OPINI/Artikel

LPG Kembali Langka, Rakyat Kritis

2
×

LPG Kembali Langka, Rakyat Kritis

Sebarkan artikel ini

Oleh : Aan Amanahtia (Ibu Rumah Tangga)

Sebagaimana kita pahami beberapa hari yang lalu umat dihebohkan dengan pembelian BBM bersubsidi dengan aplikasi My pertamina, kini terulang kehebohan LPG “melon” dengan langka dipasaran dan mahal.

Berbicara problematika subsidi, selama ini pemerintah mengklaim bahwa banyak bantuan yang juga dinikmati kalangan menengah ke atas, termasuk BBM dan LPG “melon”, dengan itu perlu ada pengaturan yang tepat.

Dengan demikian pengalaman selama ini, peraturan yang diterapkan pada pembelian BBM bersubsidi menjadikan umat makin sulit dan kritis mendapatkannya.

Dengan LPG “melon” hal serupa bisa terjadi. Sekarang belum terasa, karena masih dalam tahap uji coba. Namun tidak menutup kemungkinan jika tidak ada jaminan tentang kondisi seterusnya jika peraturan tersebut sudah berlaku. Berbagai kemungkinan bisa juga terjadi.
Belum lagi jika barang langka, sudahlah harga mahal, stok pun tidak ada, tentunya umat semakin kritis tentunya akan menambah daftar kesulitan negeri ini.

Dengan demikian, kebijakan ini membuat umat tidak menerima haknya. Subsidi hanya diperuntukan bagi rakyat kecil, dan pedagang kaki lima.
Sedangkan masyarakat menengah keatas tidak mendapatkan nya.

Padahal mereka sama-sama umat negara ini. Apalagi, disaat tengah kondisi ekonomi yang kian tidak menentu. Tidak menjamin masyarakat selalu memiliki keuangan yang aman.

Adapun cara kerja pemerintah dalam mengatur berbagai hal dalam kebijakan memenuhi hajat umatnya memperlihatkan bahwa mereka hanya berperan sebagai regulator saja.
Bahkan, pemerintah menjadi fasilator dengan memfasilitasi para investor mengelola SDA.
Minyak bumi dan gas banyak yang dikuasai asing.

Dengan demikian, sebagai umat yang baik, apalagi kita sebagai muslim yang taat, sudah menjadi kewajiban beramal makrup nahi mungkar, saling mengingatkan. Jangan sampai kebijakan keputusan mendzolimi rakyat kian kritis. Sebagai rakyat sejatinya sudah berkewajiban kita untuk menunjukan kebenaran pengurusan umat. Dalam hadis diriwayatkan,

“Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api.
” (HR Abu Dawud dan Ahmad)
Hadis di atas menunjukan bahwa rumput, air, dan api adalah harta milik umum. Haram diprivatisasi, apalagi membiarkan asing mengelolanya. Negara wajib mengelola sendiri dan hasilnya untuk kepentingan rakyat. Baik diserahkan berupa barang olahan.

Oleh karena itu, rakyat membutuhkan gas untuk memenuhi kebutuhan memasak. Sejatinya dalam islam yang menjadi prioritas adalah rakyatnya. Oleh karena itu, rakyat perlu beramal makrup nahi mungkar, menyadarkan negara untuk mewujudkan syariah islam agar setiap pengurusan bisa dilandaskan islam.

Wallahu a’lam bishawab.