Keterangan Foto : AIS RAIS , Ketua FPK-P Tasikmalaya
Pewarta : Tono Efendi
Koran Sinar Pagi, (Kota Tasikmalaya),- Sorotan Tajam terhadap kasus dugaan bobolnya kredit fiktif di Bank CIJ Tasikmalaya, kini kian meluas mendapat sorotan tajam dari sejumlah pihak.
Kali ini datang dari Ketua LSM Forum Pemerhati Kebijakan Publik (FPK-P) Tasikmalaya, Ais Rais.
Menurut Ais, Kasus yang kini sedang ditanggani oleh pihak Kejasaan Negeri Singaparna Kabupaten Tasikmalaya itu, seharusnya menjadi pelajaran dan tamparan keras bagi dunia perbankan khususnya di Kabupaten dan Kota Tasikmalaya agar selalu berhati hati serta teliti dalam mencairkan kredit kepada para nasabah krediturnya.
“Kasus dugaan kredit fiktif yang dialami Bank CIJ, merupakan sebuah tamparan keras bagi dunia perbankan di Tasikmalaya. Kasus ini tentunya tidak mungkin terjadi jika tidak ada keterlibatan oknum orang dalam Bank itu sendiri, yang disinyalir adanya konspirasi dengan oknum ASN di bagian Pembangunan Kota Tasikmalaya,” kata Ais.
Ais menduga, kecerobohan dan kelalaian pihak Bank CIJ merupakan salah satu alasan mengapa Bank Milik Pemkab Tasikmalaya itu dibobol hingga Milyaran Rupiah.
Bahkan Ais menyoroti statemen Kepala OJK Tasikmalaya yang dimuat Koran Sinar Pagi beberapa waktu lalu, dimana pihak OJK Tasikmalaya dinilai sepihak hanya mendengarkan laporan pihak Bank CIJ.
Dalam keterangan Kepala OJK Tasikmalaya disebutkan, jika program kredit yang dicairkan kepada pihak kontraktor atau rekanan CV yang dituduhkan menerima uang kredit tadi, dalam keterangan pihak OJK atas laporan Bank CIJ, ternyata tidak perlu dilakukan survey kelokasi atau OTS (on the sport), melainkan cukup dengan by phone, dikarena kondisi lokasi kantor bank di wilayah Kabupaten Tasikmalaya selatan cukup jauh dengan lokasi survey di Kota Tasikmalaya.
Anehnya, pihak OJK sendiri terkesan membenarkan system’ survey yang di lakukan Bank CIJ tidak perlu OTS. Bahkan pencairan kredit nya pun dilakukan secara transfer ke rekening perusahaan.
Dan keterangan Kepala OJK Tasikmalaya ini sangat bertolak belakang dengan keterangan salah satu sumber yang juga pemilik CV, yang menyebutkan jika pencairan kredit yang pertama itu dilakukan di salah satu kantor notaris di Kota Tasikmalaya dengan membawa uang pencairan oleh salah satu oknum pegawai Bank CIJ yang diterima langsung oleh oknum staf bagian pembangunan kota Tasikmalaya.
“Seharusnya pihak OJK Tasikmalaya selaku pengawas Jasa Perbankan, mengundang beberapa pihak agar duduk bersama untuk dimintai klarifikasi baik dari pihak Bank CIJ, Para pemilik CV dan bagian pembangunan Kota Tasikmalaya, bukan mendengar keterangan sepihak dari Bank CIJ,” tegas Ais.
Sebetulnya pokok permasalahan kredit fiktif ini timbul dikarenakan adanya dugaan konspirasi antara oknum Bank CIJ dengan Oknum Staf di Bagian Pembangunan Kota Tasikmalaya.
Adapun pihak pemilik CV disinyalir hanya sebagai umpan untuk menarik uang kredit fiktif sehingga terjadilah pembobolan bank cij.
“Jika tak ada konspirasi antara oknum Bank CIJ dan Oknum ASN dibagian Pembangunan Pemkot Tasikmalaya, rasanya kejadian bobolnya bank CIJ yang jumlahnya cukup fantastis hingga Milyaran rupiah itu, pastinya tidak akan terjadi,” ujar aktivis Tasikmalaya yang selalu berjaket kulit ini kepada Koran Sinar Pagi, Rabu (20/7/2022) sore tadi.
Ais pun berharap, OJK (Otoritas Jasa Keuangan) sebagai lembaga yang mengawasi perbankan, seharusnya bekerja profesional dan tetap komitmen mengedepankan independen, jangan ada kesan berpihak kepada salah satu perbankan yang jelas jelas kasus Jebolnya kredit fiktif ini merupakan salah satu bukti ketaledoran dan kelalaian Bank CIJ dalam menyalurkan program kredit.
Memang saat ini, masih kata Ais, persaingan perbankan dalam mengejar target dari program kredit ini dilakukan berbagai macam ide, namun setidaknya cara cara tersebut harus sesuai aturan perbankan dengan tidak mengeyampingkan aturan aturan perbankan,ujarnya.
“Saat ini kita lihat saja dulu proses hasil pemeriksaan di Kejaksaan Negeri Singaparna, jika dalam penangganan terindikasi ada sesuatu, FPK-P akan membawa kasus ini ke Kejati dan Polda Jabar,” ancam Ais dengan nada serius.
