Ragam

Bandung World Cinema Hadirkan 207 Film dari 69 Negara

adminsigiku.com
×

Bandung World Cinema Hadirkan 207 Film dari 69 Negara

Sebarkan artikel ini

Pewarta : Ida

Kota Bandung – Bandung World Cinema (BWC) akan menggelar edisi perdana dengan menghadirkan 207 film dari 69 negara pada 14 – 21 November 2026 di CGV Paris Van Java, Jalan Sukajadi, Kota Bandung.

Dari total film tersebut, sebanyak 120 karya merupakan film peraih penghargaan dari berbagai festival film internasional bergengsi.

Sejumlah film yang dijadwalkan hadir di antaranya Fjord karya Cristian Mungiu, Minotaur karya Andrey Zvyagintsev, All of a Sudden karya Ryūsuke Hamaguchi, Naza karya Yuval Abraham dan Rachel Szor, serta Woman Unknown karya May el-Toukhy.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan kehadiran BWC dapat menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong industri kreatif di Kota Bandung.

Menurut Farhan, selama ini dukungan pemerintah terhadap perfilman masih banyak berfokus pada kegiatan penayangan atau screening. Dukungan tersebut dinilai belum memberikan lompatan signifikan terhadap perkembangan industri film lokal.

“Kehadiran BWC dapat menjadi stimulasi bagi ekosistem perfilman di Kota Bandung,” kata Farhan dalam konferensi pers BWC di Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalem Kaum, Senin (5/10/2026).

Farhan menginstruksikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung memantau langsung pelaksanaan festival, termasuk respons publik dan proses kurasi film.

Hasil pemantauan tersebut, kata dia, dapat menjadi bahan evaluasi pemerintah untuk menyusun kebijakan yang lebih tepat dalam meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap film sekaligus mengembangkan ekosistem perfilman.

Dorong Ekonomi Kreatif Jadi Industri

Farhan mengatakan predikat Bandung sebagai kota kreatif harus diikuti dengan kemampuan menerjemahkan kreativitas menjadi aktivitas ekonomi dan industri.

Menurutnya, setiap subsektor ekonomi kreatif harus diarahkan agar memiliki ekosistem industri yang kuat dan berkelanjutan.

“Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menyalurkan ekonomi kreatif menjadi industri kreatif yang mapan,” ujarnya.

Ia menegaskan pemerintah memiliki peran dalam menjaga agar ekosistem perfilman tetap hidup.

“Jika pemerintah gagal menjaga ekosistem ini, maka sama artinya dengan mematikan salah satu subsektor ekonomi kreatif kebanggaan Kota Bandung,” katanya.

BWC Digelar Hybrid

Executive Director BWC Frederica mengatakan festival tersebut merupakan bagian dari komitmen KlikFilm untuk memperluas akses masyarakat terhadap sinema dunia.

BWC tidak hanya digelar secara luring, tetapi juga secara daring melalui KlikFilm. Pemutaran daring berlangsung mulai 31 Oktober hingga 21 November 2026, sedangkan pemutaran luring digelar 14 – 21 November.

“Festival ini dirancang untuk menjadi ruang pertemuan yang inklusif bagi sineas, mahasiswa, komunitas film, pelaku industri, serta penonton,” ujar Frederica.

Selain pemutaran film, BWC menghadirkan program edukasi In Conversation With pada 15 – 19 November 2026 di CGV Paris Van Java.

Program tersebut mempertemukan pelaku perfilman dengan sineas muda dan komunitas film melalui diskusi interaktif mengenai proses kreatif, keterampilan perfilman dan dinamika industri.

Ditutup Open Air Cinema

Rangkaian BWC akan ditutup dengan Open Air Cinema di Taman Balai Kota Bandung pada 21 November 2026.

Program tersebut menghadirkan pemutaran film pendek karya mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung sebagai ruang apresiasi sekaligus pertemuan antargenerasi dalam ekosistem perfilman lokal.

Open Air Cinema juga akan menayangkan Lewat Djam Malam, film klasik karya Usmar Ismail yang telah direstorasi dan memiliki keterkaitan sejarah serta kultural dengan Kota Bandung.

Steering Committee BWC Pidi Baiq mengatakan festival tersebut tidak hanya diarahkan sebagai ajang pemutaran film, tetapi juga ruang pertemuan masyarakat dan komunitas.

“Festival ini bukan cuma soal nonton film bagus, tapi ini adalah ruang ‘nongkrong’ bareng dari mahasiswa, pembuat film, sampai masyarakat umum. Kita kumpul, kita apresiasi karya lokal, dan kita rayakan sinema,” kata Pidi.

Melalui rangkaian program tersebut, BWC diharapkan menjadi ruang temu bagi penonton, sineas, mahasiswa, komunitas dan pelaku industri sekaligus memperkuat ekosistem perfilman di Kota Bandung.