Ragam

Di Balik Sirene Damkar Bandung: Risiko, Pengabdian, dan Keluarga yang Menanti

adminsigiku.com
×

Di Balik Sirene Damkar Bandung: Risiko, Pengabdian, dan Keluarga yang Menanti

Sebarkan artikel ini

Pewarta : Ida

Kota Bandung – Sirene meraung, kendaraan melaju menembus jalanan, dan petugas bergegas menuju lokasi kejadian. Bagi petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmatan) Kota Bandung, situasi seperti itu menjadi bagian dari keseharian yang tidak pernah bisa diprediksi.

Panggilan darurat bisa datang kapan saja, ketika mereka sedang berlatih, memeriksa kendaraan, beristirahat, atau menjalankan aktivitas rutin di markas. Kebakaran, evakuasi korban, hingga penyelamatan hewan menjadi bagian dari tugas yang menuntut kesiapan fisik, keterampilan, dan keberanian.

Namun, di balik seragam dan tugas berisiko tersebut, ada sisi lain yang jarang terlihat: kecemasan menghadapi bahaya, tanggung jawab terhadap sesama anggota regu, serta keluarga yang menunggu mereka pulang dengan selamat.

Di Markas Komando (Mako) Diskarmatan Kota Bandung, Jalan Sukabumi, kesiapsiagaan dibangun sejak awal hari. Pukul 07.30 WIB, personel mengikuti apel gabungan, menjalani pembinaan fisik, serta memeriksa kendaraan dan perlengkapan sebelum kembali bersiaga menghadapi panggilan darurat.

Bagi Sendi Saputra, petugas penyelamatan Diskarmatan Kota Bandung yang telah bertugas sejak 2017, pemeriksaan tersebut bukan sekadar rutinitas. Setiap perlengkapan harus dipastikan berfungsi dengan baik karena dalam situasi darurat, kesalahan kecil dapat berdampak besar.

Pemeriksaan kendaraan meliputi oli mesin, oli rem, hingga air radiator. Sementara itu, peralatan penyelamatan seperti gergaji mesin, pompa, alat derek, dan perangkat khusus lainnya harus selalu dalam kondisi siap pakai.

Salah satu alat yang mendapat perhatian khusus adalah combination tool, perangkat multifungsi yang digunakan untuk membantu proses penyelamatan dalam kondisi tertentu. Karena memiliki peran penting dan tidak mudah diperoleh, peralatan tersebut harus dirawat dengan cermat.

Bagi Sendi dan rekan – rekannya, kesiapan peralatan menjadi bagian penting dari keberhasilan penanganan di lapangan. Mereka tidak bisa menunggu hingga keadaan darurat terjadi untuk mengetahui bahwa sebuah alat tidak berfungsi.

Dari Evakuasi Hewan hingga Penyelamatan Korban

Tugas Sendi tidak terbatas pada penanganan kebakaran. Sebagai petugas penyelamatan, ia bersama tim menangani beragam laporan nonkebakaran, mulai dari mengevakuasi hewan yang masuk ke rumah atau sumur, membantu warga melepaskan cincin yang tersangkut, hingga menangani kecelakaan dan situasi darurat lainnya.

Pekerjaan tersebut membutuhkan keterampilan yang beragam. Petugas harus siap menghadapi medan dengan tingkat kesulitan berbeda, baik di ketinggian maupun di kedalaman.

Sendi merupakan salah satu personel yang memiliki sertifikasi rescue diver atau penyelam penyelamatan. Kemampuan itu menuntut penguasaan teori, teknik penyelaman, dan prosedur keselamatan yang tidak bisa dipelajari secara instan.

Baginya, penyelaman menjadi salah satu keterampilan paling menantang, terlebih ketika dilakukan untuk mencari atau mengevakuasi korban. Setiap tindakan membutuhkan perhitungan matang dan pemahaman terhadap risiko yang mungkin muncul.

Meski kini telah menjalani pekerjaan tersebut selama hampir sembilan tahun, Sendi mengaku awalnya tidak memiliki ketertarikan khusus terhadap dunia pemadam kebakaran dan penyelamatan.

“Awalnya saya cuma mengikuti kemauan orang tua. Ketika Damkar membuka lowongan, orang tua memberi informasi. Sebetulnya saya tidak suka. Setelah setahun menjalani, mulai senang. Tahun ketiga malah makin senang karena bisa menolong orang,” tuturnya saat ditemui di Mako Diskarmatan Kota Bandung, Kamis (15/10/2026).

