Pewarta: Dwi Arifin
Koran Sinar Pagi (Kabupaten Bandung)-, Sebagai upaya meningkatkan kualitas pengajaran Al-Qur’an di Lingkungan Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Taman Kanak- Kanak Al-Qur’an (LPPTKA), DPD BKPRMI Kab Bandung, menyelenggarakan “Pelatihan dan Bimbingan Hafalan Al-Qur’an Sekaligus Ujian Syahadah Al-Qur’an” berlangsung pada Jum’at (3 Febuari 2023). Bertempat di Gedung Ormas Soreang
Acara yang di selenggarakan dua hari, Jum’at dan Sabtu (3-4 Februari 2023), ini dibuka oleh Kasi PD Pontren Kementrian Agama Kabupaten Bandung, H. Syaripudin, M.Ag, dan dalam sambutannya beliau menyampaikan pesan “Khoirukum man ta’alamal Qur’aana wa allamah”. Sebaik baiknya kalian adalah orang yang memperajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.
Dalam laporannya, Direktur Daerah LPPTKA, H. Deden Hidayat, S.Ag, mengatakan kegiatan ini bertemakan “ Menjaga Amanah dengan merawat Tradisi dan merespon Modernisasi”. Bahwa LPPTKA berkomitmen menjaga Amanah dari Almaghfurlah KH. As’ad Humam, untuk melestarikan karya Monumental beliau yang mewakafkan Metodologi IQRO untuk LPPTKA-BKPRMI.
Ujian kali ini sengaja kita laksanakan di Kabupaten Bandung dengan mendatangkan langsung tim Munaqisnya dari Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Nasional AMM Yogyakarta sebanyak 8 orang yang di pimpin oleh Ustad Roihan Afandi, S.I.P, untuk menguji para Ustad / Ustadzah sebanyak 243 pengajar Se-Kabupaten Bandung.
Dalam sambutannya, Ketua umum DPD BKPRMI Kabupaten Bandung, H. Cecep Irfan Hilmi, S.Pd.I, sangat mengapresiasi dan memberikan penghargaan yang setinggi tingginya kepada Dirda LPPTKA dan jajarannya. Karena telah berupaya menyelenggarakan acara Pembinaan dan Ujian Syahadah ini. Apalagi sudah menjadi agenda rutin setiap tahunnya, artinya DPD BKPRMI terus menyiapkan kualitas sesuai standarisasi kemampuan para Ustadz Ustadzah dalam mengajarkan Al-Qur’an bagi para Santri TKA TPA dan TQA.
Selain itu juga memberikan Motivasi terhadap 234 peserta Ujian Syahadah al-Qur’an, bahwa dengan ujian, seseorang bisa berefleksi diri dan menyadari kekurangan dan kelemahannya. Sehingga terpacu untuk meningkatkan kualitas diri dan meraih prestasi yang lebih tinggi. Al-quran menjelaskan bahwa hakikat kehidupan dan kematian ini merupakan ujian dalam rangka verifikasi, tentang siapa di antara manusia yang paling baik kinerjanya.
“Tanpa ujian, manusia cenderung tidak mau belajar dan mengambil hikmah. Karena itu, ujian apa pun, termasuk ujian Syahadah ini, harus disikapi secara positif, penuh keinsafan, kebersyukuran, dan kesediaan untuk belajar.
Sesungguhnya, ujian yang sukses itu adalah ujian untuk belajar, bukan sebaliknya belajar untuk ujian. Jika ujian dimaknai untuk belajar, maka siapa pun yang berkesadaran seperti itu pasti selalu berkomitmen untuk ikhlas, serius, dan sabar dalam belajar. Sebaliknya, jika belajar diniati untuk ujian, maka belajar itu akan berakhir dengan berakhirnya ujian. Belajar hanya untuk bisa menjawab soal-soal ujian, bukan untuk menjadi modal intelektual dan mental spiritual untuk meraih kemajuan dalam kehidupan,”jelasnya kepada para peserta yang hadir.
H. Cecep Irfan Hilmi, S.Pd.I, mengingatkan perihal ujian dalam proses pembelajaran itu biasa dan wajar, karena semua proses kehidupan, termasuk pembelajaran, menghendaki adanya ujian. “Allah SWT menegaskan bahwa setiap orang beriman pasti diuji. Dengan ujian, kualitas seseorang dapat dinilai,” ucapnya
Menurut sebuah pepatah Arab. “Melalui ujian, seorang itu dimuliakan atau menjadi terhina”.
Oleh sebab itu, ujian harus dimaknai sebagai sarana untuk meraih kemuliaan, bukan kehinaan. Orang mulia pasti berusaha mempersiapkan diri dengan belajar secara sungguh-sungguh, maksimal, berdoa, dan bertawakal kepada Allah SWT. Saat ujian, dia akan menjalaninya dengan penuh keyakinan, kepercayaan diri, kesabaran, dan kejujuran. Ujian untuk belajar adalah warisan spiritual dan etos intelektual para nabi. Semua nabi dan rasul Allah itu pernah diuji dengan aneka cobaan hidup sebagai pelajaran berharga.
Nilai kehidupan jauh lebih berharga daripadai nilai kuantitatif karena hidup ini tidak cukup hanya dijalani dan diselesaikan dengan angka-angka kelulusan ujian. Ujian menghendaki kesabaran. Sedangkan, kesabaran merupakan kunci kesuksesan, baik dalam proses pembelajaran maupun dalam realitas kehidupan. Wallahu a’lam bish shawab!
Media Cetak Diprediksi Lebih Menyehatkan Akal Pikiran Dibandingkan Media Sosial

