Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Praktisi Pendidikan)
PGRI adalah organisasi profesi guru terbesar di Indonesia. Tidak ada organisasi profesi guru yang lebih besar secara jumlah dan pengalaman dibanding PGRI di negeri ini. PGRI punya kekuatan luar biasa untuk melakukan perubahan dan transformasi pendidikan Indonesia bila digerakan dengan baik.
PGRI pasca Ketua Umum Unifah Rosyidi tentu membutuhkan kader-kader baru untuk menggantikannya di tahun 2024. Unifah Rosyidi dengan segala kelebihan dan kekurangannya sudah membawa PGRI dalam tiga fase, periode kepemimpinan.
Pertama fase periode Plt. di Rakornas, Maret 2016 di Hotel Milenium Jakarta. Fase periode kedua pada pemilihan hasil Konferensi Nasional pada Januari 2017 di Medan. Fase periode ketiga pada Kongres PGRI tahun 2019 di Jakarta.
PGRI adalah organisasi guru yang moderen. Faktanya adalah seorang perempuan pun bisa memimpin dan dipilih menjadi ketua umum. PGRI organisasi yang mengutamakan kompetensi kepemimpinan dalam organisasi. Imam atau Amir di PGRI boleh perempuan.
Unifah Rosyidi pada faktanya telah memimpin “tiga periode” yakni pertama saat Plt 2016, kedua saat dipilih di Medan tahun 2017 dan ketiga saat dipilih di Kongres 2019, AD/ART organisasi membolehkan pemimpin perempuan atau laki-laki.
AD/ART PGRI esensinya hanya “melarang” pemimpin atau Ketua Umum PB PGRI bila melintasi belasan tahun. Ini amanah dan esensi AD/ART, kalau kita dalami dengan baik, artinya Ketua Umum PB PGRI tidak boleh melintasi dua periode apalagi bila seorang Ketua Umum PB PGRI bisa belasan tahun.
Unifah Rosyidi tentu seorang pemimpin yang berilmu dan memahami esensi AD/ART yang “melarang” kepemimpinan belasan tahun. Ia seorang profesor, pasti memahami AD/ART. Bila Ia mencalonkan diri di Kongres tahun 2024, bila terpilih berarti akan memimpin belasan tahun.
Unifah Rosyidi tentu ingin tercatat dalam sejarah sebagai Ketua Umum PB PGRI yang sukses dengan melahirkan kader terbaiknya di Kongres tahun 2024. Bila dirinya malah mencalonkan diri, sama artinya Ia menghendaki Ketua Umumn PB PGRI berkuasa belasan tahun yang “terlarang” dalam AD/ART.
Pertanyaannya, siapakah kader Unifah Rosyidi yang akan Ia dukung ? Sebagaimana Presiden Jokowi tidak mungkin tiga periode. Unifah Rosyidi pasti pemimpin yang waras, pasti Ia tidak akan mencalonkan diri. Pasti Ia punya kader. Seperti Jokowi, pasti Ia punya kader.
Unifah Rosyidi bila mencalonkan diri menjadi aneh. Ia sama dengan setuju kepemimpinan belasan tahun di PGRI. Kedua, ada apa kok mencalonkan lagi, apa motivasinya ? Ketiga dipastikan Ia tidak akan menang. Mengapa ? Karena masa kepemimpinannya sudah lama. Kontroversial dan minus prestasi.
Plus kebatinan guru, para pengurus PGRI ingin ada pemimpin baru. Pemimpin baru yang bagaimana ? Datang dari pengurus daerah, tidak kontroversi dengan pemerintah, tidak otoriter dan saatnya giliran pemimpin pria memimpin agar lebih rasional jauh dari emosional dalam mengurus PB PGRI.











