Oleh : Dudung Nurullah Koswara
(Praktisi Pendidikan)
Ibu guru yang satu ini sa’at seleksi CPNS langsung lulus. Saat menjadi guru, selalu menjadi guru terfavorit. Selalu mendapatkan hadiah di hari guru.
Ibu guru ini pun menjadi guru berprestasi di kotanya. Ia pun menjadi yang terbaik sa’at mengikuti diklat LPPKS. Ia pun menjadi narsum penulisan jurnal.
Ia pun menjadi kepala sekolah muda terbaik dari kotanya. Walau belum menjadi kepala sekolah terbaik di provinsi. Hal menarik, Ia pun memberi kesempatan pada guru lain untuk menjadi kepala sekolah.
Caranya? Ia mengundurkan diri dari jabatan kepala sekolah. Ia mengatakan ingin kembali menjadi guru. Dekat dengan anak dan mengajar adalah pashionnya.
Baru saja satu semester menjadi guru, di HGN internal sekolahnya, Ia pun dapat penghargaan sebagai bagian dari guru terbaik, versi kepala sekolah dan sejawatnya.
Ia menulis sejumlah buku dan menulis opini di media cetak. PTK dan PTS adalah hal biasa yang Ia buat. Hal administratif baginya bukan hal sulit. Bahkan sejumlah hasil administrasinya di “ATM” sejumlah orang.
Ia sangat jauh dari malas mengajar dan mendidik. Selalu menjadi guru yang datang paling pagi di sekolah dan selalu hadir di kelas, tepat waktu dan tepat jam.
Ia pun selalu dicintai anak didiknya. Bahkan sejumlah anak didik yang pernah diajar dan dididiknya (alumni), kadang bertemu untuk nostalgia. Ia traktir anak didiknya.
Walau demikian, Ia merasa sangat beruntung dan masih kurang dedikatif pada dunia pendidikan. Terbukti, suatu sa’at Ia meneteskan air mata.
Mengapa meneteskan air mata? Sa’at Ia dapat rapelan TPG menjelang Hari Raya Idul Fitri. Ia katakan, “Ya Allah terimakasih, terimakasih juga pemerintah”.
Sa’at Ia setelah menerima rapelan TPG. Ia pun berkata, “Sungguh beruntung para guru dapat TPG, namun sungguh merugi pemerintah bila guru yang dapat TPG malas malas mengajar”.
Baginya menjadi guru adalah sebuah kehormatan luar biasa. Menjadi guru adalah ibadah terbaik, mendidik dan mengajar, plus dibayar. Menjadi guru adalah ibadah terbaik yang dibayar negara.
Walau demikian Ia pun adalah guru dan manusia biasa. Pasti sangat banyak kekurangan dan kebodohannya. Banyak orang lain yang menurutnya jauh lebih pintar, termasuk dalam hal lainnya.
Sahabat pembaca, siapa pun boleh mengaku sebagai guru yang baik dan terbaik. Namun hanya anak didik yang tahu persis apakah kita adalah guru terbaik bagi mereka?
Hal yang baik bagi para guru adalah “berlomba” menjadi guru favorite versi anak didik. Hal yang buruk adalah disapresiasi atau iri pada guru yang dekat dengan anak didik.
Sehebat-hebatnya guru adalah versi anak didik, bukan versi kepala sekolah atau atasan lainnya. Guru terbaik bekerja karena suka, hobi dan bangga menjadi guru. Bukan guru penunai kewajiban mengajar.
Guru terbaik lainnya adalah bukan hanya guru yang pinter dihadapan anak didik. Melainkan pintar dan menjadi rujukan pengetahuan bagi publik/masyarakat.
Bukan guru kalau tidak lebih pintar dari anak didik dan masyarakat sekitar di mana Ia tinggal. Jadilah guru sejatinging guru, bukan guru ASN atau guru pekerja biasa.
