Oleh : Nia Umma Zhafran (Aktivis Muslimah)
Dilansir dari tirto.id (02/05/2025), Presiden Probowo Subianto menyoroti minimnya fasilitas pendidikan di sekolah saat memberikan sambutan dalam acara Peringatan Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) di SD Negeri Cimahpar 5, Bogor, Jawa Barat.
Prabowo menyatakan pemerintah pusat telah menetapkan anggaran untuk perbaikan sekolah dengan nilai yang cukup tinggi, yakni mencapai Rp17 triliun. Meski demikian, dia menyadari anggaran dengan nilai fantastis itu hanya dapat merenovasi 11.000 sekolah pada 2025. Sedangkan, total ada lebih dari 300.000 sekolah se-Tanah Air.
Prabowo memperkirakan renovasi seluruh sekolah di Tanah Air membutuhkan waktu hingga 30 tahun. Dan berjanji untuk melakukan efisiensi anggaran dan mengalokasikan dana lebih untuk perbaikan sekolah.
Selama ini realitanya penyelenggaran Pendidikan di Indonesia menemui banyak masalah, baik dari sisi sarana maupun prasarana. Banyak bangunan sekolah tidak layak, gaji guru tidak layak termasuk gaji honorer yang rendah.
Anggaran Pendidikan yang rendah, dan adanya kebocoran /korupsi, berdampak pada buruknya bangunan sekolah, guru dianggap sebagai pekerja dengan beban yg banyak, dan jauh dari sejahtera. Ini adalah potret buram Pendidikan indonesia saat ini.
Semua itu merupakan dampak kebijakan yang berlandaskan kapitalisme termasuk dalam bidang Pendidikan. Dalam sistem kapitalisme, di mana peran negara sangat sedikit, tidak akan mungkin membuat perbaikan dalam penyelenggaraan Pendidikan. Kapitalisasi Pendidikan menyebabkan negara berlepas tangan dari penyelenggaraan Pendidikan, mencukupkan apa yang sudah disediakan swasta. Sehingga sarana prasarana yang disediakan pun minimalis sesuai anggaran yang ada.
Belum lagi persoalan anggaran. Sistem ekonomi kapitalis membuat negara kesulitan menyediakan anggaran, bahkan menjadikan utang sebagai jalan untuk mendapatkan anggran Pembangunan. Tingginya korupsi dalam bidang pendikan makin membuat minimnya dana yang tersedia.
Islam memandang pendidikan adalah bidang strategis yang akan berpengaruh terhadap kejayaan bangsa dan negara. Islam mewajibkan negara bertanggungjawab memenuhi kebutuhan Pendidikan dengan gratis dan kualitas terbaik.
Sistem ekonomi Islam akan mampu menyediakan saran dan prasarana Pendidikan termasuk memberikan penghargaan besar terhadap para guru atau pendidik. Negara memiliki sumber anggaran yang banyak dan beragam dari pengelolaan SDA dan lainnya.
Contoh kegemilangan pendidikan Islam dalam ke-khilafahan Islamiyah dari berbagai aspek. Aspek sarana prasana, dimana lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah, perguruan tinggi yang dilengkapi laboratorium dan pusat-pusat penelitian lainnya, disediakannya penginapan atau asrama bagi siapapun yang ingin belajar dari semua warga negara, dibangunnya masjid-masjid yang bukan hanya sebatas tempat ibadah tapi juga sebagai pusat belajar mengajar yang dilengkapi perpustakaan dan asrama.
Aspek tenaga pendidik (guru/ulama), kompetensinya berkepribadian Islam (bertaqwa), faqih fid din, menguasai ilmu umum, dan diupah secara rutin dengan upah yang sangat tinggi misal pada masa Khalifah Umar 15 dinar (63,7 juta) per tahun, pada masa Abbasiyah Khalifah Harun Al Rasyid upah guru mencapai 2000 dinar pertahun.
Warga negara baik muslim dan non-muslim berhak mendapatkan pendidikan gratis, aktivitas belajar tidak dibatasi dengan usia, laki-laki dan perempuan mendapatkan kesempatan yang sama.
Ini merupakan sebagian contoh penerapan Islam pada sektor pendidikan. Penerapan ini terbukti membawa generasi muslim menjadi generasi terbaik (khairu ummah).
WalLaahua’lam bissawab.











