OPINI/Artikel

Kepala Sekolah Mengundurkan Diri

adminsigiku.com
×

Kepala Sekolah Mengundurkan Diri

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

Mayoritas guru progresif bermimpi ingin meraih karir sebagai kepala sekolah. Namun ada pula yang sampai pensiun tidak sempat menjadi kepala sekolah. Itulah dinamika mainstream dalam dunia entitas guru.

Hal unik dan 1001 adalah “kisah” kepala sekolah mengundurkan diri. Ada seorang kepala sekolah mengundurkan diri. Awalnya Ia pun tidak terlalu tertarik untuk menjadi kepala sekolah. Namun saat kepala sekolahnya “meminta” ikut seleksi karena yang lain di sekolahnya tak berani, Ia merasa tertantang.

Akhirnya Ia walau masih kategori muda ikut seleksi. Ia meminta ijin pada suaminya untuk ikut seleksi. Suaminya mengatakan, “Ikut saja, masa istri Ayah tak menerima tantangan?”. Demikan katanya.

Apa yang terjadi? Ia lulus dengan nilai tertinggi di angkatanya versi LPPKS Solo. Asbab kelulusannya “terpaksa” Ia harus menjadi kepala sekolah. Dua tahun menjadi kepala sekolah, terlihat Ia mulai tak nyaman.

Sejak menjadi guru Ia sudah menjadi guru pavorit, guru terajin, guru berprestasi tingkat kota. Ketika menjadi kepala sekolah pun Ia mewakili kota melaju dalam seleksi kepala sekolah berprestasi tingkat provinsi.

Ia pun menulis di koran centak dan menulis buku, plus narasumber jurnal bagi para guru. Mengisi idealismenya, Ia sering nulis di koran cetak. Ia agak berat melintasi “dunia abu-abu” yang menurutnya muna.

Sejak tahun 2020 Ia beberap kali minta sama suaminya untuk berhenti dari kepala sekolah. Suaminya tidak terlalu melayani, Ia membiarkannya “dewasa” sebagai kepala sekolah.

Permintaan mundur dari kepala sekolah kembali Ia minta pada suaminya. Kali ini suaminya mengijinkan dengan syarat, diijinkan kedua orangtuanya. Hamdallah, kedua orangtuanya mengijinkan untuk mundur dari kepala sekolah.

Akhirnya Sang Ibu Kepala sekolah itu dengan perasaan lega mundur dari kepala sekolah. Ia mengatakan “Cukup lah, satu periode lebih (6 tahun) biarkan orang lain ada kesempatan menjadi kepala sekolah”. Jawaban diplomatis.

Menjadi guru, kembali mengajar dan mendidik anak didik jauh lebih indah. Menjadi kepala sekolah di “zaman ini” baginya, uhuyy. Harus orang-orang “hebat” untuk menjadi kepala sekolah. Uhuyy.

Ini kisah 1001 guru. Kini Ia lebih bahagia menjadi guru. Sejak dulu, menjadi kepala sekolah dan kini kembali menjadi guru, Ia selalu datang paling pagi dan tak pernah kesiangan. Ahaa, uhuyy.