OPINI/Artikel

Bangsa Dilihat Akhlaknya Bukan Agamanya

adminsigiku.com
×

Bangsa Dilihat Akhlaknya Bukan Agamanya

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)

Ceramah Ketua Umum PBNU Prof.Dr.KH.Said Aqil Siradj,M.A, cukup “menampar” kita. Ia mengatakan, “Bangsa ini bermartabat, dihargai orang kalau akhlaknya mulia, kalau budayanya bagus. Mohon maaf bukan agamannya, mohon maaf bukan agamanya”. Ini pernyataan yang subtantif dari seorang kiyai besar yang dipercaya memimpin ormas terbesar di negeri ini.

Ya dalam percaturan kehidupan umat manusia agama adalah pilihan, warisan dan bahkan ada yang tidak beragama tapi berTuhan. Faktannya sejumlah orang yang buang sampah sembarangan di trotoar, buang sampah ke sungai, merokok diangkutan umum, korupsi dan kriminal mayoritas orang yang beragama.

Kalau kita “sensus” ke hotel prodeo di negeri kita dapat dipastikan mereka semua beragama apa pun agamanya. Orang melihat orang lain, apalagi sepintas akan dilihat performa dan akhlaknya. Agama seseorang tidak mudah terlihat kecuali dilihat KTPnya atau melakukan ritual di tempat ibadat suatu agama.

Pendapat KH Said Aqil Sirodj adalah pendapat ulama yang matang dan berdasar kajian. Bahkan Ia mengatakan moralitas, disiplin, sadar hukum, tidak korupsi, berbuat adil, ada kemakmuran dan kesejahteraan. Apa pun agamanya martabat bangsa bila variabel di atas dilaksanakan martabatnya akan naik.

Martabat bangsa bagi KH Said Aqil Sirodj bukan karena agamanya apa, melainkan akhlaknya bagaimana ? Kalau kita lacak jejak diturunaknnya para Nabi maka mereka semua diturunkan untuk memperbaiki akhlak. Akhlak adalah hal yang sangat universal. Apa pun agamanya, jaman apa pun, Nabi mana pun adalah pembawa pesan perbaikan akhlak.

Martabat bangsa merosot bukan karena menganut agama apa melainkan karena kerusakan akhlak. Lebih pedas lagi KH Said Aqil Sirodj malah “memberi contoh buruk” negara-negara Arab kontekstual. Agamanya orang Arab benar, akidahnya benar, semua ajaran agama dilaksanakan “tapi perang saudara terus” sudah 40 tahunan perang saudara, jutaan korban.

Bangsa Arab yang perang saudara puluhan tahun tidak bermartabat menurutnya. Mereka akhlaknya bobrok, budayanya hancur, carut marut walau pun teologinya benar. KH Said mencoba memberikan contoh kok ke negeri Arab ? Mungkin ada maksud agar kita bisa membedakan antara Arabisasi dengan Islamisasi dua hal yang berbeda.

Arabisasi terkait budaya, kalau Islamisasi non budaya. Budaya Arab tidak sama dengan ajaran Islam. Agama Islam lahir di Arab tapi bukan produk budaya Arab. Walau pun faktanya agama Islam dibesar sebarkan di Arab. Mengapa di Arab ? Sebagian orang berpendapat karena di Arablah keajahiliyahan paling bobrok pernah terjadi.

Sebagai orang Indonesia kita beruntung punya budaya yang jauh lebih baik dibanding Arab jaman jahiliyah. Budaya kubur manusia hidup-hidup, budaya bunuh bayi perempuan dan budaya merendahkan martabat perempuan tidak terlalu ektrim terjadi di negeri kita. Bahkan di negeri kita ada budaya matrilineal.

Kita sepakat bahwa akhlak dan karakter kebangsaan menentukan martabat bangsa. Rasulullah bersabda, “Kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya, paling mudah bersahabat dan disahabati. Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bersahabat dan tidak disahabati.”

Rosulullah bersabda, “Orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah yang paling bagus akhlaknya, paling lapang jiwanya, serta yang mudah menerima orang lain dan mudah diterima orang lain. Sedangkan orang yang paling aku benci adalah yang suka mengadu domba, memutus hubungan di antara orang-orang yang saling mencintai, dan mencari-cari kesalahan orang lain yang tidak bersalah”.

Sungguh Tuhan telah menciptakan dan “mengijinkan” sejumlah agama hadir di muka bumi ini. Tapi ada satu yang harus sama yakni keunggulan akhlak. Moralitas, mentalitas dan akhlakul karimah harus menjadi performa semua penganut ajaran agama. Mengapa? Karena orang lain tidak melihat KTP agama kita tetapi melihat sumbangsih akhlak mulia kita !.