OPINI/Artikel

Gubernur dan Bupati Saling Nyinyir, Saling Sentil

adminsigiku.com
×

Gubernur dan Bupati Saling Nyinyir, Saling Sentil

Sebarkan artikel ini

Oleh : Sri Mulyani (Guru SD di Kab. Bandung)

Aksi “saling sentil” antaran Gubernur Jawa barat dengan Bupati Bandung mendapat sorotan warga net. Hal ini bermula ketika Ridwan Kamil mengomentari sebuah unggahan Instagram, unggahan itu berisi  pernyataan Dadang yang akan mengusulkan rencana pembangunan plyover Bojong soang. Dalam pernyataannya, Dadang menganggap Ridwan Kamil terlalu fokus pada pembangunan di kota Bandung dibandingkan wilayah kabupaten Bandung. Unggahan itupun langsung mendapat tanggapan dari Ridwan Kamil menurutnya usulan tersebut seharusnya bisa dilakukan dengan baik-baik dan didahului dengan kajian. Dadangpun kemudian ikut merespons jawaban RK di akun pribadinya. Selain berbalas komentar dari kedua orang penting di Jabar itu, unggahan tersebut juga dibanjiri komentar beragam dari warga net. Menanggapi hal itu, analisa komunikasi politik universitas Paramadina Hendri Satrio menyayangkan sikap keduanya yang menyampaikan persoalan melalui media sosial, menurutnya baik RK maupun Dadang harus memperbaiki komunikasinya satu sama lain. (www.kompas.com)

Kondisi seperti ini tentu tidak bagus dalam roda kehidupan bernegara, memperlihatkan kinerja rezim yang tidak menampakan hubungan yang baik dan harmonis antar pemimpin daerah, negara dengan sistem kapitalisme demokrasi memang mustahil menghasilkan pemimpin yang satu visi misi dengan rakyat, bijak, dan adil sebagaimana aturan Alloh, Sang Maha Pencipta dan pemilik manusia, kehidupan, alam semesta beserta isinya. Sistem kapitalisme demokrasi hanya akan menjadikan pemimpin sebagai pengatur bukan “periayah” yang memiliki tanggung jawab penuh atas nasib rakyatnya.

Jika sistem ini terus dipertahankan mustahil kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan bisa secara penuh dirasakan rakyat. Yang ada justru kegaduhan demi kegaduhan, kesempitan demi kesempitan yang terus membelenggu. Kondisi ini terbukti, dari berbagai negara yang menerapkan sistem kapitalisme demokrasi tidak ada satupun yang melahirkan sebuah tatanan kehidupan negara yang berkah dan sejahtera. Problem sosial, ekonomi, keamanan akan terus ada. Contoh nyata saat ini, sekelas negara adidaya AS pun tidak ada tanda sukses mengelola warganya, bahkan tiga dari lima warga Amerika berkata negara mereka mengalami resesi (bbc.com). Maka jika benar-benar ingin terbebas dari kegaduhan dan permasalahan butuh meninggalkan sistem kapitalisme demokrasi yang merupakan biang kegaduhan.

Terapkan Syariah dalam sebuah sistem Islam secara amanah pasti mendatangkan keberkahan dan kegaduhan akan pergi dari negeri ini. Memang tidak semudah membalikan telapak tangan, butuh kesadaran seluruh komponen bangsa khususnya umat Islam, semisal para tokoh, ulama, intelektual dan militer untuk bersama – sama menyatukan visi dan misi perubahan yang jelas, yaitu perubahan menuju sistem berkah (Islam).

Wallahu a’lam bish-shawab