Mukjijat Abad 21

0
194

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

Bila para nabi punya mukjijat membelah lautan, menghidupkan orang mati, membelah bulan. Plus mukjijat dengan kita suci yang dibawanya. Maka pada abad 20-21 para manusia punya “mukjijat” yang sangat dahsyaat yakni membelah realitas dunia.

Sungguh “mukjijat” membelah dunia dalam dua realitas, nyata dan maya adalah sebuah lompatan luar biasa. Membelah dunia menjadi maya dan nyata, plus “kitab suci” internet yang lebih banyak dibaca, dibuka dibanding kitab suci agama.

Bila kitab suci dan para nabi cenderung punya jamaah masing-masing, maka internet jamaahnya hampir semua umat manusia dari berbagai bangsa dan penganut agama. Internet, google dan segala aplikasi yang tersedia faktanya lebih diminati umat manusia abad 21.

Anak milenial terutama, lebih akrab dengan internet dan googlenya dibanding kitab suci agamanya. Setiap anak di zaman ini dominan memegang gadget/HP di tangannya, melekat tak terpisah. Kitab sucinya, apakah melekat dan dipegang?

Kita semua harus waspada dengan anak didik dan generasi muda kita saat ini. Boleh berteknologi tapi utamakan berteologi. Habibie mengatakan pentingya IPTEKS dan IMTAK. Ini tak bisa ditawar. Bahaya bila mengutamakan IPTEKS saja.

Begitu pun mengutamakan IMTAK mengabaikan IPTEKS bahaya pula. Mukjijat abad 21, dunia terbelah dalam realitas nyata dan maya asbab internet dan kemajuan teknologi tak bisa dibantah. Kini manusia benar-benar lebih jelimet dan kopleks.

Bila Nabi Isa AS dapat menghidupkan orang mati, teknologi saat ini ribuan orang mati jejak digitalnya (video dll) bisa “dihidupkan”. Bila Nabi Musa AS memapu membelah lautan, Nabi Muhammad SAW membelah bulan. Teknologi saat ini membelah dunia manusia, maya dan nyata.

Orang tanpa quota, tanpa listrik, tanpa internet dan tanpa gadget seolah tak bisa hidup di zaman ini. Seolah kesemuanya telah menjadi “agama baru” yang lebih diminati. Agama baru dalam bentuk agama teknologi, agama membelah dunia, agama hedonis teknologis.

Manusia akan terjebak dalam “industry” mukjijat baru yang lebih menggoda dan free. Ini harus kita waspadai. Bisa jadi manusia saat ini hidup 24 jam. Kota kota besar kehidupannya 24 jama, sibuk dan hedon. Bahkan bukankah internet 24 jam.

Manusia bisa ditemani dunia maya non stop. Manusia tak bisa ditemani dunia nyata secara non stop. Manusia dan giat apa pun ada lelapnya, ada istirahatnya. Duni maya, non stop. Dunia maya tidak ada matinya, hidup siang dan malam.

Sungguh indah agama Islam. Tentu agama lain punya punya sisi indahnya masing-masing. Apa yang sangat indah dari dunia ajaran agama islam? Tiada lain adalah sholat 5 waktu. Asbab sholat 5 waktu maka kehidupan yang hedon dan non stop, lebih bisa terkendali.

Ada jeda, ada restart, ada istirahat sejenak lahir dan batin bila seorang muslim selalu sholat 5 waktu dalam sehari. Ia berwudhu, Ia bersosialisasi, Ia bermanusia dalam barisan sholat. Tidak hanya menyendiri dan autis dalam industry dunia maya.

Waspada mukjijat abad 21 bersisiko luar biasa pada kehidupan manusia. Teruslah menjadi manusia sekalipun dunia teknologi makin menggila. Dunia digital makin dominan, tetaplah menjadi manusia terbaik. Digitalis tetapi punya dignity dan humility yang baik.