Oleh : Hanania Sufi Rabbani (Pelajar SMAN 1 Dayeuhkolot)
Projek Penguatan Profil Pemuda Pancasila atau yang biasa disebut dengan P5 adalah upaya yang dilakukan pemerintah untuk mewujudkan pelajar Pancasila yang mampu berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Profil Pelajar Pancasila ini terdiri dari 6 komponen, yaitu:
1. Beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia
2. Mandiri
3. Bergotong royong
4. Berkebinekaan global
5. Bernalar kritis
6. Kreatif
P5 sendiri menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis projek (project-based learning) yang berbeda dengan pembelajaran berbasis proyek dalam program intrakulikuler di dalam kelas.
Dari keenam komponen P5 diatas, pastinya ada tujuan dan maksud yang jelas, yaitu untuk memperbaiki kualitas generasi muda terkhusus siswa/siswi di Indonesia.
Pada komponen yang pertama dikatakan bahwa seorang pemuda diharuskan beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan memang sudah seharusnya hal tersebut dimiliki olah setiap individu, tak hanya pelajar, namun seluruh kalangan masyarakat.
Hal ini dapat terwujud jika setiap pelajar terfasilitasi dari aspek pendidikan juga lingkungan untuk mempelajari dan menjalankan apa yang sudah menjadi kewajiban seorang umat beragama. Namun sangat disayangkan para siswa/siswi saat ini terkhusus yang bersekolah di sekolah umum atau negri, sangat minim untuk mendapatkan pembelajaran agama.
Walaupun disetiap sekolah diadakan mata pelajaran agama, lama pembelajaran mapel yang satu ini sangatlah singkat dan rata-rata hanya diadakan seminggu sekali. Jelas hal ini tidaklah cukup untuk menjadikan para pelajar menjadi pribadi yang beriman dan bertaqwa sebagaimana yang diinginkan pada komponen P5 pada point awal. Siswa/siswi perlu mencari ilmu agama lagi diluar jam sekolah, entah itu sepulang sekolah ataupun memanfaatkan hari libur. Tapi apa yang dirasakan para siswa? Ya, rasa lelah.
Karena walaupun mereka sudah tidak berada di sekolah, masih banyak tugas-tugas yang harus mereka selesaikan di luar jam sekolah. Ditambah lagi ia harus mencari ilmu agama di waktu-waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk beristirahat.
Pergaulan di sekitar para pelajar juga merupakan salah satu faktor yang membuat para pemuda saat ini sulit untuk menjadi pribadi yang beriman. lingkungan yang sangat menjungjung tinggi nilai-nilai kebebasan dan memisahkan agama dari kehidupan atau yang disebut dengan sekuler menjadi biang pada permasalahan yang satu ini.
Lingkungan merupakan faktor inti yang mempengaruhi kepribadian sang anak, jika lingkungannya rusak tak menutup kemungkinan anak yang berada dalam pengawasan orang tuapun akan berubah sebagaimana lingkungan yang disekitarnya.
Untuk menciptakan generasi yang beriman dan bertaqwa, tentunya peran orang tua sangat diperlukan dalam hal ini. Namun apakah hanya orang tua saja yang berperan dalam pembentukan karakter seorang anak? Tentu saja tidak, diperlukan peran masyarakat juga negara dalam membentuk kepribadian para pemuda saat ini. Jika hanya orang tua yang berperan tanpa dibantu oleh lingkungan dan negara, kecil kemungkinan akan terbentuk pribadi beriman dan bertaqwa pada diri pemuda saat ini.
Lingkugan mesti memberikan contoh perilaku dan suasana yang dapat meningkatkan keimanan setiap individunya. Negara pula mesti memfasilitasi setiap masyarakatnya terutama para pelajar untuk memperdalam ilmu agama. Entah itu dengan penambahan waktu pembelajaran agama ataupun dengan menanamkan kesadaran kepada setiap siswa/siswi mengenai peranannya sebagai seorang hamba. Dan semua itu bisa kita dapatkan hanya dengan menerapkan sistem islam secara menyeluruh pada setiap aspek kehidupan.











