Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Dalam IG dedimulyadi71, Kang Dedi Mulyadi (KDM) sebagai Gubernur Jawa Barat memberi tema “Semua Demi Anak Anak Kita”. Ini adalah sebuah ajakan “berhamba” pada anak didik, terkait aksesibilitas pendidikan.
KDM membaca data bahwa peringkat 1 provinsi dengan angka putus sekolah adalah Provinsi Jawa Barat. Ini satu soalan besar terkait masa depan generasi Jawa Barat. Peringkat 1 dalam angka putus sekolah adalah “PR” besar.
Rakyat adalah pemilik kedaulatan, namun anak didik adalah pemilik masa depan. Nampaknya KDM sangat futuristik dalam “medesign” masa depan rakyat Jawa Barat. Bila masih ada anak putus sekolah, identik putus masa depan.
Siapa yang paling tahu realitas dan dinamika aksesibilitas pendidikan? Diantaranya, tiada lain adalah entitas kepala sekolah. Tidaklah heran KDM berencana akan mengkoordinasikan semua entitas kepala sekolah se Jawa Barat, di semua jenjang.
Mengapa anak putus sekolah? Diantara asbabnya, sekali lagi diantaranya adalah : 1) masalah internal keluarga, 2) masalah sosial budaya, 3) masalah sebaya/lingkungan, 4) masalah ekonomi, 5) masalah pergaulan bebas dll.
Provinsi Jawa Barat adalah provinsi dengan jumlah sekolah terbanyak, anak didik terbanyak dan tentu aksesibilitas pendidikan pun, paling kompleks. Penduduk jutaan dengan provinsi ratusan ribu tentu beda kompleksitas.
Termasuk masalah aksesibilitas pendidikan berkelindan dengan realitas keseharian dan dinamika layanan pendidikan. Rencana KDM berkordinasi dengan entitas kepala sekolah adalah tepat. Mengapa? Kerena anak putus sekolah data real dan jelimetnya ada di sekolahan.
Asesibilitas pendidikan berarti kemudahan bagi semua individu untuk mengakses dan berpartisipasi dalam pendidikan, terlepas dari latar belakang mereka, kondisi fisik, atau kemampuan.











