Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)
Bila ada grup WAG organisasi hanya puja puji, bahkan bagai paduan suara, tentu tak menarik dan tak berwarna. Organisasi yang baik penuh dinamika pemikiran dan kritik konstruktif.
Kecuali organisasi itu dipimpin gaya Korea Utara, anti kritik dan tak bisa menerima perbedaan sudut pandang organisasi. Sungguh akan jumud pikir bila sebuah organisasi bagai paduan suara.
Homogen satu suara dalam grup WAG organisasi tentu tak menjelaskan keragaman pemikiran konstruktif. Padahal anggota organisasi smua sarjana. Mau dibawa bagai anak SD?
Organisasi di negeri ini sejatinya membawa spirit menerima keberagaman. Bahkan bukan hanya adat, bahasa dan budaya, agama pun beragam. Pendapat dan kritik adalah bumbu pemantik dialektika dalam organisasi.
Hanya gaya komunisme yang anti kritik dan menolak dialog. Ini bahaya bagi tumbuh kembang organisasi. Menganggap anggota organisasi sebagai anak SD atau robot organisasi tentu tak elok.
Sejumlah anggota organisasi kritis dikeluarkan dari grup WAG organisasi adalah simbol gaya komunisme dan ketidakmampuan berdialektika dalam narasi narasi wajar dan demokratis.
Spirit unitaristik, menjadi monotaristik. Spirit independen menjadi dependensif. Spirit non partisan jadi partisan dan arisan. Bila organisasi gaya kepemimpinan demikian, sudah keluar dari ruh AD /ART.
Banyak bentuk pelanggaran AD/ ART dalam sebuah organisasi. Sulit sebuah organisasi besar berada dalam rel AD/ART bila pimpinan puncak jadi semau gue. Plus jajaran pengurus lainnya jadi paduan suara. Bahaya!











