Ragam

Delapan Krisan Lokal Cianjur Terdaftar, BRIN Dorong Jadi Varietas Unggul

adminsigiku.com
×

Delapan Krisan Lokal Cianjur Terdaftar, BRIN Dorong Jadi Varietas Unggul

Sebarkan artikel ini

Pewarta : Arief

Kabupaten Cianjur — Kekayaan krisan lokal Kabupaten Cianjur terus didorong naik kelas melalui karakterisasi, pendaftaran, hingga pelepasan varietas. Langkah tersebut dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Pemerintah Kabupaten Cianjur untuk memberikan identitas, kepastian status, sekaligus membuka peluang pengembangan komoditas hortikultura bernilai tambah.

Kolaborasi BRIN dengan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan (TPHPKP) Kabupaten Cianjur tersebut berlangsung di Cibodas, Cianjur, Rabu (23/9/2026).

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Hortikultura BRIN, Liauw Lia Sanjaya, mengatakan pendaftaran dan pelepasan varietas lokal merupakan bagian penting dalam pengembangan tanaman hortikultura.

Menurutnya, pendaftaran memberikan identitas dan kejelasan informasi mengenai data serta status kepemilikan varietas. Sementara pelepasan varietas menjadi tahapan untuk memperoleh izin komersialisasi sekaligus memberikan perlindungan hukum bagi pemulia atau pemilik varietas.

“Pendaftaran varietas lokal diperuntukkan bagi varietas khas daerah yang dimiliki masyarakat dan diajukan oleh kepala daerah, baik bupati maupun gubernur,” jelas Lia.

BRIN, kata Lia, memberikan dukungan teknis kepada pemerintah daerah, terutama dalam pendeskripsian varietas, observasi karakter unggul atau unik tanaman, serta pelaksanaan pengujian berdasarkan pedoman Direktorat Jenderal Hortikultura.

Upaya tersebut telah membuahkan hasil. Delapan varietas krisan lokal Cianjur telah terdaftar pada 2025, yakni Nuria Putih, Pompon Hijau, Puma Hijau, Spider Shalek, Laras Hati, Moha, Mados, dan Jalsi.

Sementara pada 2026, sejumlah varietas kembali direncanakan untuk didaftarkan atau dilepas, di antaranya Jimla Kuning (Jalsi Sunny), Rados Kuning (Mados Sunny), Gompi Lemon, Funny Captiva, serta Nuria Putih dan Laras Hati yang telah dilepas.

Lia menegaskan, calon varietas tidak cukup hanya memiliki bunga dengan tampilan menarik. Setiap keunggulan harus dapat dibuktikan melalui observasi dan pengujian terukur.

“Berdasarkan Permentan 25 Tahun 2025 dan petunjuk teknis Direktorat Jenderal Hortikultura, deskripsi varietas harus disusun berdasarkan hasil observasi, dengan pemisahan data kuantitatif dan kualitatif,” ujarnya.

Karakter yang diamati antara lain panjang, berat, produksi, umur tanaman, umur simpan, serta ciri khusus yang menjadi penciri varietas. Sementara ketahanan terhadap organisme pengganggu tanaman (OPT) maupun cekaman lingkungan harus didukung hasil pengujian lapangan atau laboratorium menggunakan metode standar.

Pengujian juga mencakup daya hasil, mutu produk, ketahanan simpan, bentuk tanaman, hingga keunikan organ vegetatif dan generatif. Untuk tanaman hias, preferensi konsumen juga dapat menjadi salah satu aspek penilaian karena berkaitan dengan nilai pasar.

“Uji observasi bertujuan mengetahui sifat-sifat unggul suatu varietas tanaman florikultura pada lingkungan tempat produksinya,” kata Lia.

Bukan Sekadar Nama Varietas

Bagi Cianjur, proses pendaftaran dan pelepasan varietas bukan sekadar memberikan nama pada tanaman lokal. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga sumber daya genetik daerah sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi berbasis hortikultura.

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Cianjur Nurul Hikmat mengapresiasi kolaborasi dengan BRIN yang telah berlangsung selama dua tahun.

“Semoga kegiatan yang sudah dilaksanakan selama dua tahun ini dapat memberikan manfaat bagi petani krisan di Cianjur,” ujarnya.

Kolaborasi riset, pemerintah daerah, dan petani dinilai menjadi kunci agar potensi krisan lokal tidak berhenti sebagai kekayaan genetik, tetapi dapat berkembang menjadi varietas yang memiliki identitas, perlindungan hukum, serta nilai ekonomi.

Dengan karakterisasi dan pengujian berbasis standar, krisan lokal Cianjur kini memiliki peluang lebih besar untuk dikembangkan sebagai komoditas hortikultura unggulan daerah.