OPINI/Artikel

Klenik Perdukunan Yang Berujung Modus Pelecehan

adminsigiku.com
×

Klenik Perdukunan Yang Berujung Modus Pelecehan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Elah Hayani (ibu rumah tangga)

Tindakan asusila menimpa gadis dibawah umur yang masih duduk di bangku SMA. Peristiwa ini terjadi di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa barat. Pelakunya pria berusia 46 yang bernama Abah W, yang mengaku sebagai dukun yang mempunyai kesaktian. Kapolresta Bandung Kombes pol Kusworo mengatakan, bahwa terungkapnya kasus pelecehan, ketika pelaku menerima pasien (berusia 16 tahun) untuk disembuhkan dari penyakit guna- guna atau pelet. Kronologi kejadiannya, anak tersebut menangis karena telah putus dari pacarnya, lalu Abah W’ melakukan pengobatan agar anak tersebut tidak teringat-ingat lagi kepada mantannya, hingga aksi pelecehanpun terjadi kepada anak tersebut, kemudian keluarga korban melaporkan kejadian tersebut ke polresta Bandung.

Potret masyarakat kita yang masih mempercayai klenik, padahal Indonesia adalah negara yang mayoritas muslim, tetapi masih percaya dengan hal-hal mistis yang diluar akal manusia. Keberadaan praktek perdukunan yang marak terjadi dijadikan solusi yang paling mudah dan murah dalam menghadapi berbagai macam masalah kehidupan. Seperti masalah yang terjadi di kabupaten Bandung tersebut. Mungkin ini hanyalah satu kasus dari sekian banyak kasus serupa yang terjadi, mereka meminta bantuan dukun untuk menyelesaikan masalahnya. Namun, bukannya menyelesaikan masalah mereka, malah menambah masalah baru, karena berujung pelecehan terhadap korban, berupa tindakan asusila.

Parahnya lagi, negara menjadi contoh praktek klenik seperti ritual kendi dan aksi pawang hujan yg berlangsung di sirkuit mandalika saat motoGP. Klenik yang dipraktekkan, mengakibatkan semakin vsulit menjaga kewarasan rakyat di tengah tidak adanya perlindungan negara terhadap akal dan mental masyarakat. Akibat berbagai tekanan hidup yang mendera masyarakat saat ini, seperti masalah ekonomi yang makin mencekik karena harga bahan pokok yang melambung tinggi, juga lemahnya akidah (keimanan) masyarakat, sehingga banyak sebagian masyarakat yang mengambil jalan pintas untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidupnya, seperti tindakan kriminal pencurian juga penipuan dengan modus perdukunan yang mengarah pada tindakan asusila.

Realitas ini menunjukkan bahwa masyarakat kita sedang sakit, akibat jauh dari agama Islam yang mereka anut. Agama hanya diakui dan dilaksanakan dalam ranah ritual, seperti sholat, shaum, zakat, akhlak, tapi tidak dipakai untuk mengatur dan menjadi solusi dalam ranah publik, seperti perekonomian, pergaulan, pendidikan, bahkan politik. Inilah kehidupan sekuler- kapitalistik yang memang menjauhkan agama dari kehidupan. Manusia menganut kebebasan, sehingga mengedepankan hawa nafsu, dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik naluri maupun hajatul udlowiyah ( kebutuhan jasmani). Hal inilah yang akhirnya akan menimbulkan masalah, seperti kerusakan akal dan mental manusia yang tampak dari ketidakmampuan manusia dalam memecahkan masalah kehidupannya dengan benar, sehingga mudah stres atau depresi, dan terjebak dalam jalan pintas yang diambil, seperti praktek perdukunan.

Di dalam Islam, klenik termasuk praktek perdukunan adalah sebuah kemusyrikan, karena mempercayai adanya zat lain yang lebih kuasa dari Sang Pencipta alam semesta yaitu Allah SWT. Dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 36, Allah SWT berfirman: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukannya dengan sesuatu apapun”.

Menyekutukan Allah telah menodai keimanan seorang muslim, dan merupakan dosa besar yang akan mengundang azab Sang Kholik, sang pemilik alam semesta. Untuk itu umat harus kembali menguatkan keimanannya terhadap Allah SWT, beserta lima rukun iman yang lain, sehingga keimanan ini akan menjadi pondasi ketika menjalankan kehidupan ini, semata untuk ketaatan kepada Allah. Menjadikan halal dan haram sebagai tolak ukur perbuatan, dengan memahami aturan-aturan Allah yang sempurna, untuk diterapkan dalam kehidupannya.

Hal tersebut membutuhkan peran keluarga, masyarakat, dan negara yang memiliki keinginan yang sama untuk menghadirkan ketakwaan di dalam diri individu muslim. Selain pendidikan dalam keluarga, juga masyarakat yang saling peduli dalam aktivitas amar makruf nahi munkar, serta negara yang menjalankan sistem pendidikan berbasis Islam.

Negara akan mencegah faham-faham yang merusak keimanan umat, termasuk praktek kesyirikan, dan memberikan sanksi yang tegas kepada para pelakunya.

Wallahu’alam bishshawab