Dinamika Indah SPMB

0
123

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Hidup di dunia sekolahan setidaknya ada tiga hal penting. Pertama bagaimana layanan (Sistem Penerimaan Murid Baru) SPMB? Kedua bagaimana layanan keseharian proses pembelajaran ? Ketiga bagaimana kualitas lulusan yang dihasilkan.

Tiga hal di atas berkelindan tak terpisahkan. Namun dari ketiganya ada satu fokus yang lebih menyita perhatian publik. Tiada lain adalah SPMB. Dari tahun ke tahun SPMB selalu penuh dinamika.

Dinamika atau kisruh SPMB dari tahun ke tahun adalah hal yang indah. Mengapa dianggap indah ? Akan menjadi indah bila dilihat dari sudut pandang spiritual dan rasa syukur.

Kita semua layak bersyukur sekali pun dinamika SPMB masih memerlukan perbaikan tiada henti. Dibanding sebuah bangsa yang mulai tidak ada dinamika SPMB di sejumlah sekolah. Mengapa? Karena tidak ada calon murid baru.

Kisah ini terjadi di negeri Jepang. Jepang sedang dilanda krisis populasi. Sejumlah sekolah mulai tutup tidak ada calon murid baru. Jepang salah satu negara dengan krisis kekurangan umat manusia. Apa pun dinamika SPMB di negeri kita, syukuri.

Setiap tahun Jepang menutup 450 sekolah. Dari tahun 2002 hingga tahun 2020, tercatat hampir 9.000 sekolah tutup (https://www.cnnindonesia.com). Dalam kisah sejarah terkenal Kaisar Jepang bertanya, “Berapa jumlah guru yang tersisa?”.

Kini pertanyaan Kaisar Jepang mungkin berubah menjadi “Berapa jumlah murid yang tersisa ?”. Jepang benar benar “menderita” populasi. Kisah “derita” SPMB di Indonesia adalah dinamika semangat memburu sekolah.

Jepang bagaimana ? Jepang kekurangan calon murid baru dan ditutupnya sejumlah sekolahan, bukan dinamika, melainkan petaka bagi masa depan Jepang. Bersyukurlah apa pun dinamika SPMB di negeri kita. Mari layani masyarakat dengan spirit syukur dan tetap NOAH, non diskriminatif, objektif, akuntabel dan humanis.

Orang Sukabumi mengatakan “Hidup di negeri Jepang, tidak lebih indah dari hidup di Jampang”. Hujan emas di negeri orang tidak lebih merindu dari hujan angin dor dar gelap di negeri sendiri”. Dor dar, dar der dor nya SPMB di negeri sendiri, bukan di Jepang.