Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Dewan Pembina PGRI Kota Sukabumi)
Sangat terlihat dengan jelas pers rilis PB PGRI tidak menjawab secara normatif dan esensial. Mereka berkumpul namun tidak berhasil menjawab apa yang menjadi mosi tidak percaya.
Tidak menjawab, malah “menjauh” dari esensi mosi tidak percaya. Narasi yang terbaca malah provokatif, menghakimi, premanik dan menstigma tim 9 yang merupakan pengurus PB yang sah.
Tim 9 PB PGRI adalah pengurus PGRI yang sah dan legitimet. Mereka tidak kena mosi, tidak kena mental. Mereka punya nama baik. Beda dengan Ketum PB PGRI yang kena mental karena mosi tidak percaya.
Ketum PB PGRI pasti tak nyaman saat dapat sopir yang digaji dari iuran anggota. Dapat kendaraan ratusan juta terkait iuran anggota. Punya staf dan fasilitas karena iuran anggota.
Sementara sebagian anggota dari berbagai provinsi dan kokab memberi mosi tidak percaya. Ini akan membuat kena mental Ketum PB PGRI. Ketum pra dan pasca mosi, tentu beda.
Kemana pun Sang Ketum PB PGRI melekat dalam dirinya Ketum yang kena mental karena dimosi. Sebelumnya para Ketum PB PGRI tidak ada yang dimosi. Ini cacat sejarah kepemimpinan.
Kalau Sang Ketum punya adab, rasa malu dan hati yang penuh rasa bersalah atas adanya mosi, Ia akan segera mengundurkan diri. Bila tidak? Gelar Sang Pemimpin tak punya malu akan melekat.
Ungkapan bijak mengatakan Adab Diatas Ilmu. Adab dan rasa malu itu penting. Dalam ajaran agama dikatakan Malu Sebagian Dari Iman. Bila tak punya malu, malah maju terus, ada masalah dengan iman dan etika.
Kita pun sebagai anggota yang bayar iuran tentu sudah tak nyaman punya Ketum PB PGRI yang sudah kena mental. Jalan terbaik, selamatkan guru, PGRI dan segera Sang Ketum mundur. Demi kebaikan rumah guru.











