Orang Sunda Jangan Percaya

0
342

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

Sebuah lagu sangat indah dalam bahasa Sunda bisa kita dengar. Syairnya berbicara terkait kisah Kian Santang dan Prabu Siliwangi. Lagunya enak didengarkan tapi syairnya menurut Saya ngaco (eror). Mengapa ngaco ? Karena dalam syair itu dijelaskan Prabu Kian Santang mengejar Prabu Siliwangi karena menolak mau di Islamkan.

Ini kisah tak elok dan ngaco, masa ada anak raja mengejar bapaknya seorang raja sampai kabur ke hutan karena tak mau diislamkan. Lebih ngaco lagi Prabu Siliwangi raib jadi Harimau Siluman. Ini kisah ngaco jilid dua. Manusia lebih tinggi derajatnya dari harimau atau makluk halus. Ini merendahkan derajat leluhur Sunda.

Orang Sunda itu sangat ramah, apalagi pada orangtua. Kisah bohong Prabu Kian Santang mengejar-ngejar Prabu Siliwangi karena mau diislamkan harus diubah. Hal yang mungkin terjadi adalah Prabu Kian Santang masuk Islam dan orangtuanya mempersilahkan / moderat mengelola kerajaan dalam manajemen Islamik.

Prabu Siliwangi sendiri tetap menjadi penganut Sunda Wiwitan yang menurutnya ada esensi yang sama terkait spiritual. Prabu Siliwangi sebagian rakyat Sunda senior yang saat itu masih belum siap masuk Islam dan taat pada pepatah leluhur yang sangat baik dan bijak. Setia pada nilai-nilai kebaikan warisan leluhur.

Bahkan ada pula kisah bohong Prabu Kian Santang bertemu Sayidina Ali. Sayidina Ali dalam sosok orangtua. Padahal tahun hidup Sayidina Ali dan era Pajajaran jauh beda. Sudah beda ratus tahun. Kisah bohong ini masih mengendap dalam sebagian rakyat Sunda. Bahkan seorang penceramah menyampaikannya dengan semangat. Semangat ngaco. Saatnya hal yang ngaco mesti diperbaiki.

Fakta sejarahnya kehidupan Sayidina Ali RA adalah abad ke 7 an dan Kian Santang abad ke 15 an. Sangat anakronis, dishistori kisah ngaco demi cocokologi dan superioritas kesundaan, menghubungan tokoh muda Sunda Islam dengan Sayidina Ali RA. Ketemu Sayidina Ali RA dan anak mengejar-ngejar bapaknya adalah ngaco.

Zaman buta huruf dengan zaman buta literasi sudah berbeda. Zaman buta huruf masyarakat kita mudah ditipu dan tertipu. Kini zaman literasi, segalanya harus lebih nalar dan faktual. Kecuali buta literasi, bisa baca tapi tak kritis atau skeptis.

Saatnya orang Sunda mengubah kisah sejarah menyesatkan yang merendahkan derajat leluhur Sunda. Ganti dengan kisah faktual yang objektif atau narasi heroik orang Sunda yang lebih baik. Orang Sunda sangat menghormati orangtua, tetangga bahkan pendatang.

Misal dalam kisruh PPDB setiap tahun di tanah Sunda banyak orang oknum non sunda, pendatang dari sono. Selalu bikin ribut atas nama pribadi atau ormas. Mereka orang luar Sunda yang tetap oleh orang Sunda dihagai. Walau mereka kadang tak tahu diri sebagai pendatang tapi ngaco, mengacau di tanah Sunda. Muncul sindiran dari orang Sunda yang mengatakan, “Bila sampah dibuang pada tempatnya, maka orang non Sunda yang buat ribut di tanah Sunda saat PPDB, kembalikan ke kampung halamannya”. Tong ngaco, ngajago di tanah Sunda.

Saya mengalami oknum non Sunda berkata, bertindak kasar di sekolah saat PPDB. Mengintimidasi guru, kepala sekolah, mereka oknum non Sunda. Darah Prabu Siliwangi dalam diri mulai protes walau tetap akomodatif. Orang Sunda masih menghormati mereka walau ngaco. Apalagi pada orangtua sendiri. Jadi tak mungkin Kian Santang mengejar-ngejar Prabu Siliwangi. Ngaco.

Mari kita tolak setiap narasi yang merendahkan derajat mental kolektif orang Sunda. Bahkan kata Doel Sumbang menyemangati orang Sunda. Ia dalam syair lagunya mengatakan, “Si Kabayan adalah orang Sunda tapi orang Sunda bukan Si Kabayan”. Orang Sunda bukan pemalas dan tuna literasi. Orang Sunda ramah dan pembelajar.

Bukankah Bung Karno “belajar” kehidupan dari orang Sunda bernama Ingit Garnasih. Ibarat Muhammad muda sebelum jadi Nabi belajar pada Siti Khadijah. Bung Karno pun orang Jawa belajar pada orang Sunda bernama Ingit Garnasih. Ingit Garnasih, lembut, dewasa dan berwawasan.

Tidak ada anak Sunda mengejar-ngejar bapak untuk diislamkan. Nabi Muhammad SAW saja tidak mengejar-ngejar pamannya Abu Thalib. Ia sangat menghormati pamannya Abu Thalib yang tak masuk agama Islam. Sampai akhir hayat paman nabi yang Ia cintai tidak masuk Islam. Sama dengan Prabu Siliwangi.

Paman Abu Thalib orang baik, melindungi Nabi Muhammad SAW. Begitu pun Prabu Siliwangi apalagi pada anaknya sangat melindungi dan menghormatinya. Orang Sunda adab dan kebudayaannya lebih soft dari orang Arab. Arab Jahiliyah adalah fakta sejarah. Di Sunda tidak ada era atau periode Sunda Jahiliyah.