Oleh Entin hayatin (Ibu Rumah Tangga)
Peringatan Hari Keluarga Nasional (Hasganas) ke-30 tahun 2023 menjadi momentum tersendiri bagi pemerintahan kabupaten Bandung dalam upaya penurunan angka stunting hal itu diungkapkan oleh Kepala dinas (P2KBP3A) Muhammad Hairun saat konfirmasi melalui telpon selulernya, kamis (6/7/2023).beliau menyampaikan peringatan Harganas digunakan untuk mensosialisasikan dan mengoptimalisasikan pungsi keluarga di Kabupaten Bandung khususnya dan di Indonesia pada umumnya, mengoptimalkan delapan pungsi keluarga, yaitu: agama, sosial budaya, cinta kasih, melindungi, reproduksi, pendidikan dan ekonomi sehingga akan mewujudkan masyarakat yang berkualitas, yang sehat untuk Indonesia kuat. Dan pada waktu yang samapun Kabupaten Banyuasin Sumatra Selatan memperingati Harganas yang disampaikan oleh sekertaris DP2KBP3A Dra Ida farida-,M.M.menyampaiakan pentingnya arti keluarga terhadap upaya memperkuat ketahanan Nasional.
Berdasarkan data survey status gizi Indonesia (SSGI) kasus stanting di Kabupaten Bandung menurun 6,1% yaitu dari 31,1% di tahun 2021 menjadi 25% di tahun 2022, dan ditahun 2023 ditargetkan hingga 18%, dan 2024 menjadi 16% dari target Naaional 14%.
Stunting menjadi permasalahan yang tak kunjung bisa diselesaikan sampai saat ini, sebab upaya yang diyakini sebagai solusi penurunan stunting sama sekali tak menyentuh akar permasalahannya. Sejatinya persoalan utama stunting ada pada ketidaktersediaan akses pangan saat ini, sehingga masyarakat tidak mampu untuk memenuhi gizi. Selain itu, inflasi dan PHK yang menimpa yang mengakibatkan menurunnya daya beli masyarakat akan kebutuhan yang harus dipenuhi.
Sebagaimana kita ketahui, saat ini harga-harga kebutuhan pokok kian melambung tinggi sehingga kondisi ekonomi masyarakat kian tercekik. Sungguh jelas terlihat jika permasalahan stunting saat ini semakin genting, angka kemiskinan ekstrem, seperti mengakses kebutuhan dasar (sandang, pangan, papan), akses air bersih, fasilitas sanitasi, kesehatan, pendidikan, dan lainnya.
Kemiskinan adalah persoalan yang tidak akan pernah dapat diselesaikan oleh sistem hari ini. Ini karena sistem ekonomi kapitalisme yang diterapkan hari ini lahir dari lemahnya akal manusia. Sistem ini juga yang menjadikan kekayaan terkonsentrasi pada segelintir elite saja. Mayoritas rakyat yang tidak memiliki kekuatan akan tersendat kebutuhan hidupnya. Lalu, bisakah target penurunan stanting hanya dengan sosialisasi tanpa perealusasian yang pasti?
Jika telah jelas ekonomi kapitalisme mustahil menyelesaikan permasalahan, tentu solusinya tidak bisa sekadar pada tataran teknis program pemerintah. Ini karena apa pun programnya, jika kerangkanya masih menggunakan sistem ekonomi kapitalisme, bukan rakyat yang menjadi orientasi kebijakan, melainkan hanya keuntungan semata.
Walhasil, perlu adanya sistem ekonomi alternatif untuk menyelesaikan problem kemiskinan dan stunting. Tentu sistem ekonomi Islamlah yang akan mampu menyelesaikan persoalan tersebut. Sistem ekonomi Islam mampu menyelesaikan persoalan kemiskinan dan stunting
Yang paling utama adalah adanya peran negara. Peran negara begitu sentral dalam distribusi kekayaan. Negara wajib menjamin seluruh kebutuhan dasar umatnya. Negara akan benar-benar mensensus warganya, memastikan para kepala keluarga bisa menafkahi tanggungannya, sekaligus menyediakan lapangan pekerjaannya. Jika kepala keluarga dan kerabatnya tidak sanggup menafkahi, negara wajib membantu warganya untuk bisa memenuhi kebutuhan dasarnya. Kebutuhannya pun harus layak, perumahan, pakaian, termasuk pangannya, semua harus layak konsumsi dan bergizi. Dari sini, permasalahan stunting bisa terselesaikan.
Oleh karenanya, menyelesaikannya harus dengan mengganti paradigma sistem kapitalisme menjadi sistem ekonomi Islam yang diterapkan secara dalam bingkai Khilafah Islamiah. Dengan demikian, akan tercipta masyarakat sejahtera dan anak-anaknya pun tercukupi gizinya. Inilah yang jaminan terlahirnya generasi cemerlang yang siap memimpin peradaban Islam yang gemilang.
Wallahu’alam bisshawab