Seiring bertambahnya pengalaman, pandangannya terhadap pekerjaan itu berubah. Ia menemukan kepuasan ketika berhasil membantu orang yang membutuhkan pertolongan.

Ucapan terima kasih sederhana dari warga menjadi penyemangat tersendiri. Bagi Sendi, nilai pengabdian tidak diukur dari imbalan materi, melainkan dari manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat.

Ia menegaskan, petugas tidak menerima uang atas pertolongan yang diberikan. Jika ada warga yang hendak memberikan uang, pemberian tersebut akan ditolak.

Pengalaman selama bertugas juga menyisakan sejumlah kejadian yang sulit dilupakan. Salah satunya ketika tim harus mengevakuasi seorang anak yang tangannya tertancap pada pagar. Petugas memotong bagian pagar agar anak tersebut dapat dilepaskan, kemudian membawanya ke rumah sakit.

Pengalaman lain datang dari pencarian korban hanyut. Dalam situasi seperti itu, tugas penyelamatan tidak selalu selesai ketika petugas tiba di lokasi. Dibutuhkan rangkaian upaya, koordinasi, dan penanganan yang cermat agar proses evakuasi berjalan aman.

Risiko yang dihadapi bahkan dapat meningkat ketika kebakaran terjadi di lokasi penyimpanan bahan berbahaya. Sendi pernah menghadapi kebakaran di sebuah gudang yang menyimpan amunisi dan senjata api.

Situasi tersebut menghadirkan ancaman tambahan karena paparan panas berpotensi memicu bahaya yang sulit diprediksi.

Meski demikian, Sendi mengaku rasa takut tetap ada. Ia tidak menganggap dirinya kebal terhadap risiko yang dihadapi setiap kali menjalankan tugas.

Sebelum berangkat, ia berdoa, mengikuti prosedur, dan mengandalkan keterampilan yang telah dipelajari melalui latihan.

Keluarga juga menjadi bagian penting dari persiapannya. Sebelum menuju lokasi kejadian, Sendi berusaha mengabari keluarga agar mereka mengetahui bahwa dirinya sedang bertugas. Setelah pekerjaan selesai, ia kembali memberi kabar bahwa dirinya telah kembali dengan selamat.

Di tengah ketidakpastian dan risiko pekerjaan, Sendi memegang prinsip yang selalu diingatnya.

“Tidak ada pemadam dan penyelamat yang hebat, tapi adanya pemadam dan penyelamat yang terlatih. Jadi, jangan bosan untuk berlatih.”

Berpacu dengan Waktu, Tetap Mengutamakan Keselamatan

Jika Sendi memastikan perlengkapan penyelamatan siap digunakan, Maulana Iqbal bertanggung jawab memastikan kendaraan pemadam dapat beroperasi dengan baik.

Sebagai operator Regu 2 Pleton 2 Diskarmatan Kota Bandung, Iqbal memeriksa kondisi mesin kendaraan dan pompa yang menjadi penentu kelancaran operasi pemadaman.

Perjalanannya di dunia pemadam kebakaran dimulai sebagai relawan pada 2010. Ia kemudian mengikuti seleksi tenaga harian lepas pada 2015 dan kini berstatus pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) paruh waktu.

Menurut Iqbal, perawatan kendaraan pemadam tidak hanya didasarkan pada jarak tempuh, tetapi juga jam kerja mesin. Mesin dan pompa dapat terus beroperasi selama proses pemadaman, meskipun kendaraan tidak bergerak.

Tantangan lain muncul ketika armada meninggalkan markas. Kendaraan berukuran besar harus melewati jalan sempit, gapura rendah, kendaraan yang terparkir, hingga kemacetan di sejumlah ruas Kota Bandung.

Diskarmatan menetapkan target waktu respons maksimal 15 menit sejak laporan diterima hingga petugas tiba di lokasi. Persiapan keberangkatan dapat dilakukan dalam waktu kurang dari lima menit, sedangkan durasi perjalanan sangat bergantung pada kondisi lalu lintas dan akses menuju lokasi.

“Kalau kami sering dikatakan terlambat, sebenarnya kami terhambat,” ujar Iqbal.

Pernyataan itu menggambarkan tantangan yang dihadapi petugas saat berupaya menjangkau lokasi kejadian secepat mungkin. Di satu sisi, mereka berpacu dengan waktu untuk mengurangi dampak kebakaran. Di sisi lain, keselamatan selama perjalanan tetap harus menjadi prioritas.

