Self Disclosure Sebagai Upaya Self Branding di Sosial Media

0
281

Oleh : Ulfah Siti Khoeroni
(Mahasiswa Fakultas Komunikasi dan Informasi Universitas Garut)

Setiap manusia membutuhkan pengakuan potensi diri untuk menunjang karir di masa yang akan datang. Dalam menggali dan meningkatkan potensi tidak cukup diungkapkan di depan cermin kamar saja, melainkan membutuhkan pengakuan dan keabsahan dari lingkungan sekitar, baik secara langsung dan intim atau dibuka dalam forum publik.

Upaya mengungkapkan diri kepada orang lain melalui transaksi komunikasi disebut juga self disclosure atau pengungkapan diri.
Berdasarkan informasi yang diberikan oleh (Wood, 2012) Self Disclosure adalah pengungkapan informasi mengenai diri sendiri yang tidak diketahui oleh orang lain. Individu membuka diri ketika individu tersebut.

Teori self disclosure ini telah dijelaskan oleh Johari Luft dan Harrington Ingam melalui modelnya yang menyerupai jendela sehingga dinamakan Johari’s Window Theory terdapat empat area jendela komunikasi yang digunakan untuk memahami diri sendiri, hubungan dengan orang lain, memaksimalkan komunikasi, dan mengatur kinerja.

Pertama, Open Area adalah informasi yang diketahui orang lain dan diri sendiri, contohnya informasi tentang diri seperti nama, warna kulit, lempar senyum, tegur sapa dan terbuka dengan diri, area ini sangat menunjang efektivitas komunikasi.

Kedua, Blind Spot sebagai area yang tidak diketahui oleh diri sendiri namun diketahui oleh orang lain, contohnya, ketika seorang mahasiswa memiliki kemampuan komunikasi kognitif yang baik tetapi dia tidak menyadarinya, padahal hal itu akan sangat membantu posisinya sebagai mahasiswa, kemudian dosen menyadari hal itu dan mendukung mahasiswa tersebut untuk mengasah kemampuan tersebut.

Ketiga, Hidden Area, daerah ini merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri, tetapi tidak diketahui oleh orang lain. Biasanya hal-hal yang disimpan di kuadran ini bersifat sangat pribadi atau rahasia yang disembunyikan kepada orang lain.

Namun apabila seseorang dapat memperlebar kuadran ini, maka terjadilah proses self disclosure, Contohnya, sebagai anak, tentu kita memiliki cita-cita dan keinginan untuk masa depan kita, tidak sedikit orang tua yang mendikte harus anaknya berprofesi sebagai A, B, C dan lain-lain, namun melalui self disclosure terhadap orang tua sang anak bisa mengungkapkan cita-cita yang dimilikinya, dengan harapan memiliki feedback yang diinginkan.

Keempat, Unknown Area, area yang tidak diketahui self ataupun others. Daerah ini merupakan bagian yang merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang tidak diketahui, baik oleh diri kita sendiri ataupun oleh orang lain.
Informasi yang tenggelam di alam bawah sadar atau sesuatu yang luput dari perhatian.

Namun pada dasarnya Luft dan Ingham berpendapat bahwa memperbesar daerah ini merupakan hal yang menyenangkan dan memuaskan, contohnya saat awal awal pandemi, banyak orang yang berdiam di rumah, melakukan eksperimen memasak, dirinya sendiri tidak yakin bahwa dia bisa memasak, sama halnya dengan orang lain, tidak yakin bahwa dia bisa, namun kenyataannya dia bisa memasak, akhirnya potensi itu muncul.

Salah satu keuntungan utama dari pengungkapan diri di masa sekarang adalah untuk membangun self branding yang menjual guna mendukung pendidikan dan profesi yang sedang dikejar.

Uoaya self branding bisa dilakukan secara pribadi melalui sosial media yang aktif digunakan, baik itu platform Tiktok, Instagram, Youtube, Facebook, Twitter atau bahkan platform terbaru meta yaitu Threads.

Melalui sosial media, self bisa memberikan informasi tentang dirinya melalui cara berikut ini, menulis pos atau status di platform sosial media self dapat berbagi perasaan, pemikiran, atau pengalaman sehari-hari yang ingin dibagikan dengan orang lain melalui keterangan postingan.

Berbagi gambar dan video dapat menjadi cara yang kuat untuk melakukan self disclosure, kita dapat membagikan momen-momen penting dalam hidup, seperti liburan, acara khusus, atau pencapaian.

Menggunakan fitur story dengan berbagi konten yang lebih sementara dan ringan. Menggunakan hashtag atau kutipan yang relevan untuk menggambarkan perasaan atau pemikiran diri, hal ini dapat membantu kita terhubung dengan orang-orang yang memiliki pengalaman atau pandangan serupa.

Berinteraksi dalam komentar atau diskusi tentang topik yang pribadi atau relevan dengan pengalaman diri dapat membuka peluang untuk self disclosure.

Berbagi sumber inspirasi, seperti berbagi informasi buku, artikel, musik, atau karya seni yang telah mempengaruhi atau menginspirasi diri, hal ini dapat memberikan wawasan tentang kepribadian dan minat kita kepada orang banyak.

Dari semua cara dalam mengupayakan self disclosure untuk upaya self branding, sebenarnya kita telah melakukan itu semua, akan tetapi lebih rinci dikenalkan sebagai upaya self disclosure.

Melalui postingan konten, story, hastag, komentar, berbagi referensi, dan lain-lain dapat mencerminkan self branding kita. Maka dari itu menggunakan sosial media dengan untuk self branding adalah hal yang tepat dan tidak lepas dari informasi yang dibagikan sesuai dengan yang kita alami serta bijak dalam berbagi informasi mana yang layak atau tidak untuk dibagikan.