Semua Karena Unifah Rosyidi

0

Oleh : Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd.
(Dewan Pembina PGRI Kota Sukabumi)

Sejumlah orang yang belum pernah menjadi pengurus atau dipercaya terpilih di tingkat kecamatan, ko/kab dan provinsi, saat berada di PB PGRI sebagai staf, narasinya unik dan menggelitik.

Apapun realitas PGRI saat ini, mulai dari puja puji, caci maki, provokasi, asasinasi, munafikin, oportunis, mempertahankan jabatan yang telah ditunjuk Unifah Rosyidi, wajar.

Ungkapan bijak mengatakan, “Ekor mengikuti kepala”, “Tidak ada prajurit yang salah”, “Pimpinan adalah penangggung jawab”. Semua orang yang saat ini terbelah, pro kontra adalah asbab Unifah Rosyidi.

Mengapa zaman Bapak Basyuni Suriamiharja, Prof. Surya, Dr. Sulistiyo saat menjadi Ketua Umum PB PGRI tidak ada mosi dan tidak ada perpecahan? Kembali pada bawaan Sang Pemimpin, Ratu Bohong.

Kebohongan akan menemukan sialnya. Faktanya, kita semua hari ini terbawa “sial”, sial sesama angota, pengurus PGRI terbelah. Saya DNK tidak menyalahkan saudara-saudara Ku yang jadi buzzer Unifah Rosyidi.

Saya paham, anda butuh mempertahankan jabatan dan pekerjaan. Tidaklah mengapa, ada sejumlah guru menyerang guru, buah adu domba Unifah Rosyidi. Saya tidak akan menyerang guru. Saya hanya mengingatkan Sang Pemimpin yang bermasalah.

Dalam pikiran Saya. Sesama anggota PGRI yes! PGRI yes! Guru-guru yes!, Unifah Rosyidi no!, Saya mencintai Bapak Dudung Abdul Qodir, Bapak Catur, Bapak Jaya, Bapak Sumardiansyah, Bapak Melki, Bapak Cornelius, Bapak Om Jay, mereka masa depan PB PGRI pasca Unifah Rosyidi. Saya sayang anda semua.

Bahkan Bu Widya yang cantik sebagai staf penyebar info PGRI. Bu Tiya yang cantik dan semuanya, Saya mencintai mereka, Saya hanya menyayangkan kepemimpinan Unifah Rosyidi yang sangat bermasalah. PB PGRI saat ini sedang terbelah.

Mulai dari PB PGRI, ada Tim 9, PGRI Provinsi dan Kokab ada Mosi, sampai ke ranting, Unifah Rosyidi “berhasil” membelah PGRI. PGRI saat ini sedang terbelah. Gara-gara siapa ? Gara-gara Bu Widya, Bapak Catur, Bapak Sumardiansyah, Bapak Jaya ? Bukan, mereka hanyalah pengikut. Jangan salahkan mereka.

Bukan, bukan karena prajurit, semua karena kepemimpinan yang bermasalah. Kita pribadi, kepribadian kita, yang paling tahu adalah pasangan hidup kita. Saya yang bodoh ini, yang paling tahu adalah istri Saya tercinta.

Istri, suami, anak, tetangga, tempat kita kerja dan dimana kita berada lebih tahu siapa kita dan kedhaifan kita. Integritas, komitmen dan kompetensi kita, setidaknya akan jadi tampilan kita. Termasuk dalam organisasi.

Plus dimana ASN/non ASN kita bekerja. Disitulah siapa kita ? Bila seorang guru. Pernahkan menjadi guru berprestasi ? Bila organisatoris PGRI, pernahkah terpilih menjadi ketua, atau pengurus yang dipilih, mulai ranting sampai ke PB, misal ?

Mari kita semua bersatu kembali. Love semuanya, love guru, love PGRI. Saran Saya, “Bu Unifah Rosyidi pernah menjadi “teman” paling dekat di PGRI, segeralah mundur, demi anggota, pengurus, agar PGRI tidak terbelah”.

Hidup guru! Hidup PGRI! Solidaritas yes! Unifah Rosyidi no! Saya doakan Unifah Rosyidi, sehat selalu, mampu menjadi akademisi dan tokoh pendidikan nasional kelak. Di PGRI sudah cukup. Terimakasih Bu Unifah Rosyidi.