Oleh: Edi Suharto., S.Si., M.Kom.
Dosen Politeknik Piksi Ganesha
Nabi Ibrahim as. tidak hanya dikenal sebagai seorang nabi yang taat, tetapi juga sebagai seorang ayah yang bijaksana. Teladan pengajaran dan pendidikan yang dia berikan kepada anak-anaknya memiliki nilai-nilai yang sangat berharga bagi orang tua masa kini. Salah satu pelajaran yang dapat kita ambil dari Nabi Ibrahim adalah kesabaran dan kebijaksanaan dalam mendidik anak-anak. Nabi Ibrahim menghadapi berbagai tantangan dan ujian dalam hidupnya, termasuk ketika dia diuji untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail a.s. Meskipun menghadapi situasi yang sulit dan mengharukan, Nabi Ibrahim tetap bersikap tenang dan sabar, menjelaskan kepada putranya tentang perintah yang diberikan Allah, sambil memperlihatkan keyakinan dan kepatuhan yang tinggi kepada Sang Kholik.
Peristiwa ini bentuk keteladanan Nabi Ibrahim yang mentransformasi pesan keagamaan (hablum minalloh) ke aksi nyata perjuangan kemanusiaan (hablum minannas). Ketakwaan dan keikhlasan yang tinggi kepada Allah SWT., hingga rela menyembelih puteranya (Ismail) atas perintah dari Allah SWT. adalah bentuk pengorbanan yang telah Ibrahin tunaikan, namun Allah berkehendak lain Ismail digantikan dengan seekor domba jantan yang gagah. Nabi Ibrahim juga merupakan contoh yang baik dalam hal kesabaran dan keteladanan. Dia mengajarkan anak-anaknya untuk menjadi pribadi yang sabar dan bertanggung jawab. Nabi Ibrahim mengajak mereka untuk mempraktikkan kesabaran dalam menjalani kehidupan sehari-hari, mengendalikan emosi, dan menjaga hubungan yang baik dengan sesama.
Dari kisah Nabi Ibrahim, kita belajar bahwa mendidik anak untuk membentuk karakter yang kuat, sikap dan moral yang baik bukan hal yang mudah, dan mendidik anak tidak hanya memberikan pengetahuan akademik semata. Menjadi orang tua yang bijaksana berarti memiliki kesabaran, kebijaksanaan, dan kasih sayang yang tak terbatas. Mengajarkan nilai-nilai agama, membangun fondasi iman yang kokoh, serta memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak-anak adalah tugas penting yang harus kita lakukan.
Atas dasar spirit itu, peringatan Idul Adha dan ibadah qurban memiliki dua makna penting sekaligus yaitu Pertama, makna ketakwaan manusia atas perintah Sang Khalik. Kedua, makna sosial, di mana Rasulullah melarang kaum mukmin mendekati orang-orang yang memiliki kelebihan rezeki, akan tetapi tidak menunaikan perintah kurban. Sebagaimana sabda Rasulullah: “Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rezki) lalu tidak melakukan kurban, maka janganlah mendekati tempat shalatku”. Bagi kaum muslimin yang tidak sempat menyembeli hewan kurban di tanggal 10 Dzulhijah, masih bisa melakukannya di tanggal 11, 12, 13 Dzulhijah. Semoga Alloh SWT. memberikan ketaqwaan dan kesabaran dalam menjalankan perintahNya kepada kita semua.











