Oleh : Neng Tintin (Ibu Rumah Tangga)
Setelah melahirkan, tidak sedikit ibu yang mengalami “baby blues”, kondisi tersebut banyak terjadi, terutama pada ibu muda. Sejumlah gejala tersebut bisa berupa depresi, sedih, menangis secara tiba-tiba, perubahan suasana hati, mudah tersinggung, cemas, perasaan labil, sering menyalahkan diri-sendiri, gangguan tidur, tidak nafsu makan, benci kepada suami, bahkan sampai tidak perduli lagi kepada bayinya.
Kondisi ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, bahkan di seluruh dunia.
Istilah baby blues sendiri berasal dari bahasa inggris, Blues berasal dari istilah feeling blues yang artinya merasa sedih. Jadi dapat diartikan ” baby blues” secara harafiah bermakna merasa sedih karena hadirnya bayi.
Menurut data laporan Indonesia National Adlescent Mental Health Survey (I-NAMHS)2023 terungkap bahwa penderita gangguan kesehatan mental ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu dengan anak usia dini di Indonesia jumlahnya sangat tinggi. Bahkan menempati peringkat ke-3 se Asia. Sumber: ameera.Republika.co.id
Perlu diketahui bahwa ini bukan permasalahan yang sepele, apalagi sampai dibiarkan. Ini justru permasalahan yang memerlukan penanganan yang serius oleh ahlinya, terutama Pemerintah.
Pasalnya tidak sedikit pula ibu yang tidak mendapat penanganan bahkan berusaha merahasiakan kondisinya pasca melahirkan, padahal ibu tersebut tengah mengalami kondisi baby blues. Dengan alasan malu, kesehatan mental pun di abaikan.
Selain dukungan dari keluarga dan pasangan dalam proses penyembuhan, Pemerintah pun berkewajiban menuntaskan masalah baby blues ini. Mengapa demikian? karena jika ini dibiarkan, tentu akan berakibat fatal, yakni terganggu nya kesehatan para ibu, dan berpengaruh terhadap tumbuh kembang/keberlangsungan hidup anak/generasi. Karena tidak sedikit pula banyaknya kasus penelantaran anak, bahkan pembunuhan terhadap bayi yang baru lahir, akibat tidak adanya penanganan yang serius kepada ibu yang mengalami baby blues. Jangan sampai kejadian tersebut terus berulang.
Di dalam Islam, kondisi baby blues ternyata sudah di kabarkan di dalam al-Quran. al-Quran pun menjelaskan bahwa menjadi seorang ibu tidaklah mudah. Beratnya tugas yang diemban orangtua, terutama seorang ibu dalam mengurus buah hatinya, kelak akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT. Sehingga sang buah hati pun di perintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tuanya.
Perintah itupun telah Allah perintahkan di dalam al-Quran:
” Dan Kami perintahkan kepada manusia untuk (berbuat baik) kepada kedua orangtuanya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun.
Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu, dan hanya kepada-Ku lah tempat kembali (TQS. Lukman:14).
Tingginya kasus baby blues, yang menggambarkan terganggunya kesehatan mental ibu, yang tntunya dipengaruhi oleh beragam faktor. Diantaranya faktor pendidikan, ekonomi, sosial, kurangnya perhatian dari keluarga bahkan suami, termasuk belum adanya kesiapan untuk menjadi orang tua, dan lain -lain.
Ditambah kurikulum di Indonesia yang tidak menjadikan kesiapan sebagai salah satu kompetensi yang harus dimiliki, bahkan pendidikan Indonesia justru jauh dari nilai-nilai agama yang dibutuhkan sebagai pegangan hidup,
serta sistem yang diterapkanpun juga berperan mengurangi supporting sistem yang dibutuhkan oleh ibu baru.
Berbeda dengan pendidikan didalam islam, yang sangat komprehensif sesuai fitrah manusia, sehingga mampu menyiapkan setiap individu mengemban peran mulia sebagai orangtua. Termasuk menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya.
Peradaban Islam pun membangun masyarakat yang peduli terhadap sesama, sehingga keperdulian akan terwujud optimal dalam masyarakat Islam.
Dan ini tidak akan pernah terwujud, selama sistem yang diterapkan bukanlah sistem Islam. Karena hanya dengan Islam lah semua problematika hidup akan terselesaikan.
WalLaahua’lam….











