OPINI/Artikel

Program MBG Harapan Baru atau Sekedar Janji Manis

adminsigiku.com
×

Program MBG Harapan Baru atau Sekedar Janji Manis

Sebarkan artikel ini

Oleh: Heni.Ruslaeni

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan Presiden Prabowo Subianto. Program ini bertujuan memberikan makanan bergizi kepada anak-anak sekolah dari PAUD hingga SMA, termasuk santri pesantren. Semua ini membutuhkan pasokan pangan besar, termasuk padi, sayuran, buah- buahan, ayam, telur, dan ikan. Oleh karena itu para petani milenial memiliki peluang besar untuk mendapatkan penghasilan dari program ini.

Program MBG bisa menjadi peluang bagi petani dan nelayan, tetapi implementasinya harus diawasi dengan ketat. Pemerintah harusnya memastikan bahwa program ini tidak hanya menguntungkan kelompok besar dan importir, melainkan benar- benar memberdayakan petani dan nelayan kecil. Jika tidak, maka program ini bisa saja hanya menjadi instrumen ekonomi yang menperdalam kesenjangan tanpa memberika manfaat nyata bagi mayoritas petani dan nelayan Indonesia.

Wakil Bupati Bandung, Ali Syakieb, yang mengajak generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian karena program MBG membutuhkan pasokan besar dari sektor pertanian dan peternakan. Program MBG bisa menjadi peluang besar bagi petani milenial dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan. Bahwa pertanian bukan lagi profesi dengan penghasilan kecil, melainkan bisa menjadi sektor yang menjanjikan dengan adanya kebutuhan pangan yang stabil. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Ningning Hendasah, menyebutkan bahwa Kabupaten Bandung memiliki tanah subur dan potensi besar untuk berbagai komoditas, termasuk kopi dan kakao.

Pemerintah daerah berupaya menarik minat anak muda untuk bertani melalui pelatihan dan dukungan infrastruktur. Program MBG dapat memberikan keuntungan bagi petani milenial karena meningkatkan permintaan produk pertanian. Jika dikelola dengan baik, program ini bisa memperkuat ketahanan pangan nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan makanan. Banyak anak muda lebih memilih pekerjaan di sektor industri atau jasa dibandingkan menjadi petani karena dianggap kurang menguntungkan dan melelahkan. Oleh karena itu, peran pemerintah sangat krusial dalam memastikan bahwa kebijakan yang diambil benar- benar berpihak pada petani kecil, bukan hanya menjadi regulator yang membiarkan mekanisme pasar kapitalis bekerja tanpa intervensi yang adil. Alternatif sistem ekonomi Islam dianggap bisa memberikan solusi yang lebih adil dalam disyribusi kekayaan dan perlindungan bagi petani kecil.

Dalam sistem kapitalis sekuler saat ini, ekonomi didasarkan pada prinsip pasar bebas, kepemilikan individu, dan pencarian keuntungan. Sekularisme dalam kapitalisme berarti bahwa sistem ekonomi berjalan tanpa intervensi nilai-nilai agama dalam kebijakan negara dan bisnis. Tantangan utama yang dihadapi petani kecil sering kali berkisar pada akses pasar, harga yang fluktuatif, dominasi tengkulak, dan persaingan dengan produk impor atau petani skala besar. Namun, tanpa regulasi yang jelas untuk melindungi petani kecil, ada risiko bahwa manfaatnya justru lebih banyak dinikmati oleh perusahaan besar atau petani dengan skala lebih besar. Pemerintah perlu memastikan skema yang adil, mulai dari harga beli, mekanisme distribusi, hingga keterlibatan petani kecil dalam rantai pasok secara langsung, seperti ketimpangan ekonomi, eksploitasi tenaga kerja, dan krisis lingkungan akibat dominasi kepentingan korporasi. Di beberapa negara, ada upaya untuk menggabungkan kapitalisme dengan nilai-nilai sosial dan etika, seperti ekonomi berbasis kesejahteraan (welfare capitalism) atau ekonomi Islam yang menghindari riba dan spekulasi berlebihan.

Islam memiliki pandangan yang komprehensif dalam mengatasi persoalan ekonomi dan ketahanan pangan, termasuk dalam sektor pertanian. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat menjadi peluang besar bagi petani milenial, tetapi harus dikelola dengan baik agar tidak hanya menjadi proyek jangka pendek yang rawan korupsi atau hanya menguntungkan segelintir pihak.

Islam memberikan solusi dengan menekankan prinsip keadilan dalam distribusi ekonomi, sistem keuangan berbasis syariah, serta pengelolaan pertanian yang berorientasi pada kesejahteraan umat dan keberlanjutan lingkungan. Jika prinsip-prinsip ini diterapkan, maka program MBG tidak hanya sukses dalam jangka pendek, tetapi juga mampu menciptakan ketahanan pangan yang berkelanjutan dan memberdayakan petani secara nyata. Wallahu’ allam bishawab.