Pembentukan KIM Pelajar

0
315

Oleh : Ai Sumiati (Ibu Rumah Tangga)

Di zaman sekarang ini tidak ditampik lagi bahwa kehidupan manusia saat ini sangat berhubungan dengan media sosial. Media sosial memegang peranan penting di hampir setiap lini masyarakat. Mulai dari mengirim pesan, berbagi informasi sampai mencari informasi yang sedang hangat di masyarakat. Jadi, tidak heran kalau media sosial dijadikan sebagai kebutuhan tidak terkecuali para pemuda atau pelajar.

Pemuda layaknya kertas putih bersih yang bisa diisi tinta apapun. Informasi yang datang kepadanya akan mudah di serap, sehingga sangat wajar para pemuda mudah terprovokasi dan akan mempengaruhi kehidupan mereka, apalagi kalau informasi tersebut adalah informasi yang kurang baik.

Maka dari itu Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Persandian dan Statistik Kabupaten Bandung mencanangkan untuk membentuk Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) berbasis pelajar pertama di Indonesia. Dilansir dari Bisnis.com, BANDUNG.

Hal tersebut didasarkan pada apa yang terjadi dikalangan para pelajar yang menjadikan media sosial sebagai aktivitas yang menjadi sumber masalah di masa depan. Berbagai macam contoh yang diakibatkan dari informasi tersebut adalah berita bohong (hoaks), cyberbullying, penipuan, eksploitasi seksual dan lain sebagainya.

Kepala Diskominfo Kabupaten Bandung Yosep Nugroho berharap pembentukan KIM berbasis pelajar ini bisa mencegah penyebaran hoaks dan potensi masalah digital lainnya di lingkungan pendidikan. Dengan menekankan pentingnya 4 pilar digital dalam bermedia sosial. Yakni kemampuan (skill) digital, budaya (culture) digital, etika (ethics) digital, dan keamanan (safety) digital yang perlu dikuasai generasi muda agar menjadikan media sosial sebagai wadah aman, sehat, dan produktif.

Para pemuda terutama para pelajar, mereka adalah generasi yang tumbuh dengan ponsel pintar di tangan mereka yang memiliki akses ke internet berkecepatan tinggi, dan terbiasa dengan dunia yang terhubung secara digital sejak usia dini. Ini membuat mereka memiliki kecenderungan untuk mengadopsi dan menikmati teknologi baru ini, sehingga dapat mempengaruhi kehidupan dilingkungan tempat mereka hidup.

Media sosial juga bisa berpengaruh mengurangi kemampuan para pemuda untuk berinteraksi secara sosial dengan orang lain, sehingga sangat wajar akan terjadi berbagai kejahatan. Sebagai umat yang beriman, kita bertanggung jawab besar dalam melindungi mereka dari bahaya yang diakibatkan dari media sosial tersebut.

Generasi muda berpotensi sangat besar untuk menjadi pemimpin dan pelopor peradaban masa depan. Mereka adalah harapan bagi kemajuan sebuah bangsa. Dalam Islam, pemuda adalah kekuatan yang memiliki energi untuk membawa perubahan dalam masyarakat. Namun, potensi ini terancam oleh media sosial yang kurang baik.

Seharusnya para pemuda memanfaatkan media sosial sebagai sesuatu yang memungkinkan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mereka untuk menjadi pemimpin di masa depan. Sayangnya, mereka tidak melakukan hal itu.

Semua masalah yang terjadi pada para pemuda saat ini diakibatkan oleh sistem pendidikan yang diterapkan. Pendidikan saat ini adalah berdasarkan asas sekularisme dimana agama dijauhkan dari kehidupan. Di dalam pendidikan saat ini tidak menekankan pentingnya ketakwaan. Yang terjadi adalah pendidikan liberal yang tidak terikat pada aturan-aturan Allah SWT. Dengan begitu mereka bebas melakukan apa saja yang mereka inginkan.

Yang lebih utama adalah tidak adanya kontrol dari negara terkait media yang masuk. Tidak cukup hanya dengan pembentukan KIM berbasis pelajar kalau negara tidak menyaring setiap aplikasi yang ada di media sosial. Sebagai bukti, maraknya aplikasi judi online, game online yang itu bisa merusak mental para pelajar.

Berbeda halnya dengan Islam, karena para pemuda adalah generasi masa depan yang akan melanjutkan perjuangan, maka Islam sangat menjaga mereka. Dalam sistem pendidikan, Islam senantiasa mengedepankan ketakwaan. Para pemuda dibentuk dengan akidah Islam yang akan memperkokoh ketakwaan mereka.

Begitupun dengan informasi yang masuk kedalam negara Islam, negara akan menyaring setiap informasi yang masuk. Sehingga akan meminimalisir kejahatan dan perbuatan yang kurang baik.
Pendidikan Islam juga akan membentuk pemuda dengan syakhsiyah Islamiyyah (kepribadian Islam) yang terbentuk dari pola pikir (aqliyah) Islam dan pola sikap (nafsiyah) Islam. Bukan hanya menekankan yang 4 pilar diatas, tapi semua akan terbentuk dengan sendirinya kalau sistem yang diterapkan adalah sistem Islam. Wallahu’alam bishshawab.