OPINI/Artikel

Apakah Kita Jamaah Qabil ?

adminsigiku.com
×

Apakah Kita Jamaah Qabil ?

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Kitab Kejadian pasal 4 dan dalam Al-Qur’an, Surah 5:27-32, dikisahkan tentang Qabil dan Habil. Dalam kisah serial TV Korea Selatan ada tokoh Cain and Abel.

Selalu ada orang yang jahat dan orang yang dijahati. Pesan pertama dalam kitab suci sejumlah agama dan legenda menjelaskan pada kita hindari menjadi orang yang jahat.

Semua agama dan value moral dalam semua masyarakat esensinya sama, mengajak menjadi orang baik dan hindari menjadi orang jahat.

Semua ajaran agama mengajak tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Faktanya ? Kita semua umat manusia cenderung membalas kejahatan dengan kejahatan.

Ungkapan “Gigi bayar gigi, nyawa bayar nyawa” adalah sebuah representasi ekspresi emosionalitas semua umat manusia. Cenderung membalas sama.

Adakah diantara kita bermental tak membalas kejahatan dengan kejahatan? Ketika pipi kiri kita ditampar, kita tidak menampar pipi yang menampar ?

Ketika kita diludahi, kita tidak meludahi, malah menengoknya saat sakit parah. Adakah mentalitas mirip Nabi Isa dan Nabi Muhammad yang tidak membalas terkait hal pribadi ?

Qabil, Kain, Cain dalam kisah sejumlah agama dan masyarakat Korea Selatan menjelaskan bahwa betapa “jahatnya” saudara kita sendiri.

Saudara, sejawat, teman, sahabat dan siapa pun berkemungkinan bermental Qabil. Sosok yang tidak menyukai kesuksesan kita, waspadalah.

Mental Qabili ini ada dalam diri kita dalam kadar yang tak sama. Agama, iman dan pengetahuan tak cukup membungkam nafsu Qabli.

Dibutuhkan kesadaran, maindfulness yang melahirkan “kemelekatan” pada Ilahi. Kemelekatan pada Ilahi yang penuh kasih dan sayang, bukan iri dan kebencian.

Qabil kemelekatannya pada Iblish, maka iri dengki dan ingin melenyapkan orang lain (saudara sendiri) menguat dalam dirinya.

Pembunuhan pertama umat manusia dilakukan oleh Qabil. Waspada, jangan jadi pengikut Qabil. Faktanya bisa jadi kita agak menduplikasi mental Qabil.

Ciri kita menduplikasi mental Qabil adalah iri dengki dan kikir apresiasi pada sesama. Iri dengki dan bahagia melihat orang lain kalah, salah dan gagal adalah mental Qabil.

Pada hakekatnya mental iri dengki dan menderita melihat orang lain sukses adalah penganut Qabil. Penganut Qabili adalah para “pembunuh” sesama.

Tidak perhatian, tidak apresiasi, tidak peduli, tidak nyaman ketika orang lain lebih sukses adalah turunan Qabili. Apakah kita jamaah Qabilian ?