Oleh : Sumiati (Ibu Rumah Tangga)
Hari Raya Idul Fitri selalu ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang merantau untuk mudik ke kampung halamannya. Namun acara mudik tersebut kerap diwarnai dengan berbagai kecelakaan lalulintas. Bahkan Korlantas Polri mencatat 273 kecelakaan terjadi pada Hari Raya Idul Fitri 1444 H, Sabtu (22/4). Total 30 orang meninggal dunia akibat sejumlah peristiwa tersebut.
Jika ditotalkan dengan periode 18-21 April berjumlah 933 kejadian, maka kecelakaan selama enam hari Operasi Ketupat total 1.206 kecelakaan. Dilansir dari Merdeka.com.
Idul Fitri yang seharusnya menjadi momen bahagia, tetapi dengan banyaknya kecelakaan yang terjadi menjadikan momen tersebut berubah duka. Tingginya angka kecelakaan setiap mudik disebabkan beberapa faktor. Selain faktor yang disebabkan oleh manusia seperti kelalaian, kecerobohan dan kelelahan, ada faktor yang ikut berkontribusi sebabnya kecelakaan seperti kondisi jalan yang rusak, kondisi kesehatan kendaraan, tidak berfungsinya marka, rambu, dan masih banyak lagi.
Meski pemerintah sudah berusaha meminimalisir, tetapi kecelakaan saat mudik kerap terjadi. Ini disebabkan karena pengelolaan sarana transportasi dalam sistem kapitalisme diserahkan kepada pihak korporasi. Negara berlepas tangan dari pengelolaan tersebut dan hanya sebagai regulator. Maka wajar ketika infrastruktur jalan yang rusak hanya diperbaiki seadanya.
Kecelakaan yang kerap terjadi saat mudik tidak boleh dipandang sebagai rutinitas tahunan yang diantisipasi seadanya. Sistem kapitalisme telah gagal dalam menyediakan sarana transportasi yang aman, nyaman dan murah. Karena itu rakyat membutuhkan sistem alternatif yang terbukti mampu memberikan pelayanan transportasi yang baik. Sistem itu tidak lain adalah sistem Islam warisan Rasulullah saw., yang diterapkan selama kurang lebih 1300 tahun lamanya.
Islam akan memberikan pelayanan yang terbaik dalam sarana transportasi. Syariat menetapkan bahwa Daulah Islamiyyah sebagai negara memiliki fungsi untuk mengurus urusan rakyat.
Rasulullah saw. bersabda, “Imam atau penguasa adalah rain dan penanggung jawab urusan rakyatnya.” (HR. Bukhari).
Maka urusan mudik akan sangat diperhatikan oleh Islam. Tradisi mudik bukan hanya sekedar tradisi tahunan, namun lebih dari itu. Tradisi mudik dipandang sebagai aktivitas birrul walidain dan silaturahmi. Maka dari itu Islam memiliki strategi agar momen mudik tidak terjadi banyak kecelakaan;
Pertama, pembangunan infrastruktur adalah tanggung jawab negara. Negara wajib membangun infrastruktur yang baik, bagus dan merata sampai ke pelosok negeri. Berkaca pada masa pemerintahan Khalifah Umar al Farouq, beliau menyediakan pos dana khusus di Baitul Mal untuk mendanai infrastruktur, khususnya jalan dan prasarana. Karena rakyat berhak menikmati pasilitas itu.
Kedua, Daulah Islamiyyah memiliki prinsip bahwa perencanaan wilayah yang baik akan mengurangi kebutuhan transportasi. Contohnya di Baghdad, ketika dibangun sebagai ibukota, setiap bagian kota direncanakan. Sehingga hanya jumlah penduduk tertentu yang menghuninya. Prasarana sangat lengkap seperti masjid, sekolah, area komersial, industri jalan, pemakaman, bahkan pembuangan sampah, sehingga penduduk tidak perlu menghabiskan waktu menempuh jarak yang jauh untuk pulang. Apalagi keluarga-keluarga di masa Daulah Islamiyyah hidup tiga generasi dalam satu lingkungan.
Ketiga, negara membangun infrastruktur publik dengan standar teknologi mutakhir, sehingga berpadu antara teknologi navigasi, telekomunikasi fisik jalan, termasuk alat transportasi yang digunakan.
Inilah strategi yang digunakan oleh Daulah Islamiyyah pada waktu itu dalam mengatasi urusan mudik.
Wallahu’alam bishshawab