Penggunaan sirene dan lampu rotator bukan berarti petugas dapat mengabaikan kehati – #rescue

hatian. Setibanya di lokasi, setiap anggota regu juga harus menjalankan tugas sesuai peran dan arahan.

Bahkan setelah api berhasil dipadamkan, pekerjaan belum sepenuhnya selesai. Petugas harus memastikan lokasi aman, memeriksa perlengkapan, memastikan seluruh anggota regu lengkap, serta menyiapkan kembali kendaraan untuk menghadapi panggilan berikutnya.

Bagi Iqbal, salah satu momen paling membahagiakan adalah ketika melihat warga kembali tenang setelah kebakaran ditangani dan memastikan tidak ada korban.

Lambaian tangan serta ucapan terima kasih dari masyarakat menjadi penyemangat untuk terus bekerja dan berlatih.

Namun, ada pula perasaan sedih ketika perjalanan menuju lokasi terkendala. Ia membayangkan, jika petugas dapat tiba lebih cepat, api mungkin masih dalam kondisi kecil sehingga dampak kebakaran dapat ditekan.

Setelah menjalani tugas, Iqbal menemukan sumber semangatnya di rumah. Melihat istri dan anaknya yang masih kecil membuat rasa lelah terasa berbeda.

Keluarga menjadi alasan baginya untuk terus menjaga diri, meningkatkan kemampuan, dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.

207 Personel Pemadaman dan 43 Personel Penyelamatan

Kesiapsiagaan Sendi dan Iqbal merupakan bagian dari sistem kerja yang lebih besar. Pengaturan personel, armada, jadwal piket, dan prosedur menjadi penopang agar layanan pemadam kebakaran dan penyelamatan tetap berjalan sepanjang hari.

Kepala Bidang Pemadaman Diskarmatan Kota Bandung, Leonard, menjelaskan bahwa petugas bekerja dengan sistem piket selama 24 jam.

Bidang pemadaman didukung 207 personel dan empat unit pelaksana teknis di wilayah utara, selatan, timur, dan barat. Sementara itu, tim penyelamatan memiliki 43 personel.

Untuk menunjang operasional, Diskarmatan memiliki 20 unit mobil pancar, tiga mobil tangki air, kendaraan tangga, dua kendaraan penyelamatan (rescue), serta kendaraan pendukung lainnya.

Berdasarkan data Diskarmatan Kota Bandung, sepanjang Januari hingga September 2026 tercatat 49 kejadian kebakaran. Pada periode yang sama, terdapat 135 kejadian animal rescue atau penyelamatan hewan dan 19 kejadian human rescue atau penyelamatan manusia.

Leonard mengatakan, kebakaran lahan terbuka menjadi salah satu perhatian saat musim kemarau. Kejadian semacam itu banyak ditemukan di wilayah utara dan timur Kota Bandung yang masih memiliki lahan terbuka.

Sementara itu, kawasan permukiman padat dengan akses jalan sempit menghadirkan tantangan tersendiri bagi petugas. Penanganan kebakaran tidak hanya berkaitan dengan upaya memadamkan api, tetapi juga kondisi bangunan, ketersediaan sumber air, akses kendaraan, serta keselamatan warga di sekitar lokasi.

Karena itu, latihan rutin menjadi bagian penting dalam membangun kesiapan personel. Keberanian, menurut Leonard, harus didukung keterampilan, kedisiplinan, dan kepatuhan terhadap prosedur.

“Pemadam itu bukan orang yang jago, tetapi orang yang terlatih,” kata Leonard.

Di Balik Tugas, Ada Keluarga yang Menunggu

Di balik sirene yang meraung, ada petugas yang terus berlatih, memeriksa kendaraan, merawat perlengkapan, dan bersiap menghadapi situasi yang tidak selalu dapat diprediksi.

Mereka berangkat untuk membantu orang lain, menghadapi risiko yang bisa berubah setiap saat, lalu berusaha menyelesaikan tugas dengan sebaik – baiknya.

Bagi Sendi, Iqbal, dan rekan – rekan mereka, keberhasilan bukan semata – mata ketika api berhasil dipadamkan atau korban berhasil dievakuasi. Ada satu hal lain yang tidak kalah penting: memastikan seluruh anggota regu dapat kembali dengan selamat.

Sebab, setelah tugas berakhir, ada rumah yang menanti, keluarga yang berharap, dan orang-orang terkasih yang selalu menunggu mereka pulang.