Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Dewan Pembina PGRI Kota Sukabumi)
Menarik memang ditelaah dan dikaji, bila seorang pemimpin organisasi merasa Kepala PGRI, bukan merasa Ketua Umum PB PGRI*. Kepala, bawaannya memerintah dan instruksi. Semua pengurus PGRI dianggap bawahan.
Beda pendapat di jawab dengan pemecatan atau Upaya memberhentikan. Beberapa waktu yang lalu Saya mendapatkan keterangan langsung dari beberapa pengurus PGRI Provinsi.
Tentang apa ? Tentang Perintah Bu Mosi, untuk memberhentikan dua pengurus PGRI Provinsi di dua provinsi. Padahal keduanya hasil pemilihan internal PGRI daerah. Kok bisa seorang Kepala PGRI, eh maksud Saya Ketua Umum PB PGRI “memerintahkan” memecat ?
Pertama dalam sejarah PGRI ada Pimpinan Puncak hasratnya memecat, memberhentikan dan memerintahkan minta maaf kepadanya atas kritik dan reaksi anggota PGRI. Anomali Kelola organisasi yang aneh.
Bila Ketua Umum tidak pernah menjadi pengurus PGRI di daerah, tidak pernah menjadi guru di sekolahan, tidak pernah tercatat di ranting PGRI, tidak pernah merasakan derita sebagai guru honorer, ya kebatinannya sulit nyambung dengan ruh guru.
Satu lagi hal yang unik pada Bu Mosi. Ia tidak mau komunikasi atau menghubungi orang yang beda pendapat. Ia malah menyerang dengan menggunakan orang lain. Inilah asasinasi khas Bu Mosi. Ibu Susan bendahara PGRI NTT mengatakan itu kepada Saya.
Uni_kasi Ibu Mosi memang akan tercatat abadi dalam sejarah panjang perjalanan PGRI. Para pesetia, pendukung Ibu Mosi tentu tak salah dan mereka hanyalah pengikut. Semua anggota dan pengurus PGRI adalah saudara. Apalagi sesame guru jangan mau diadu kambing.











