OPINI/Artikel

Ketika Diujung Hidung

adminsigiku.com
×

Ketika Diujung Hidung

Sebarkan artikel ini

Oleh : Dudung Nurullah Koswara

Manusia adalah makhluk terunik dan paling menarik dikaji. Tidak pernah selesai kajian tentang manusia. Manusia adalah entitas jelimet dan mumet dalam hal tertentu. Hal Malaikati dan Syeitanik pun bisa menjelma dalam diri manusia.

Manusia selain dirinya multitalenta juga multidosa. Banyak keunggulan dan kebaikan dalam diri manusia yang bisa bermanfaat bagi sesama manusia yang lain. Banyak pula dosa-dosa yang biasa dilakukan Sang Manusia.

Manusia agak sulit refleksi tentang dirinya, kecuali orang-orang tertentu. Namun kebanyakan manusia baru sadar, reflektif dan menyesal saat nafas sudah diujung hidung. Ketika nafas sudah “lowbat” diujung hidung, baru semua tentang hidup jadi tak menarik.

Hampir semua manusia lupa diri, diri lupa terkait hidupnya. Padahal semua manusia pasti akan menjemput tua, sakit dan mati. Tua, sakit dan mati ini adalah hal pasti dan pasti pula semua manusia tak menginginkannya.

Dalam sebuah perjalanan Saya pernah membaca sebuah tulisan di sebuah truk yang melintas jalan. Tulisannya berbunyi “Jadikan Dunia Jalan Akhirat Mu”. Sebuah pesan moral agar kita semua jangan terlalu priority dunia. Ingat akhirat yang abadi.

Hidup di dunia memang asyik, bagi hampir semua orang, terutama yang dunianya sejahtera. Namun hidup di dunia ini punya batas, batas nafas yang berada diujung hidung. Tanpa nafas dari hidung, hidup kita berakhir.

Pesan moral dari truk yang melintas semoga bisa memberikan spirit reflektif bagi kita semua. Hidup di dunia ditentukan “hirupan nafas dihidung” kita. Dunia masih butuh hidung untuk hidup. Akhirat tak butuh hidung dan nafas lagi.

Ada “Alat Vital” yang menentukan hidup kita berlangsung atau tidak di dunia ini. Diantaranya adalah bagaimana jantung, paru-paru, mata, telinga dan alat vital lainnya. Di akhirat kesemuanya tidak penting dan tak dibutuhkan. Betapa dunia sangat ditentukan “Alat Vital”.

Di akhirat “Alat Vital” itu adalah “jejak digital” dari iman dan manfaat hidup kita saat di dunia. Di dunia kita bisa hidup dengan jantung, paru-paru dan alat vital tubuh lainnya. Di akhirat kita bisa “hidup” dengan jejak iman dan amal soleh saat hidup di dunia.

Tidaklah heran Sang Sopir Truk mengingatkan, “Sebelum nafas diujung hidung dan lepas, jadikan dunia sebagai jalan menuju akherat yang abadi”. Walau pun ada yang berkomentar, “Jadikan Mainset Akhirat Sebagai Energi Positif Hidup di Dunia”.