Liputan Khusus

Membangun Generasi Keluarga Ekonomi Rendah, SMA Terbuka Perlu Tambahan Modal

adminsigiku.com
×

Membangun Generasi Keluarga Ekonomi Rendah, SMA Terbuka Perlu Tambahan Modal

Sebarkan artikel ini

Pewarta: Dwi Arifin

Koran Sinar Pagi  (Kota Bandung)-, Sekolah Menengah Atas atau SMA Terbuka yang diprioritaskan bagi generasi bangsa yang tidak memiliki banyak waktu untuk bersekolah atau biaya pendidikannya.

Kepala SMA Terbuka SMA Sebelas Maret Kota Bandung, Komariah S.Pd menyampaikan siswa yang bersekolah di SMA Terbuka ini 95% mereka adalah dari keluarga ekonomi tidak mampu/rendah. “Mereka ingin lebih baik dari keluarganya atau memperbaiki ekonomi kesejahteraan keluarganya di masa depan. Melalui proses pendidikan dan kepemilikan ijazah atau keahlian yang diterimanya diharapkan dapat mempermudah memiliki pekerjaan, tambahan penghasilan atau berwirausaha,” jelasnya saat wawancara khusus bersama media cetak dan online Koran Sinar Pagi di ruang kerjanya (4 Januari 2023)

Menurutnya setelah menyempatkan berkunjung ke rumah orang tua atau siswanya. Kondisi mereka banyak yang jadi tulang punggung keluarga selama masa pandemi, namun mereka tetap ingin melanjutkan jenjang pendidikannya. Sehingga memilih bersekolah di SMA Terbuka yang dilaksanakan setiap sabtu-minggu.

“Ada murid yang menjadi pedagang, kalau sabtu minggu jualannya rame. Padahal itu jadwal sekolah, maka pihak guru memberikan waktu khusus untuk belajar di hari biasa setelah berdagang. Kalaupun siswa tidak masuk sekolah atau ikut belajar daring, itu karena tidak punya ongkos atau kouta internet,”katanya

Komariah S.Pd juga mengungkapkan saat ini jumlah siswa SMA Terbuka yang ada di dapodik sekolahnya totalnya 110 siswa. “Alhamdulillah hampir semuanya lulus dapat ijazah, kalau dilihat dari setiap angkatan sebelumnya,” ungkapnya guru biologi yang sempat menjadi kepala PKBM di Cibaduyut

Saat ditanya perihal pembiayaan layanan pendidikan SMA Terbuka. Komariah menjelaskan selama ini bersumber dari BPMU dari APBD Jabar, BOS dari pemerintah atau subsidi dari Yayasan. Sehingga siswa tidak dipungut biaya atau gratis sekolahnya.

“Kami juga ingin memberikan pelatihan keterampilan bagi mereka agar setelah lulus ada keahlian seperti sekolah kejuruan. Tetapi untuk biaya pengajar atau sarana belajarnya itu perlu modal tambahan. Bahkan untuk bekerjasama dengan lembaga pelatihan kerja /LPK atau mengundang pengajarnya, tidak bisa disebabkan tidak ada biayanya. Padahal kalau ada uangnya melalui program itu akan meningkatkan kualitas lulusannya,” ucapnya

Berdasarkan data kelulusan, apabila siswa memiliki Kartu Indonesia Pintar, pihak sekolah akan mengarahkan atau membimbing untuk masuk perguruan tinggi sesuai keminatannya. Tapi tidak semua memiliki kesempatan itu, karena data siswa yang diajukan untuk memperoleh kartu itu, tidak semuanya diakomodir / disetujui untuk menjadi penerima manfaat kartunya.

Sebagian lagi siswa yang lulus bercita-cita menjadi wirausaha, namun terkendala modalnya. Pihak sekolah berharap, jika mereka sudah lulus sebaiknya dibantu untuk permodalannya, karena banyak yang ingin berwirausaha setelahnya.

Selain itu para pengajar SMA Terbuka seharusnya lebih diperhatikan agar mendapatkan honor yang lebih. Misalnya dinaikan jadi Rp.200 ribu permata pelajarannya. Sebab mereka mengorbankan waktu luang bersama keluarganya atau waktu libur weekendnya untuk mendidik generasi bangsa yang menjadi tanggung jawabnya.

http://www.koransinarpagijuara.com/2022/12/22/dak-222-miliar-dievaluasi-disdik-jabar-fkss-jabar-harapkan-30-prioritaskan-swasta/

http://www.koransinarpagijuara.com/2022/12/21/sambut-ramadhan-2023-disdik-jabar-libatkan-pelajar-memakmurkan-masjid-al-jabbar/

https://www.koransinarpagijuara.com/2022/06/26/media-cetak-diprediksi-lebih-menyehatkan-akal-pikiran-dibandingkan-media-sosial/