Kenaikan Harga BBM, PMII Komisariat STISIP Tasik Ajak Masyarakat untuk Berhemat

0

Keterangan Foto : Aditya Sujana, Sekretaris Komisariat PMII STISIP Tasikmalaya

Pewarta : Tono Efendi

Koran SINAR PAGI, Kta Tasikmalya,- Pasca Presiden Jokowi Mengumumkan Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) pada Sabtu (6/9/2022) jam 14.30 WIB kemarin, tentunya keputusan orang nomor satu Indonesia tersebut menimbulkan pro dan kontra ditengah masyarakat Indonesia. Kenaikan harga BBM ini tentunya akan berimbas kepada naiknya tarif pada angkutan umum.

“Kenaikan harga BBM ini tentunya akan berdampak kepada kesulitan ekonomi masyarakat kita. Apalagi BBM sebagai urat nadi dari transportasi, oleh karenanya pemerintah sebaiknya segera melakukan operasi pasar pada awal terjadi kenaikan harga BBM ini. Sebab kenaikan BBM tentunya akan berimbas pula kepada barang-barang pokok yang akan ikut ikutan naik seperti beras dan minyak goreng, karena bisa saja akibat dampak kenaikan tersebut kita khawatir akan terjadi kelangkaan barang barang pangan sembako tadi,” Ungkap Aditya Sujana sekretaris PMII komisariat STISIP Tasikmalaya, saat bincang bincang dengan Koran Sinar Pagi, Minggu (7/9/2022) siang.

Menurut Aditya, sebaliknya dalam menetapkan kenaikan harga BBM, pemerintah melakukannya secara bertahap dan jangan disertai kenaikan harga komoditi-komoditi strategis lain seperti tarif dasar listrik (TDL), sembako, dan tarif transportasi.

Dengan kenaikan harga BBM tadi, masih kata Dia, pemerintah harus bisa memberikann subsidi pada komoditi tersebut, dan diperlukan upaya untuk mendapatkan subsidi dari BBM yakni dengan mencari bahan bakar alternatif.

“Harga minyak dunia yang melejit, bengkaknya anggaran subsidi, negara produsen dan tensi global lalu disusul ICP masih tinggi dan itu adalah alasannya mengapa pemerintah menaikan harga BBM naik,” kata Aditya menambahkan.

Oleh karena itu, Aditya menyarankan kepada masyarakat dalam menyikapi kenaikan harga BBM ini, tentunya masyarakat Indonesia saat ini harus memperhatikan dan mengurangi pengeluaran yang sifatnya konsumtif.

“Mari kita melatih diri untuk membiasakan budaya hemat, lalu menggunakan mode transportasi non BBM, misalkan sewaktu-waktu bisa dengan bersepeda atau berjalan kaki bagi yang masih kuat dan bugar,” ajaknya.

Dengan cara cara tadi, selain bisa menghemat pengeluaran juga membuat tubuh kita menjadi sehat dan bugar. Lalu usahakan mengurangi kegiatan keluar rumah untuk urusan yang tidak penting. Misalkan mengatur waktu belanja atau rekreasi yang lebih berkualitas, imbuhnya.

Aditya juga menyarankan, didalam situasi sulit seperti ini, untuk memperbanyak pertemuan dengan anggota keluarga. Semakin sering kita meluangkan waktu dengan keluarga semakin baik hubungan batin dan komunikasi diantara anggota keluarga kita.

Bahkan Aditya memberikan masukan juga kepada para pejabat publik dipenerintahan, dimana dengan situasi seperti ini, untuk kiranya di dinas dan instansi agar ikut berhemat.

” Bagi lembaga sektor pemerintahan dengan mengurangi perjalanan dinas ke luar kota apalagi melakukan pertemuan atau rapat rapat di hotel berbintang. Dan ini tentunya sangat berpengaruh dalam inflasi nasional, perekonomian di Indonesia secara teori kebijakan fiskal ekspansif yang dilakukan dengan peningkatan pengeluaran pemerintah tanpa terjadinya peningkatan sumber pajak sebagai sumber keuangan negara. Sehingga hal ini akan mengakibatkan defisit anggaran,” tuturnya.

Jika pengeluaran pengeluaran tadi tidak ditekan, akibatnya akan timbul inflasi yang mempengaruhi subsidi BBM tidak tercover dengan baik. Bukan kah tujuan utama dilakukanya defisit anggaran adalah dalam rangka mencapai pembangunan, termasuk untuk pemerataan pendapatan masyarakat dan meningkatkan daya beli masyarakat, tanya Aditya.

“Bagaimana cita-cita pemulihan ekonomi bangsa kita ketika hal yang tidak diinginkan terjadi baik dari kalangan masyarakat dan pemerintah. Lalu bagaimana caranya kita menyongsong pulih bersama bangkit lebih hebat,” pungkasnya. (***)