OPINI/Artikel

Guru Hebat Versi Herman Suryatman

adminsigiku.com
×

Guru Hebat Versi Herman Suryatman

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Selalu menyala sosok Dr. Herman Suryatman, M.Si., ketika memberikan penguatan dan motivasi pada masyarakat Jawa Barat. Termasuk saat memberikan penguatan pada kepala sekolah dan guru guru sekolah rakyat.

Ia mengajak para guru dan kepala sekolah untuk benar benar fokus di lokus sekolahan dalam membentuk karakter murid. Herman Suryatman mengajak para guru dan kepala sekolah benar benar optimal dalam melayani anak didik dari entitas sekolah rakyat.

Menjadi guru dan kepala sekolah bagi Herman Suryatman adalah patriotic call. Patriotic call adalah panggilan, dorongan, atau kewajiban moral untuk melakukan tindakan nyata demi kepentingan negara, daerah, atau masyarakat.

Panggilan jiwa dan kewajiban moral untuk mendidik harus berbasi kasih sayang. Pastikan semua guru dan kepala sekolah punya kapasitas, kognisi terbaik, mindset terbaik. Bagi Herman Suryatman apa yang ada di pikiran (kognisi) akan melahirkan ucapan dan tindakan.

Bagi Herman Suryatman bila pikiran kita miskin/bodoh maka kata, tindakan dan karyanya pun akan miskin, sehingga melahirkan realitas yang jauh dari sejahtera. Pikiran, mindset dan kualitas terbaik guru dan kepala sekolah akan berkelindan dengan kualitas anak didik.

Bagi Herman Suryatman “Tidak ada anak yang bodoh”. Bila ada guru menganggap anak bodoh maka yang bodoh sebenarnya adalah guru. Ia mengatakan “Stop mengatakan anak bodoh! Semua anak hebat, semua anak punya potensi. Pastikan guru mampu menjadi teman terbaik bagi anak didik.

Anak yang pinter punya potensi 20 persen untuk menjadi orang yang sukses. Anak yang bengal, unik, nakal, punya potensi 80 persen untuk sukses, kalau diasah dengan baik. Tinggal dikemampuan guru dan kepala sekolah dalam menggali dan mengintervensi potensi anak.

Lebih jauh Herman Suryatman mengatakan bahwa basis mendidik dan mengajar harus dari hati, dari kasih sayang yang tulus. Indikasinya bisa tersambung dengan kebatinan anak didik, sampai ada anak didik yang meneteskan air mata, haru, tergugah dan semangat.

Lebih tajam Herman Suryatman mengatakan “Ada masalah dengan bapak ibu (kepala sekolah dan guru) ketika menstigma anak, apa pun masalahnya”. Ia mengajak dan menuntut semua guru menjadi pribadi terbaik dan istimewa. Jangan menjadi guru biasa, atau biasa biasa saja.

Termasuk Sekolah Rakyat dengan Triloginya (1, memuliakan wong cilik, memberi layanan/fasilitas terbaik, 2, menjangkau yang tertinggal (lapisan terbawah), dan 3, memungkinkan yang tidak mungkin/mewujudkan mimpi). Wajib diwujudkan sebagai patriotic call.

Menjadi guru terbaik bagi Herman Suryatman adalah salah satu bentuk panggilan negara untuk kepentingan masa depan bangsa. Dalam bahasa disruptifnya Ia mengatakan “Kita harus sampai sebelum berangkat”. Artinya jangan ngoyo, terlambat, bangsa lain sudah jauh.