Jalan Rusak, Islam Punya Solusi

0
249

Oleh : Sri Mulyani Awaliyah (Guru SD di Kab. Bandung)

Warga Kampung Ciseureuh, Desa Narawita, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, protes jalan di sepanjang kampungnya belum juga diperbaiki. Warga pun membuat spanduk dengan tulisan bernada protes terhadap pemerintah.  Spanduk tersebut dipasang warga di sepanjang Jalan Raya Narawita. Terdapat tiga buah banner berukuran cukup besar di sepanjang jalan rusak tersebut.

Bahkan, foto-foto spanduk bernada protes itu sempat menyebar dan viral di Instagram beberapa waktu lalu. Pantauan di lapangan, ketiga spanduk berisi tulisan protes tersebut sudah tidak terpasang. Hanya menyisakan kayu-kayu penyangga spanduk di beberapa titik. Kendati begitu, kondisi jalan masih rusak. Jalan rusak terlihat sejak kantor desa hingga ke jembatan, lalu jalan protokol yang kerap digunakan warga untuk beraktivitas. (bandungkompas.com)

Pengguna jalan merasa kecewa dengan pemungutan pajak yang masih berlangsung hingga saat ini. Namun kenyataannya, masih saja ada jalanan yang rusak hingga berbulan-bulan.

Jika saja pemimpin mau belajar dari sejarah. Salah satu kisah masa Kekhilafahan Umar bin Khattab adalah beliau selalu merasa khawatir jikalau ada hewan atau keledai (yang dikenal bodoh karena sering terperosok atau terperangkap di lubang yang sama) terluka akibat jalanan di Irak yang berlubang. Hal ini disebabkan Umar ra. yakin bahwa Allah Swt. akan bertanya, “Mengapa tidak engkau sediakan jalan yang rata?”

Jika Umar saja takut kalau hewan terluka, bagaimana dengan nyawa manusia yang di dalam Islam sangat berharga? Ingat! korban jiwa akibat kecelakaan saat ini adalah manusia, bukan keledai . Dan ini seringkali terabaikan. ini adalah realitas bukan sekedar ketakutan yang tidak beralasan. Ingat pula Umar bin Khattab ini bukan hebat tersebab dirinya sendiri, akan tetapi karena keislamannya. Yaitu sistem Khilafahnya. Bukan pula seperti penguasa saat ini yang rusak bukan semata karena kesalahan dirinya sendiri, tapi juga sebab sistemnya, yaitu sistem kapitalis sekuler.

Dalam asas sekuler ini, jalan dipandang hanya sebatas infrastruktur yang mesti dikelola, sebab menjadi bagian penting dalam dunia industri dan sebagai penyedia jasa layanan publik saja. Paham ini mengenyampingkan aturan agama sebagai sistem kehidupan. Sehingga, jalan yang menjadi roda transportasi adalah kebutuhan masyarakat yang urgen. Dalam pandangan Islam, infrastruktur dan  pelayanan publik adalah tanggung jawab pemerintah secara penuh.

Artinya, infrastruktur pembangunan dan perbaikan jalan menjadi salah satu jaminan pemeliharaan pemerintah demi melayani masyarakat agar kesejahteraannya terpenuhi. Kebutuhan rakyat akan transportasi dan jalanan yang baik itu dijamin dan dipermudah, bukan dipersulit dengan diabaikannya kondisi jalan berlubang ataupun dengan mahalnya harga tiket tol.

Pemenuhan pelayanan ini hanya mampu terpenuhi jika sistem ekonominya diatur oleh sistem ekonomi Islam. Islam akan memanfaatkan sumber daya alam untuk kesejahteraan masyarakat. Fasilitas-fasilitas umum yang dibangun pun dikelola oleh negara dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat.

Rasulullah Saw. bersabda yang artinya: “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka” (HR. Ibnu Majah dan Abu Nuaim). Dalam riwayat lain, Rasulullah Saw. juga bersabda, “Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus” (HR. Bukhari).

Tinta emas peradaban Islam mencatat masa Kekhilafahan Umayyah dan Abbasiyah, yaitu di sepanjang rute perjalanan Irak dan Syam ke Hijaz. Khalifah membangun banyak pondokan gratis lengkap dengan persediaan air, makanan dan tempat tinggal untuk memudahkan perjalanan para pelancong. Pada masa Khilafah Utsmani juga diberikan jasa transportasi gratis kepada masyarakat yang akan bepergian dengan berbagai keperluan menggunakan kereta api yang telah disiapkan oleh Khalifah.

Inilah yang seharusnya seorang penguasa lakukan. Mereka tidak akan memikirkan diri sendiri dan keuntungan pribadi atau kelompoknya saja. Namun, juga berpikir bagaimana caranya agar rakyat bisa terlayani dengan baik. Sayangnya, kehidupan saat ini sangat jauh dari nilai dan aturan Islam. Hal ini menyebabkan para penguasanya menganggap kekuasaan itu sebagai keuntungan yang tidak boleh disia-siakan.
Mereka menganggap kekuasaan menjadi lebih penting dari sekadar memikirkan tanggung jawab besar sebagai pemimpin. Para penguasa seperti ini, hendaknya merenungi sabda Rasulullah Saw. berikut: “Jabatan (kedudukan) itu pada permulaannya penyesalan, pertengahannya kesengsaraan dan akhirnya adalah azab pada hari kiamat” (HR. Ath-Thabrani).

Wallahu a’lam bish-shawab.