Ia tidak lagi terlibat secara struktur dan selalu mendoakan PGRI transformatif dan ada pembaharuan.

Apa yang Ia sarankan? Ia menyarankan agar PB PGRI ke depan bisa dipimpin oleh : 1) orang yang pernah memimpin di daerah, 2) orang yang pernah menjadi guru, 3) kolaboratif dan menempel pada pemerintah, 4) memimpin gaya kolektif kolegial, tidak otoriter monokomando, dan 5) penganut agama yang baik.

Sang Sesepuh ini mengatakan, “PGRI milik anggota, milik pengurus daerah dan dari pengurus daerah Ketua Umum PB PGRI sejatinya di pilih”. Ia menghendaki Ketua PB PGRI tidak hadir ujug-ujug dari tempat kerja yang tidak ada ranting di tempat kerjanya.

Mengapa Prof. Surya dan Dr. Sulistiyon sangat dekat dengan pengurus daerah dan guru anggota? Karena Ia berasal dari pengurus daerah dan pernah menjadi guru. Kebatinan sekolahan, jelimet organisasi di daerah dan kesejahteraan guru bukan “kata orang”, atau teori, melainkan memang mengalami sendiri, pernah menjadi guru dan pengurus PGRI daerah.

Saatnya Kongres PGRI tahun 2024 transformarif, dari pengurus daerah, oleh pengurus daerah, untuk guru anggota di daerah. Kebudayaan nasional adalah puncak-puncak terbaik budaya daerah. Tokoh sekaliber Muhdi, Teguh, Dede Amar, Adi Dasmin, Muhtadi, Syafii dan tokoh lainnya adalah kader terbaik dari daerah.

PGRI perubahan, PGRI transformatif, PGRI kolaboratif saatnya dibumikan. Teguh Sumarno adalah diantara tokoh pemimpin PGRI daerah yang proaktif kolaboratif, saat ada masalah ASN PPPK. Ia gerak cepat bersama Muhtadi (Ketua PGRI Banten), Sudarmadji Sekum PGRI Jawa Timur, menemui Dirjen GTK.

Ayo bersatu para pengurus PGRI di daerah. Aspirasi, iuran dan jamaah adanya di daerah. Tanpa anggota dari daerah, tanpa iuran dari daerah, tanpa peserta dari daerah, tanpa guru-guru di sekolahan PGRI bisa bubar. Kedaulatan tertinggi ada ditangan para pengurus daerah, setiap hari bersama guru anggota. Bukan dengan bangunan dan tembok tanpa guru.